Vampire Aedes

Vampire Aedes
51. Adik Kembar Muncul



"Kami akan kembali ke Istana Bunga untuk sementara. Yah, setidaknya sampai Pangeran Ketujuh meminta bantuan lagi." Putri Ketiga tersenyum. "Apa ada yang ingin Anda sampaikan pada seseorang? Mungkin saya bisa menjadi perantara."


Aster menarik napas. Jika seseorang dari Istana Bunga, nama yang terbesit pertama kali di benaknya ialah Pangeran Kelima. Ah, omong-omong bagaimana kabar ketua kelas, ya? Di dunia nyata maupun dunia mimpi wajah laki-laki itu terus terbayang di pikiran. Aster menggeleng pelan. "Hmm, tidak ada."


Lagipula, Aster tidak berniat kembali ke Istana Bunga. Ayolah! Ia sangat yakin misinya berkaitan dengan Pangeran Ketujuh. Jelas-jelas Pak Steven menunjukkan mimpi simulasi yang selalu menggiringnya ke sisi Pangeran. Seharusnya Aster lebih mendekati pemuda tersebut.


Putri Ketiga lebih terkejut. "Sungguh? Benarkah tidak ada yang ingin Anda katakan? Misalnya Pangeran Pertama?"


"Eh?" Aster membulatkan mata. "Kenapa Anda menanyakan soal orang itu? Saya bahkan hampir tidak mengingatnya."


"Ya, itu karena kalian terlihat dekat."


"Begitu, ya ...." Aster tertawa canggung. Soalnya mereka kan tidak dekat(?) Terakhir kali, Pangeran Pertama memaksa ikut ke Istana Apung. Entah apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan. Aster hanya tahu bahwa Pangeran Pertama memiliki ambisi besar menjadi Raja. Kalau pun ada sesuatu yang ingin Aster sampaikan kepada Pangeran Pertama, ia tak yakin Putri Ketiga mau melakukannya tanpa imbalan.


"Baiklah. Kalau tidak ada, kami akan pergi sekarang." Lihat, dia tampak kesal.


Dua kakak beradik tersebut berpegangan tangan. Lalu, sebuah cahaya putih menembus keluar dari dada Putri Ketiga. Cahaya terang yang hanya bereaksi jika pengguna mengaktifkan kekuatan artefak. Aster sampai menutup mata saking silaunya. Cahaya putih memudar bersamaan dengan menghilangnya Cycy serta Putri Ketiga. Aster sendirian sekarang, menatap bekas keduanya yang menyisakan udara tenang dan hampa.


"Haa, dingin."


"Ada mata air hangat di sekitar sini." Pangeran Ketujuh tiba-tiba berada di belakang Aster, membuat gadis itu berjengkit kaget.


"Astagfirullah! Anda dari mana saja? Kenapa tidak menemui Putri Ketiga?" tanyanya bertubi-tubi. Pangeran terlalu dekat dengan telinga saat berbicara barusan. Aster sontak menjauhkan wajah.


"Karena dia bau," jawabnya singkat.


"Apaaa?" Aster tidak mengerti. Ia pun mengendus-endus udara di sekitar, tapi hanya bau anyir darah yang tercium. Gadis itu spontan menahan napas. Sumbernya ternyata berasal dari tubuh Aster sendiri dan Pangeran Ketujuh. Kalau diingat, sejak datang kemari mereka kan belum pernah mandi. Pakaian keduanya semakin kusut seperti habis keluar dari permainan survival. "Ah, bau sekali," gumam Aster.


Pangeran Ketujuh mengamati gerakan gadis di depannya dengan memiringkan kepala. "Kau itu wangi meskipun tidak pernah mandi."


"Memangnya Anda pernah mendekati saya yang tidak pernah mandi?"


"Pernah."


"Masa sih? Kapan saya tidak mandi?" tanya Aster tak percaya. Pasalnya, dia melupakan fakta bahwa dulunya ia hanya seorang budak. Memang tidak mungkin seorang Putri Istana tidak mandi. Pangeran Ketujuh mengada-ada saja, tapi kenapa mukanya serius begitu? Aster berusaha keras menghindari tatapan misterius yang Pangeran Ketujuh layangkan.


"Tolong jangan menatap saya seperti itu, Pangeran." Aster menunduk sambil meremat tangan.


"Anda juga aneh."


Satu bulan yang lalu, ketika gadis budak melarikan diri ke padang rumput, Pangeran Ketujuh terangsang dengan aroma manis yang sayangnya menghilang. Karena itulah, ia menggunakan kekuatan anginnya untuk mengikuti Aster. Sosok lusuh dengan wajah cemong berjalan tanpa arah. Tadinya Pangeran Ketujuh mengira gadis itu ingin melarikan diri ke wilayah Apung, tapi entah kenapa dia malah berbalik dan berakhir di tangan kawanan prajurit.


Kalau Aster tidak kembali, mungkin Pangeran Ketujuh tak bisa melihat Aster yang sekarang. Penampilan Aster yang sekarang rupanya tak jauh beda dari penampilan saat pertama kali dilihat. Pakaian robek sana-sini, muka lecet, ah--darah kering yang menghiasi wajah cantiknya. Darah milik Aster lebih harum daripada darah dari para perwakilan jiwa yang pernah adik kembarnya temui.


Benar. Sampai sekarang pun sang adik masih penasaran dengan rasanya. "Hehe, apa ini, Kak? Jadi Kakak membawa makanan untukku?" Matanya menyipit senang. Mata yang sama pekatnya seperti mata Pangeran Ketujuh. Arah pandang keduanya tak lepas dari tepi sungai di mana Aster berendam menikmati arus air. Putri Ketujuh menyandarkan kepala ke bahu lelaki di sampingnya. Dia tersenyum lembut.


"Jangan menyentuhku dan bersikap seolah kau adikku. Kau menjijikkan," ucap Pangeran Ketujuh tanpa mengalihkan pandangan. Ia sedikit khawatir karena tempat ini merupakan tempat Putri Ketujuh berburu manusia.


"Kak ...," panggil Putri dengan nada rendah yang mana membuat Pangeran Ketujuh menoleh cepat.


Putri Ketujuh mendongak, lalu menunjukkan taringnya. "Hehe, aku bisa meniru adikmu loh." Dia menjulurkan lidah seperti yang biasa adiknya lakukan. Hal itu memancing amarah Pangeran, namun ia tahan sebisa mungkin. Tangannya mengepal kuat sebab tak mau melukai tubuh adiknya yang kini didiami oleh roh nyamuk betina.


"Hehe, anak malang. Apa kau yakin adikmu masih hidup?" tanya Putri Ketujuh seakan mengetes lelaki tangguh di depannya. Kuku hitam panjang nan mengkilat membelai pipi Pangeran sehingga dia memalingkan wajah.


"Aku lebih yakin bahwa diriku sudah mati." Sebenarnya dia sedikit goyah. Pangeran Ketujuh melirik tatapan sang putri. Mereka bisa mirip dalam satu waktu, yaitu Putri Ketujuh dan adiknya, Ailyn.


Lalu, ekspresi Putri terlihat syok. "U-ugh! K-kakak ...? Aku tidak membunuh orang lagi kan?"


Pandangan mata yang berkaca-kaca. Pangeran Ketujuh tersentak, namun ia hanya tertegun tanpa berniat menjawab. Tangannya mengepal kuat.


"Kakak, kenapa kau diam saja?" Gadis itu menunjukkan luka di setiap kedipnya. Detik berikutnya, Putri Ketujuh tertawa lepas.


Mendengar suara bak kuntilanak, Aster yang sibuk menikmati arus sungai mulai mengamati sekitar. Ia menoleh kanan kiri dan memastikan bahwa tiada orang. Aster juga menilik tempat persembunyian Pangeran Ketujuh di belakang sekumpulan tanaman bambu.


Tadinya lelaki itu ingin meninggalkannya dengan alasan menjaga kesopanan. Ia merasa terhina jika menunggu seseorang mandi, tapi Aster memaksa Pangeran sombong tersebut agar lebih menurunkan harga dirinya. "Tunggu di situ! Bagaimana kalau hewan buas datang, lalu memakanku?"


"Maka memang takdirnya begitu."


"ASTAGFIRULLAH! Masa Pangeran Ketujuh nggak sayang nanti darahku diminum hewan lain?"


Aster tidak pernah menyangka bahwa Pangeran Ketujuh mau mengangguk. Berkatnya, Aster dapat menikmati guyuran air sungai yang hangat. Meskipun aneh karena biasanya dia sangat risih kalau mandi diperhatikan orang asing. Yah, mungkin jika itu Pangeran, pasti laki-laki yang hanya tahu darah takkan berkeinginan barang mengamati tubuhnya walau sebentar.


Namun, ia tidak melihat Pangeran Ketujuh di mana pun. Malah tawa Mak Lampir kembali terdengar. Aster terganggu, ia pun memakai pakaian luar dengan tergesa-gesa, kemudian melompati bebatuan sungai menuju sumber suara.