
Luka di leher Pangeran menghilang tanpa bekas. Penyembuhan seperti ini bahkan melebihi kemampuan dari Negeri Tabib. Sejenak Pangeran Ketujuh meneguk ludah, memikirkan jika kekuatan langka yang dimiliki Aster diketahui dunia luar, pasti mereka akan berlomba-lomba mendapatkan gadis ini.
Aster sedikit merinding dengan tatapan sosok di hadapannya. Badan bersih tanpa luka maupun noda merah, tetapi pakaian berlumuran darah. "Eumm, sebaiknya Anda mengganti baju," ucapnya tak enak.
Pangeran Ketujuh mengangguk. Lantas membuka lemari berisi pakaian. Ia mengambil beberapa setelan dari sana, kemudian melemparkan salah satunya ke arah Aster. Untung saja gadis itu cepat tanggap.
"Kau juga harus ganti," kata Pangeran Aedes, dengan nada perintah.
Aster menaikkan kedua alis. "Di sini?"
"Terserahmu kalau mau ganti di luar," jawab Pangeran Ketujuh seraya membuka atasannya.
Aster pun membalikkan badan agar tidak melihat tubuh Pangeran. Jantungnya hampir copot. Kini di hadapannya adalah pintu, tetapi dia khawatir bahaya apa yang menunggunya di luar. Sebenarnya siapa sih yang mendesain kamar Istana tanpa kamar mandi di dalamnya?
"Sa-saya ganti di sini saja," ujar Aster. "Dan oh ya Anda dilarang menoleh!"
"Kau melarangku?" tanya Pangeran Ketujuh seolah terkejut. Ia menoleh ke arah Aster yang tidak berani menghadap ke belakang.
"Astaga, mana mungkin saya berani! Anda salah dengar, kok, tadi saya memohon agar Anda tidak menoleh. Hanya itu," balas Aster dengan nada manis yang dibuat-buat.
Pangeran Ketujuh mendecih, kemudian berdehem sebagai tanda persetujuan. Tentu saja bukan seorang "pangeran" namanya kalau sungguh-sungguh menuruti permohonan si Putri Tumbal.
Pangeran Ketujuh melihatnya berganti pakaian tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Awalnya, ia kesal karena larangan Aster. Pangeran Ketujuh pun sengaja melihat dia berganti pakaian hanya untuk melanggar larangan tersebut. Namun begitu tampak luka memar dan bekas pukulan di area punggung Aster, matanya sedikit terbuka.
Padahal gadis itu bisa menjadi penyembuh bagi orang lain, anehnya tidak bisa menyembuhkan diri sendiri.
***
"Astagfirullah ... Kenapa kita kembali ke sini lagi, sih?" keluh Putri Ketiga usai kemampuan angin yang tidak asing membawanya ke kamar mencekam ini.
Di pinggir kasur terlihat sosok Aster menaikkan kedua alis, bingung. "Kalian ngapain ke sini?"
Tanpa menjawab pertanyaan Aster, Putri Ketiga dari Negeri Tabib menghampiri gadis itu. "Anda terluka lagi, ya?" Ia bertanya.
Aster menggeleng. Namun Putri Ketiga dan Cycy melayangkan tatapan tak percaya sambil melirik tangan kanan Aster yang sudah diperban.
"Ini tidak sakit. Pangeran Ketujuh sudah mengobati sa—" Detik berikutnya, ia teringat dengan luka yang disebabkan oleh Pangeran Danaus. Spontan gadis itu menaikkan sisi roknya agar ujung kakinya terlihat. "Ah, aku melupakan luka yang satu ini, tapi ini juga tidak sakit, sungguh."
Putri Ketiga menghembuskan napas. Dengan gerakan gesit, ia menuangkan cairan berharga kedua. "Tahan, mungkin ini akan terasa agak perih."
Aster tersenyum. Pasalnya ia tidak lagi bisa merasakan sakit pada tubuhnya. Entah keberuntungan atau kutukan, seringkali hal itu membuat Aster tidak sadar bahwa dirinya sedang terluka.
"Terima kasih, Putri Ketiga dan Cycy."
"Sama-sama. Kami juga sangat berterima kasih kepada Putri Aster. Karena dengan menolong Anda seperti ini, Pangeran Ketujuh akhirnya mau membantu mendapatkan izin penelitian bagi kami berdua mengenai wabah penyakit Istana Apung. Jadi kami tidak perlu tinggal di Istana Bunga lagi." Putri Ketiga sampai membungkuk penuh hormat.
"Terima kasih." Bahkan Cycy pun berterima kasih? Aster syok untuk sesaat, lantas menyuruh mereka berdua bangun.
"K-kalau begitu, baguslah! Ayo bangun. Artinya kalian akan tinggal di sini, kan?" tanyanya canggung.
Putri Ketiga memandang Cycy dengan perhatian. "Sayangnya tidak. Cycy kesulitan menghadapi tekanan roh jahat yang mendiami Istana ini. Dia bisa mati cepat kalau tinggal di sini."
"Cycy sendiri sudah tahu segalanya. Jika bahaya itu tidak terlihat seperti roh jahat, di mana ancaman itu hanya bisa dirasakan oleh Cycy. Saya sadar kemampuan saya tidak cukup dalam menjaga kekuatan internalnya," sela Putri Ketiga.
Cycy mendongak, menggenggam tangan berkeringat dingin milik Putri Ketiga. "Kakak, ayo pergi."
Aster tidak punya alasan untuk menahan mereka berdua agar tetap tinggal. "Iya, kalian harus keluar secepatnya."
"Sebentar, ini adalah salep khusus yang dapat menghilangkan memar dan luka lebam lainnya. Pangeran Ketujuh mengatakan punggung Anda penuh warna, jadi—Kyaaa!"
Sebelum melanjutkan ucapannya, Putri Ketiga serta Cycy tiba-tiba terseret oleh angin yang tampak familier. Mereka pun menghilang meninggalkan Aster dengan wajah semerah beri. "A-apa ...?"
"KURANG AJAR!" teriaknya, entah kepada siapa. Dan teriakan Aster terdengar oleh semua penghuni Istana Apung.
Di sisi lain, Pangeran Ketujuh reflek menutup telinga.
"Hahaha, lucu sekali!" Kini gelak tawa Putri Ketujuh yang mengisi kesunyian meja makan.
Pangeran Ketujuh sudah lama tidak mendengar adiknya tertawa. Biasanya dia memasang wajah murung, sedih, dan menangis. Kehadiran Aster nyatanya membuat gadis di depannya menjadi lebih hidup. Bahkan ketika pertama kali bertemu Aster, Putri Ketujuh terlihat antusias.
"Omong-omong kakak itu terlihat manis saat mengenakan gaun merah," ujarnya sambil tersenyum.
Gaun merah?
Aster memakai gaun merah tadi malam. Sedangkan malam hari adalah waktu di mana roh adiknya tertidur dan tergantikan oleh roh Putri Ketujuh yang sebenarnya.
Pangeran Ketujuh menatap kedua mata sang putri beberapa detik. "Jangan memanggilnya 'kakak'. Dia hanya jiwa baru," ralatnya.
Putri Ketujuh membulatkan mata. "Serius? Ah ... selama ini aku memanggil dia dengan sebutan lebih tua karena aku mengira tubuhnya saja yang muda, tapi bagaimana Kakak bisa tahu? Informasi gadis itu bahkan tidak ada di buku."
"Bukankah kamu yang memanggil gadis itu ke sini?" tanya Pangeran balik membuat Putri berhenti mengunyah.
Ternyata mata Pangeran sudah sangat merah, pertanda bahwa dirinya sedang marah. Ini terlalu menyenangkan bagi Putri Ketujuh. Gelak tawanya kembali terdengar. "Haha, kau cepat juga ya sadarnya. Astaga, tahukah bagaimana tampangmu sekarang?"
"Aku tidak peduli," jawab Pangeran Ketujuh. Tanpa sadar tangannya mencengkeram hingga memutih.
"Pfft, sangat mengerikan! Adikmu pasti lari terbirit-birit kalau melihatmu yang sekarang."
"Apakah adik saya masih hidup?"
Ingin sekali Pangeran Ketujuh menanyakan hal tersebut. Namun ia takut jawaban dari pertanyaan itu adalah jawaban terburuk yang paling tidak ingin dia dengarkan.
Putri Ketujuh mendongak saat Pangeran Ketujuh berdiri dari tempat duduknya, menatap mata merah pemuda itu dengan senyuman miring. "Haruskah kita bertaruh?" tanya sang Putri.
"Saya tidak tertarik," jawab Pangeran.
"Yang mati duluan, dia kalah." Putri Ketujuh tetap bersikeras menyampaikan tantangan.
"Sudah saya bilang, saya tidak tertarik," ucap Pangeran penuh tekanan.
Putri menenggak gelasnya dengan santai, membalas tatapan membunuh dari Pangeran Ketujuh. "Kemunculan jiwa baru pasti ada kaitannya dengan keanehan hubungan kita. Apa kau tidak penasaran? Siapa target yang akan Aster selamatkan dan siapa yang akan Aster binasakan? Mengingat kita adalah saudara kembar, hehe, aku penasaran apakah kematian kita juga saling berkaitan. Sepertinya menyenangkan kalau kita sama-sama musnah."