Vampire Aedes

Vampire Aedes
33. Pelayan Kesayangan Menghilang



"Sar ...! Sari!" teriak Aster mengedarkan pandangan ke halaman. Hanya menemukan helai daun kering yang jatuh dari pohon tetangga.


"Sari!" panggilnya untuk kesekian kali. Tetap tak ada jawaban. Padahal Aster merasa tidak menyuruhnya pergi ke mana-mana. Semalam menunggu di kursi ruang tengah sampai gadis itu tertidur dengan perut kosong. Pagi ini Aster ingin meminta menu berat.


"Tuh anak kemana sih?" dumelnya sambil meraba perut. Sekelompok perwakilan jiwa akan berjalan melewati paviliun keheningan. Aster buru-buru menutup pintu, lalu mengintip dari celah yang ada. Ramai sekali, batinnya. Ada apa ya? Tempat ini sangat jarang dilewati, tapi jalan di dekat paviliun keheningan merupakan jalan pintas menuju aula Istana.


Oh! Aster menjentikkan jari sebab mengingat peristiwa hari ini, yaitu hari di mana Pangeran Aedes menentukan Putri Tumbal. Di mimpi simulasi, Sari juga menghilang seperti sekarang. Akan tetapi, Aster tidak mau pergi ke aula sendirian. Terlebih dengan perut keroncongan.


Bayangkan saja, sejak kemarin Aster belum makan! Pipinya yang semanis moci bisa mengkerut.


Aster mengerucutkan bibir di tengah aksinya, memastikan tidak ada orang yang melihat sambil berlindung di balik dinding. Setelah sekelompok bangsawan tadi lewat, cepat-cepat gadis bergaun biru keunguan itu berlari kecil ke dinding yang lain dan sampailah ia ke dapur.


Kenapa dapur? Itu karena tempat ini adalah tempat berkumpulnya sebagian besar pelayan. Mereka semua terlihat sibuk ... makan(?)


Ragu-ragu, Aster mendekati salah satu pelayan yang menikmati semangkuk bubur pandan. Tampilan tidak asing, seperti bubur yang sebelumnya ditawarkan Putri Teratai kepada Putri Mawar. "Eumm, permisi. Apa kalian ada yang tahu pelayan pribadiku? Usianya lima belas tahun, kira-kira setinggi ini." Aster mengangkat tangan di atas kepala sekitar sepuluh senti.


Pelayan itu menjatuhkan mangkuk hingga isinya berceceran di tanah. "Oh, ya ampun! Saya tidak melihat Tuan Putri. Saya minta maaf," ucapnya membungkuk berkali-kali.


"Tidak apa-apa, justru buburmu ... apa kau baik-baik saja? Dan apa yang sedang kalian lakukan?" Aster menatap satu per satu di antara mereka. Kesibukan yang dilakukan pelayan-pelayan di depannya hanyalah menyantap sisa hidangan dari perjamuan semalam. Mereka makan dengan sangat lahap, tapi terkesan rakus.


"Kami sedang melaksanakan perintah Pangeran Pertama, yaitu menghabiskan semua makanan ini." Pelayan itu menunjukkan meja super panjang yang di atasnya bertumpuk puluhan piring kosong dan di sebelah piring kosong berjejer-jejer makanan utuh. "Jujur saja, kami sangat senang. Namun ... entah kenapa, seberapa banyak pun makanan yang dihabiskan, perut kami masih terasa kosong."


"Kau tidak tahu?" Aster bertanya untuk memastikan. Gadis tersebut ingin memberitahu bahwa semua hidangan sisa yang di sana tidak akan mengenyangkan karena sarinya sudah diserap. Jika terus makan, perut para pelayan hanya akan merasa sakit dan lapar. "Semua makanan itu—"


Deg!


Aster memegang leher sebab merasakan aliran energi tengah mencekiknya. Membuatnya tak bisa bicara.


"Adikku Tersayang, kenapa kau berada di tempat kumuh seperti ini? Cantikmu jadi berkurang."


Kehadiran Pangeran Pertama yang tiba-tiba membuat pelayan tadi membungkuk ketakutan. Merasa diawasi, para pelayan—termasuk pelayan yang diajak Aster mengobrol—kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. "Ma-maaf, Tuan Putri. Saya tidak melihat pelayan dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan," ujarnya, kemudian lari terbirit-birit.


Aster mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia hampir melupakan bahwa posisi pertama dipegang oleh orang menyebalkan sepertinya. Melumpuhkan kemampuan bicara pasti salah satu berkat yang sudah diterima oleh posisi pertama.


"Kenapa kau diam saja?" Pangeran Pertama terkekeh geli. Ia membalas tatapan tajam Aster dengan pandangan rendah.


Gadis dengan rambut digerai tersebut hendak protes, namun hanya udara yang keluar ketika mulutnya terbuka. Tatapan mata seolah meminta penjelasan, Pangeran Pertama lalu menggandeng tangan Aster yang kurus.


Setelah dibawa ke tempat lumayan sepi, barulah tangan Pangeran Pertama dilepas paksa.


"Adikku kasar sekali," keluhnya.


"Erh!" Aster menunjuk mulut. Wajah cemberut yang diperlihatkan gadis itu membuat Pangeran Pertama tertawa. Sedangkan gadis di depannya memilih untuk memperhatikan hal lain, apa pun, asal bukan muka tengik milik Pangeran Pertama.


Cup. Sebuah kecupan mendarat sekilas di bibir Aster. Pangeran Pertama tidak tahan melihat pipi yang menggembung serta bibir ranum.


"Ak!" Aster sontak mundur satu langkah. Kedua pipinya memanas. Ciuman pertama ... ciuman pertama .... Aster pusing.


"Pfft, kenapa kau terkejut? Bukankah tadi kau sendiri yang minta dicium di bibir?" kilahnya tanpa rasa bersalah.


"Baiklah. Karena aku sedang senang, kau baru boleh bicara setelah matahari terbenam." Aster mengernyitkan dahi, tidak terima. Pangeran Pertama pun berkata, "Atau kubiarkan saja selamanya seperti itu? Ah, lagipula aku sudah menyembuhkan penglihatanmu. Bukankah ini yang dinamakan impas? Hm? Anggap saja rasa terima kasih karena sudah membantuku mencapai posisi pertama."


Aster menaikkan kedua alis. Detik itu juga ia akhirnga tahu penyebab penglihatannya yang berubah jernih alias matanya kini sangat sehat.


"Tidak, kembali kasih!" Ia menggeleng kuat. Kemudian, menyejajarkan keempat jari di sisi kepala seraya mendongak, menatap Pangeran Pertama dengan penuh khidmat seperti petugas pengibaran bendera. Detik berikutnya, gadis itu berbalik. Dia berlari sangat kencang agar dapat mengikuti barisan para putri yang akan menuju aula Istana.


Dengan begini, Pangeran Pertama takkan mengejarnya kan? Pintar!


Laki-laki tersebut menahan tawa. "Pfft, dia tadi sedang ngapain sih?" Tanpa sadar, cara bicaranya meniru logat sang putri. Pangeran Pertama pun membuang napas perlahan. Ternyata dia bisa tertarik pada jiwa yang baru lahir.


Di samping itu, untunglah Pangeran Pertama berhasil menahan mulut Aster agar tidak membocorkan rahasia perwakilan jiwa kepada manusia. Nasib buruk akan menimpa gadis tersebut jika satu saja rahasia bocor dari bibir mungilnya.


"Hei, kau kan yang tadi bicara dengan Tuan Putri?" Pangeran Pertama menghadang seorang wanita yang membawa piring-piring kotor.


Dia gemetaran. "I-iya, benar, Pangeran."


"Katakan apa yang sedang dia cari?"


"I-itu, s-sese-orang. Pelayan pribadi b-be-berusia lima belas ta-hun, Pangeran," jawabnya terbata-bata.


Pangeran Pertama memutar mata dengan malas sebelum senyum lebar merekah di wajahnya yang tampan. "Ah, aku mencium racun yang telah kutabur. Sepertinya pelayan itu membawanya tidak jauh dari sini."


***


"Ak—" teriak Aster begitu Pangeran Pertama menculiknya ke belakang pohon. Sekumpulan gadis-gadis kebingungan karena mendengar suara tapi tidak ada orangnya. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan.


Pangeran Pertama membekap mulut Aster. Naas, telapak tangannya digigit si empu sampai Pangeran Pertama mengaduh kesakitan. "Benar-benar kasar. Bahkan Putri Mawar tidak seganas ini," gumamnya tidak terdengar oleh Aster.


Gadis itu menggerakkan kedua tangan di udara seolah meminta penjelasan. Ia tidak berpikir Pangeran Pertama akan mengejarnya setelah diberi penghormatan layaknya sang komandan. Ia hanya bisa mendesis tidak jelas saking kesalnya.


"Tenang sedikit! Aku tahu kau sedang mencari pelayanmu satu-satunya. Aku tahu dia di mana."


Aster berhenti menjambak rambut Pangeran. Tatapan antuasiasnya menunggu kalimat berikutnya untuk didengar. "Sangat kasar. Tidak ada peringkat lebih rendah berani menyerang peringkat di atasnya, kecuali itu kau."


"Fuh!" Aster meniup poni. Bodoh amat, pikirnya.


"Ikut aku," ucap Pangeran Pertama.


Aster mengekori laki-laki bak model tersebut. Meski dirinya sedikit kebingungan karena digiring ke semak-semak tak terawat di belakang bangunan dapur. Sekejap ia menyamakan tinggi semak-semak itu, setara dengan tanaman ilalang yang pernah ia telusuri bersama kucing ajaib.


Aster mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Ternyata ada juga bagian Istana yang terpencil bahkan tak terjamah oleh pelayan yang bertugas bersih-bersih.


Terdengar napas berat di balik semak. Aster menoleh ke arah Pangeran Pertama, sementara laki-laki itu mengangguk seraya tersenyum samar. Lagi, perasaan tidak enak menyergap.


Pangeran Pertama membuka celah agar dapat masuk ke semak-semak lebih dalam. Di situ Aster menemukan Sari yang meringkuk.


Mendengar daun kering yang diinjak, gadis dua tahun lebih tua dari Aster mengangkat sedikit kepalanya. Ia hanya melihat sepatu Tuan Putri-nya dengan panik. "Ja-jangan mendekat!"