
Apa maksudnya? Aster mengkerutkan dahi ke arah Pangeran Aedes. Anak itu? Mungkinkah adiknya Pangeran? Aster meneguk saliva susah.
Jelmaan elang barusan pergi setelah mengucapkan kata-kata yang sepertinya peringatan. Ah, kalau tidak salah lihat elang hitam ketakutan saat dirinya mendadak berubah menjadi manusia. Seolah dia berubah wujud tanpa kehendaknya sendiri.
Pangeran Aedes menatap tajam di mana manusia elang tersebut lenyap di ujung lorong. Baru saja Aster ingin bernapas lega, malah datang lagi seekor hewan kecil bersayap yang tak diundang. Mata Aster membulat sempurna tatkala benda berbulu halus membelah kegelapan dan hampir menerjang wajahnya.
Dia memekik saking terkejut, "Aaak!"
Terasa kepala bagian belakang didorong oleh Pangeran Aedes supaya gadis di sampingnya membungkuk. Alhasil hewan tak jelas tersebut gagal mengenai Aster.
Alih-alih kembali menyerang. Hewan itu hanya berbalik untuk terbang ke wadah lampu lilin yang dipasang di atas Aster. Ia menggantungkan diri dengan menguatkan cengkeraman cakar mungilnya ke wadah lilin yang terbuat dari pipihan besi.
"Wah, kelelawar?" kagum Aster diselingi nada tanya. Gadis bermata madu itu mendongak tanpa mengedipkan kelopak matanya. Gerakan kepala serta bunyi kelelawar pun terlihat imut dan terdengar menggemaskan. Tapi, bagaimana bisa ada kelelawar di sini?
Makanan kelelawar adalah buah-buahan, serangga, dan tanaman. Sedangkan di Istana Apung tidak Aster jumpai buah-buahan. Bahkan tanaman pun tidak tertanam dengan baik di halaman Istana.
Pangeran Aedes mendengkus kesal. Ia tanpa aba-aba menyeret gadis itu agar berhenti menatap hewan ganas tadi. Melihat perlakuan Pangeran, tentu saja Aster mampu menebak bahwa kelelawar barusan bukanlah kelelawar sembarangan. Bisa jadi salah satu saingan atau musuh Pangeran Ketujuh, tetapi anehnya kelelawar tadi tidak berbicara seperti manusia elang dan si kupu-kupu, Pangeran Danaus.
Malam harinya, Aster tidak menyangka bahwa perjalanan ke kamar Pangeran Aedes akan penuh mara bahaya seperti ini.
"Kyaaa!" teriak Aster saat punggungnya didorong masuk. Lututnya terjerembab di atas lantai marmer kasar yang jauh dari kata putih. Pintu tertutup hingga menghasilkan bunyi debuman. Di luar kedua Pangeran tengah bertarung sebab memperebutkan darah Aster.
Ayolah! Aster tidak merasakan sakit meski hampir sekujur tubuhnya bersimbah darah. Salah satu kulit bahunya terkelupas sebab gigitan kelelawar tadi. Hewan itu paling ganas di antara makhluk lain yang terus bermunculan tanpa henti.
Sepertinya kehadiran Aster telah membangkitkan hasrat mereka akan darah. Aster mengembuskan napas, lalu menatap ke sekeliling ruangan yang tampak kuno. Tempat ini jauh berbeda dari tampilan kamar saat di mimpi simulasi. Jelas gadis itu masih ingat peralatan makan yang terbuat dari perak lantai marmer putih yang halus. Sedangkan yang Aster lihat sekarang hanya perabotan kamar yang sudah tua namun kokoh. Seolah sudah bertahun-tahun sengaja tidak diganti. Peralatan makan pun terbuat dari emas murni dengan ukiran yang sangat klasik.
Tetapi anehnya cermin di kamar ini masih jernih. Dari jarak lima meter, Aster dapat melihat pantulan iris matanya yang berkilau. Cermin di Istana Bunga tentu tidak sejernih ini.
Beberapa darah mengalir di pipi serta leher Aster. Itu pasti menyakitkan andaikata dia bisa merasakannya.
Ceklek!
Pintu terbuka oleh seorang pemuda kusut. Rambutnya acak-acakan dan beberapa bagian wajahnya tergores, ah, tidak. Sebuah cakaran!
"Anda baik-baik saja?" tanya Aster khawatir.
Keduanya sama-sama dilumuri darah. Sebenarnya Aster risih kalau melihat cairan merah sebanyak itu apalagi tidak berhenti mengalir. Namun darah yang sudah mengering terasa menjijikkan. Aster merasakan lengket di mana-mana. Ingin sekali ia mandi berendam ekstraksi kembang mawar.
"Kau sudah makan?" Dia balik bertanya. Aster mengernyit. Mereka terluka karena pergi ke ruang makan. Awalnya suasana masih sepi seperti biasa. Di meja panjang dengan banyak menu lengkap hanya terdapat dua orang yang menduduki kursi. Beberapa menit setelahnya, mulai terjadi penyerangan dan hal itu memicu pengganggu lain. Sebenarnya Aster belum menyendok nasi sesuap pun. Untuk sekarang ia tak begitu lapar, tetapi juga tidak kenyang.
"Pangeran, saya belum makan apa-apa sejak tadi siang. Namun, Anda boleh menghisap darah saya. Mungkin saya hanya akan pingsan sekitar dua atau tiga hari," ucap Aster seakan tak peduli. Padahal ia sedang takut setengah mati.
Laki-laki tersebut menggeleng kuat. Matanya kembali hitam. Ah, tidak. Matanya merah lagi. Ia tengah berusaha menekan rasa laparnya. Mendekatkan wajah ke bahu kanan Aster yang terdapat luka yang masih basah. Pangeran menjulurkan lidah sehingga Aster sedikit tersentak.
"Itu bukan leher saya."
Pangeran Aedes tetap menggerakkan lidahnya membersihkan sisa-sisa bercak merah dari yang basah hingga yang sudah mengering sampai benar-benar bersih. Gerakannya semakin naik ke batas tengkuk. Lelaki tersebut berhenti sejenak. Kesadarannya hampir pulih. Ia melihat gadis di depannya meneguk saliva dengan susah payah. "Kau takut?"
"Haha, tidak. Jika dipikir lagi, akan lebih baik kalau Anda menghisap darah saya dan saya pingsan daripada Anda yang kelaparan lalu tak sadarkan diri."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena akan lebih repot jika Anda yang pingsan. Nanti siapa yang menjaga saya? Saya terlalu lemah untuk melindungi diri saya sendiri."
"Hmm." Pangeran Aedes menjauhkan wajahnya. Lalu memandang luka-luka yang menghias kulit Aster dengan mengerikan. "Sepertinya aku perlu memanggil seseorang dari Negeri Tabib dan menjadikan 'mereka' pelayan."
Dahi Aster berkerut. "Mereka siapa?"
"Kau tidak ingat? Tentu saja dua orang merepotkan, sepasang adik-kakak, yaitu Putri Ketiga dan Putri Kelima."
"Oh. Saya yakin mereka akan sangat membantu kalau mau datang ke sini. Mengingat penduduk Istana Apung pernah mengusirnya terang-terangan."
"Tidak berguna."
Aster mendongak bingung.
Pangeran Aedes mengembuskan napas lelah. Ia berjalan menghampiri ranjang, kemudian menjatuhkan diri di sana dengan telentang. Dia terlihat letih. Bahkan tidak sempat melepaskan sepatu atau membilas tubuhnya yang kotor.
Aster merendahkan pandangan ke lantai marmer berwarna gelap. Sesuatu mengkilap seperti jejak darah yang memantulkan cahaya lilin di bekas jalan Pangeran. Jejak tersebut menetes dari pintu.
"Pangeran Ketujuh, apa Anda baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi dengkuran yang pasti dibuat-buat. Entahlah. Aster duduk di kursi samping kasur. Gadis itu tidak bisa tidur karena beberapa hal. Pertama, ia dalam kondisi lengket yang seharusnya mandi. Tetapi tidak ada toilet di kamar Pangeran Aedes. Kedua, perutnya lapar. Ia perlu memenuhi lambungnya dengan banyak makanan kalau ingin tidur nyenyak.
"Huft ..." Aster meniup poni rambut sambil menopang dagu pada lengan kursi. Ia menatap wajah Pangeran Aedes yang tengah memejamkan mata. Lihatlah, bulu lentik dan alis tebal bak idol Korea.
Ah, Korea, ya. Aster merasakan bulu kuduknya berdiri. Baru saja ia melupakan dari mana dirinya berasal. Aster menoleh ke arah pintu kamar yang tampak horor. Ia harus keluar dari dunia ini, secepatnya.