
Aster menunggu pelayan membukakan pintu. Beberapa menit lalu ia masuk dan kini belum menampakkan batang hidung. Kakinya mulai pegal.
"Datang ke sini malah membuatku semakin lapar dan merasa bosan." Tanpa sadar, Aster menguap kecil.
"Tuan Putri, tolong tunggu sebentar lagi. Pelayan tadi sedang memberitahu orang-orang kalau Tuan Putri akan hadir untuk makan malam."
"Oke." Bau makanan selalu terdengar menggiurkan apabila dibayangkan. Ada bau asam dan manis, intinya menyegarkan. Apa lagi setelah pintu di depannya dibuka dengan lebar.
Aster mengangkat kepala. Kris menghadang sambil memamerkan pandangan suram. "Siapa yang menyuruhmu keluar?"
"Aku, aku lapar." Hawa malam yang dingin bertambah dingin sampai aliran darahnya membeku. Sikap Kris berubah-ubah. Sekilas penuh hangat, kilas berikutnya seperti es.
Pangeran Kelima menutup pintu ketika Aster memaksa masuk. "Aku bilang, kembali ke kamarmu."
"Aku benar-benar kelaparan."
"Apa kau tahu, kami semua khawatir mendengar kau sakit. Seisi Istana khawatir! Raja bersikeras mengundang perwakilan jiwa dari Negeri Tabib diam-diam. Kau berjalan di malam hari, tidakkah berpikir bahwa itu sangat tidak baik?"
"Tapi aku baik-baik saja."
"Justru itulah hal tidak baiknya, kau baik-baik saja."
Laki-laki bertopi khas bangsawan tersebut sungguh takut kalau Aster ketahuan keluar. Ia sudah berusaha agar adiknya tidak terlihat oleh saudaranya yang lain. Bahkan ketika saudara yang lain ingin berkunjung, Kris diam-diam menghalangi mereka dengan segala cara.
"Maksudmu, aku harus sakit begitu?"
Kris menghela napas. "Jika pelayan Raja atau Ratu melihatmu dalam kondisi sehat, kau akan dicap pembohong lalu dikenai hukuman menyentuh bunga beracun, bahkan memakannya."
Pintu di belakang Kris terbuka, memperlihatkan laki-laki yang selama ini Aster hindari. Laki-laki berjubah hitam dengan sepatu kulit kecokelatan. Pangeran Ketujuh dari Istana Apung melirik Aster dengan sorot misterius lagi. "Di luar sini berisik sekali, ada apa?"
"Pangeran Ketujuh, Anda tidak perlu repot-repot keluar. Ini urusan keluarga."
Sari dan Aster menutup mulut yang terbuka karena saking syoknya. "Tuan Putri, ucapan Pangeran Kelima ada benarnya. Sebaiknya kita kembali, udara di sini mulai pengap," bisiknya.
"Ah, Pangeran Kelima. Aku tiba-tiba mengantuk. Terima kasih atas perhatianmu. Aku memang sakit, sungguh payah untuk terlihat baik-baik saja. Semua orang bisa tertipu, tapi Pangeran Kelima sangat perhatian. Tolong jangan salah paham padaku. Permisi," pamitnya segera berjalan lebar menjauhi paviliun. Jujur, Aster tidak ingat apa yang sudah ia katakan baru saja kepada Kris.
Ayolah! Ini mimpi, kenapa serius sekali? Aster berlari sambil memukul-mukul kepalanya supaya tidak ngelantur.
"Tuan Putri, apa Anda baik-baik saja?" Suara Sari terdengar memantul. Aster menggeleng kuat. Rasa kantuk hampir menguasai kesadarannya.
"Tuan Putri?"
"Hm?"
"Tuan Putri!"
Ujung sepatu Aster menginjak roknya sendiri. Sebelum benar-benar mencium tanah, dapat ia rasakan sepasang tangan menahan perutnya agar tidak terjungkal.
"Ukh, kenapa gue nggak bisa gerak?" batin Aster sambil berjuang mati-matian menggerakan badan. Jangankan badan, menggerakan bulu mata pun gagal.
Di mata Pangeran Ketujuh, pergerakan Aster seperti orang tidur yang sedang menggeliat. Karena berpikir Aster mencari kenyamanan, Pangeran mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan. Hati kecil Aster menangis diperlakukan semanis itu. Hangat, nyaman.
"Pangeran, te-terima kasih sudah menolong Tuan Putri!" Sari membungkuk hormat.
"Sama-sama. Hari ini ada apa sebenarnya? Kenapa dia sampai kelelahan seperti ini?" Ditatap lekat-lekat bagaimana Aster tertidur nyenyak. Siapa pun tidak tega membangunkannya.
Sari menjelaskan kalau hari ini Tuan Putri keliling Istana, singgah di banyak tempat, termasuk menaiki tangga tembok raksasa.
Pangeran Ketujuh tersenyum menikmati wajah Aster begitu manis saat tidur. Ingin menjilat pipinya sekarang juga.
"Dia aman bersamaku. Kau bisa pergi. Ah~ jangan beritahu siapa pun."
"T, te, ten-tu! Kalau begitu, saya permisi Pangeran. Tolong jaga Putri kami baik-baik."
***
Gelap. Di sudut ruang menyala sebatang lilin. Aster hati-hati menuruni ranjang dan menghampiri sumber cahaya tadi. Tempat ini minim penerangan, bukan seperti kamar pada umumnya.
"Sari? Kaukah itu?" Langkahnya melambat begitu menyadari bayangan di sana menyerupai laki-laki.
"Oh, sudah bangun?" Orang tersebut menoleh ke arahnya, membuat kaki Aster terhenti. Wajah dingin itu yang tidak berubah meski tersulut api di dekatnya.
Pangeran Aedes memberi jarak satu meter. Sinar bulan menyorot raut selidiknya dari lubang ventilasi. "Kau, bagaimana kau bisa tahu namaku?"
Aster mengeryit. "Berita kedatangan Pangeran Aedes sudah terdengar di seluruh penjuru Istana, semua orang juga tahu."
"Mereka mengenalku sebagai Pangeran Ketujuh dari Istana Apung. Dari mana kau tahu namaku Pangeran Aedes?" Pangeran berjalan memutari tubuh Aster. Membuat empu semakin gugup.
"Saya ...."
Pangeran Aedes tersenyum miring. Tangannya mengangkat dagu Aster dengan sedikit ditekan."Begini bagus. Aku tidak usah berpura-pura baik, setidaknya di depanmu."
"Uhk," Aster berusaha melepas cengkeraman atau rahangnya akan remuk, "maksudnya berpura-pura baik di depan mereka, sedangkan di depan saya, Pangeran Ketujuh berlaku sekasar ini? Percaya atau tidak, saya akan teriak."
Pangeran melepasnya. "Teriaklah, biar mereka semua tahu kau ada di kamarku."
"Sssh, jadi ini kamar Pangeran yang disiapkan kepala pelayan?" Sambil terus menyentuh rahangnya yang ngilu, Aster mengamati sekeliling. "Dia menyiapkan kamar paling buruk. Hanya binatang yang betah tinggal di sini. Kenapa Pangeran Ketujuh mau tinggal?"
"Sudah cukup membualnya?" Pangeran Aedes menatap ke arah Aster yang tercengang. "Tadinya aku sangat ingin memakanmu, tapi berubah pikiran. Binatang sepertiku tidak tertarik pada manusia."
Perempuan di depannya merinding. Wajah Pangeran Aedes memang dingin, namun tatapan sedingin itu ... Aster baru pertama kali melihatnya. "Saya—"
"Keluar dari kamarku."
Aster menarik napas dan mengambil langkah ke luar. Anggap saja sebuah kebebasan. Dirinya tak habis pikir, bukankah Pangeran Aedes terbiasa dengan kemewahan? Kamar yang besar, lantai yang bersih juga licin. Atas dasar apa ia mau singgah di kamar pengap seperti itu?
Aster menutup mulutnya tak percaya. Apa jangan-jangan kunjungan Pangeran Aedes tidak disambut dengan baik?
Keadaan begitu sepi. Hanya terdengar gesekan ranting yang tertiup angin. Para penjaga memerankan manekin di setiap pintu. Mau tak mau, Aster harus berjalan mengendap-endap. Namun tanpa sengaja, kakinya menginjak daun kering.
"Siapa di sana?"
Oh, sial! Aster mengernyit waspada. Punggungnya merapat ke sisi bangunan. Dari sisi bangunan yang lain, penjaga sedang menghampiri dengan suara sepatu khasnya yang gemerincing. Suara itu semakin dekat.
Sebuah kerikil meloncat, membuat Aster menengok dari mana asalnya. Pria berbaju zirah melambaikan tangan. Aster menimang-nimang apakah harus menuju ke sana atau tidak.
Karena suara sepatu penjaga semakin nyaring, tiada pilihan ia menuju ke tempat pria itu dan merasa aman. Mereka berdua bersembunyi di bawah gazebo. Posisi sekarang tidak terkena cahaya bulan ataupun lampu.
Penjaga pun sampai di sisi bangunan tadi, tetapi hanya menemukan kekosongan. Ia menggeleng kepada rekannya, kemudian kembali berjaga. Aster benapas lega.
"Sedang apa kau di sini, Adik Angkat?"
"Sssh, jangan keras-keras!" Aster berhenti merapikan gaun. Wajah pria di depannya tampak familier. Topi penjaga seperti helm aluminium yang menyisakan hidung dan mulut. "Anu, apa kita pernah bertemu? Dan kau memanggilku adik angkat, apa kau pangeran?"
Pria tersebut terkekeh, lalu menarik lapisan atas helm ke belakang seperti menyelak kacamata. Kini dapat ia perhatikan iris hitam semiputih sedang berkilauan. "Kita bertemu dua kali. Kau bisa memanggilku Pangeran Ketiga atau Kakak Ketiga."
Aster memiringkan kepala. Sekarang dia ingat. Mata dan wajah yang serupa, tetapi tampilan Pangeran Ketiga berbeda dari sebelumnya. Seolah yang sekarang Aster temui adalah versi remaja. "Pangeran, di mana uban—maksud saya, saat ini Anda terlihat jauh lebih muda. Saya merasa pangling."
"Kita hanya selisih lima tahun. Umurku yang asli delapan belas tahun. Jangan terlalu formal." Pangeran Ketiga mengedipkan sebelah mata.
Dunia mimpi benar-benar fantasi. Manusia bisa menjadi tua di pagi hari, lalu menjadi muda di malam hari. Banyak rahasia yang Aster yakin belum ia ketahui.
"Baiklah, aku tidak formal. Sebelumnya saya—maksudnya aku, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Terima kasih bantuanmu barusan. Omong-omong, sedang apa kau di sini?" tanya Aster berbisik.
"Seharusnya aku yang bertanya demikian. Jadi sekarang kutanya, sedang apa kau di sini?"
"Ah? Aku punya kebiasaan tidur sambil berjalan, bangun-bangun sudah di sini."
Alasan begitu mana mungkin membuat seorang Pangeran Ketiga percaya? Ia menanam curiga pada kedua mata yang menyipit itu. "Kau tidak berbohong, kan?"
Aster melengkungkan bibirnya ke atas. "Kakak Ketiga, aku masih baru, aku takut sekali. Aku mau kembali ke kamar, tapi penjagaan di sini menakutkan. Bantu aku ya?" rengeknya sambil menggoyang-goyang lengan Pangeran.
Dalam hati, Aster mengutuk nyamuk jantan yang telah mengusirnya ke alam liar. Sekarang hanya bisa mengandalkan kemanisan.
"Maka 'kubantu' dengan senang hati." Pangeran Ketiga menjentikkan jari.
Ehh? Entah tangan siapa yang membekapnya dari belakang. Kain di mulutnya berbau menyengat dan memusingkan.
"Emmph!" Kesepuluh jarinya berusaha menggapai Pangeran Ketiga. Meronta sebisa mungkin sampai semua jari itu lemas tak berdaya.