
Barang yang dia kenakan serba putih. Mulai dari gaun, hiasan rambut, dan sepatu. Cermin seukuran tubuh memantulkan bayangan calon putri kerajaan. Aster mengendus-endus bahu kanannya, wangi parfumnya tahan lama. Pantas saja beberapa saat yang lalu pelayan itu marah.
"Ka-kau menuangkan semua isinya? Apa kau bahkan tidak tahu cara memakainya?!" bentak perempuan itu sambil mengangkat botol kosong, kemudian membantingnya ke sembarang arah.
Aster yang masih menyembunyikan tubuhnya di dalam air karena merasa malu. Pipinya bersemu merah, dan semakin merah ketika tirai mandi terbuka. Pangeran Kelima menatap kedua manusia di sana bergantian. Sungguh Aster ingin membenamkan seluruh wajahnya sekarang juga. Namun ia cukup menunduk, "M-maaf. Aku tidak tahu caranya."
"Ada apa ini?" tanya Pangeran Kelima khawatir. Ia mendengar benda terbentur dengan keras. "Adik, kau tidak apa kan?"
"Aku—"
"Pangeran! Gadis ini benar-benar boros, menuangkan sebotol aroma sekaligus. Pangeran tahu sendiri, sangat kesulitan mendapat satu tetesnya." Sari berusaha mengadu hubungan antara Pangeran Kelima dan Aster. Botol wangi tersebut berasal dari aura Pangeran Kelima sendiri, melakukan meditasi siang dan malam, barulah hawa itu melekat pada daun di sekitarnya, membentuk embun jiwa yang dikumpulkan untuk dijadikan wewangian. Jika mendengar kerja kerasnya selama itu ludes dalam sekejap, Pangeran pasti marah.
Namun di luar dugaan, laki-laki tersebut hanya menghembuskan napas. "Hanya sebotol saja. Masih ada beberapa di penyimpananku."
"Apa? Tapi, Pangeran—"
"Kau tahu dia belum mengerti cara memakainya, kan? Kau sengaja membiarkan dia berbuat kesalahan agar aku memarahi adikku."
Tebakan yang tepat sasaran. Sari tertegun sejenak, sebelum bersujud di bawah kaki Pangeran. "Saya tidak berani!"
Aster memegang pelipis yang berdenyut nyeri. "Kakak, apa kau bisa keluar? Aku, aku tidak terbiasa." Memasang senyum dengan kedua alis sedikit diturunkan. Ekspresi melas adalah andalan Aster di situasi tak mengenakkan seperti ini. Ayolah, kejadian pagi ini membuat dia trauma akan kamar mandi.
Kembali ke waktu di mana Aster sudah siap. Tampak lebih segar dari tampilan kemarin malam. Bekas luka di pipi belum menghilang, namun berkat keterampilan merias dari pelayan, bekas itu tersamarkan.
"Anda terlihat cantik!" puji salah satu pelayan yang meriasnya.
Aster mengangguk. Lagi pula, ia tidak begitu jelas melihat wajahnya sendiri. Terakhir menggunakan make-up sewaktu hari Kartini di dunia nyata. Ia teringat bagaimana Vanesa menangis karena riasan terlalu tebal. Tanpa sadar lengkunganitu terukir di wajahnya.
"Anda terlihat manis saat tersenyum!"
"Terima kasih. Kau sangat baik padaku."
"Sama-sama, Putri. Ini sudah tugas saya." Sikapnya berbeda dengan pelayan sebelumnya. Tutur kata yang lembut dan bersahabat. Mungkinkah Kris mengganti orang?
"Emm, namamu siapa?"
"Pangeran biasanya memanggil saya Sari."
"Tidak! Maksudku adalah namamu. Nama satu-satunya dan hanya kaulah yang mempunyai nama itu."
Sari kebingungan menjawabnya. Nama satu-satunya seperti tidak ada di dunia ini. "Maaf, saya tidak punya nama yang Anda maksud."
Vanesa pernah mengatakan budak tidak mempunyai nama. Dan pelayan mendapat nama dari tuannya. Kalau begitu, pelayan di Istana tidak menganut peraturan semacam itu, sepertinya, karena Pangeran Kelima tidak mungkin menamai puluhan pelayan yang ada di di sini.
Omong-omong, entah bagaimana keadaan Vanesa. Apakah masih sering dibohongi pembeli, ataukah masih sering dipukuli Tuan Le? Juga tidak tahu kemana perginya surat pembebasan itu. Ingatan tubuh ini mengharuskan dirinya menemukan surat tersebut, tapi tidak mengerti kenapa harus.
Sebuah tangan menepuk dahinya dengan pelan. Aster tersadar dari lamunan. Tatapan lugu Pangeran Kelima yang mencoba sejajar dengan wajahnya, membuat Aster melebarkan mata.
Sebenarnya ada masalah pada matanya, tetapi Aster belum berani bilang. Belum lagi kabut aneh yang tiba-tiba menutupi ruangan di tembok jam besar. Kalau bilang padanya, Aster akan ketahuan telah mengendap-endap ke sana. "Emm, aku baik-baik saja."
Aster mengamati Kris dari atas sampai bawah. Dia mengenakan setel pakaian berwarna putih pula. "Kakak, kenapa kau memakai baju serba putih?"
"Hari ini ada upacara suci untukmu, jadi semua orang memakai warna putih. Selain putih, akan mengganggu pelaksanaan."
"Ohh."
"Sepertinya pandanganmu tidak fokus?"
"Hah? Aku hanya gugup. Kakak Kelima apa dulunya juga gugup sepertiku? Upacara ini terdengar sangat penting."
Kris menopang dagu di samping kursi rias, menatap Aster dengan mata menyipit. "Hmm, aku tidak begitu mengingat. Upacara untukku sudah lewat ratusan tahun lalu."
"What! Ratusan tahun lalu?" Aster menatap tidak percaya. Tunggu, pasti telinganya salah dengat. "Kakak, bolehkah aku tahu berapa usiamu sekarang?"
"729 tahun. Kenapa bertanya?" Pangeran Kelima menaikkan satu alis. Ia tertarik dengan kosakata asing yang Aster lontarkan. Menarik.
"729," ucapnya lirih, "tapi kau tidak terlihat seperti berumur 729 tahun!"
"Oh, lalu apa aku terlihat seperti berumur 14 tahun?"
Aster mengangguk mantap. "Itu benar!"
Pangeran Kelima menahan tawa sampai bahunya bergetar. "Ah, mungkin yang Adik tanyakan adalah usia tubuhku yang sekarang. Memang benar, 14 tahun. Kebetulan akhir-akhir ini aku menyukai laki-laki remaja penuh energik, jadi ... aku memilihnya. Sejak awal aku juga ingin menanyakan satu hal, kenapa tiap di depan benteng, kau terus menatapku? Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
Lalu Aster menurunkan bahu, jantungnya seperti jatuh ke lantai. Detik berikutnya, kedua alis itu mencuram. Aster menatap tajam ke arah Pangeran Kelima. "Bukan untukmu, tapi untuk pemilik asli tubuh ini. Apa kau tahu, bahwa tubuh yang kau pilih tadinya adalah temanku? Dan kau mengambilnya. Kau sudah merebut temanku. Astaga! Bahkan aku bicara begini kau takkan mengingatnya kan?"
Pangeran Kelima memejamkan mata seolah perkataan Aster hanya dianggap angin. "Memang tidak ingat, tapi aku ingat gadis yang bersamamu tahun kemarin. Oh ya, kenapa tidak pernah kulihat dia memaki-maki lagi di depan gerbang? Dia benar-benar berani."
"Pangeran Kelima, aku ingin bicara dengan temanku. Bisakah menyuruhnya kembali sebentar?"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Dia sudah mati."
"...." Entah mengapa Aster sedih mendengarnya. Padahal, ia belum berinteraksi langsung dengan teman masa kecilnya. Jangan-jangan ini adalah perasaan gadis budak yang masih tersisa, sedangkan Aster hanyalah roh dari dimensi lain yang ditempatkan di tubuh ini. Gadis budak sebelumnya sudah mati karena kelelahan.
Kalau dipikir-pikir. Perbuatan Aster tidak jauh beda dengan Pangeran Kelima. Sama-sama merebut tubuh orang, kenapa harus memarahinya? Memang siapa di dunia ini yang tidak ingin hidup.
"Lalu, apa aku juga akan mati?"
Pangeran Kelima tersenyum tulus sambil membelai pipi adiknya. "Jangan takut! Kau adalah perwakilan pertama jiwa aster. Kehidupan baru baru saja dimulai."