Vampire Aedes

Vampire Aedes
14. Dipanggil Pak Steven (Kelinci Percobaan)



"Selamat siang! Kepada ananda Astervania mohon datang ke laboratorium, menemui Pak Steven, sekarang juga."


Ini pertama kalinya di sekolah, ada yang mengumumkan namanya. Biasanya, nama-nama yang diumumkan adalah nama murid teladan atau berandalan. Apa speaker barusan tidak rusak sehingga salah menyebut nama orang? Tapi, suara itu memang persis guru Biologi. Aster masih bergeming di tempat duduk.


"Sekali lagi. Kepada ananda Astervania mohon datang ke laboratorium, menemui Pak Steven sekarang juga. Terima kasih."


Arrgh! Baiklah, mau tak mau harus ke sana.


"Wah wah, ada apa ya Guru Botak manggil lo ke sana? Jangan-jangan mau digepengin pake kaca objek," seloroh Vanesa yang tidak digubris. Decakan pun lolos dari mulutnya. Aster penyakitan memang tidak seru. "Ck!"


"Gue ke sana dulu."


"Mau gue anterin? Ruang laborat kan di atas noh. Gue takut lo jatuh pas naik tangga. Ntar gue langsung balik, kok," tawarnya.


Hampir saja Aster menolak apabila alasan Vanesa untuk membolos. Ia beranjak dari kursi. "Yaudah, ayok."


Tiba-tiba Kris menghentikan langkah mereka. "Lo dipanggil Pak Steven ya? Bareng gue aja, As. Kebetulan ada yang mau gue tanyain sama beliau."


"Emm," Aster menoleh pada Vanesa, "yaudah ayok. Kita bertiga aja gimana." Bagaimana pun Kris tetap idola terhormat. Akan memalukan kalau menolaknya di hadapan teman sekelas.


Vanesa berdeham. "Nggak jadi gue anter. Ntar jadi nyamuk lagi gue."


"Lah? Katanya mau nganterin." Ingin rasanya menarik kedua karet kucir temannya itu.


Vanesa menggeleng kuat sampai rambutnya bergoyang kanan-kiri. "Nggak jadii, toh nanti kalau gue anterin lo. Terus gue baliknya sendirian, gitu? Kayak anak ilang, gue nggak maulah. Mending lo bareng Pak Ketu—pulang pergi diantar."


"Alah tai! Ya udah, gue pergi sendiri aja," putusnya. Aster berjalan dengan langkah lebar yang bahkan dapat membuat Vanesa lupa bahwa ia sedang sakit.


"Aduh, Pak Ketu. Gimana nih? Aster ngambek sama gue. Lo kejar dia sana! Asli gue takut dia pingsan tengah jalan."


"Lo juga tulul, kan yang bikin dia badmood tuh elu."


Keduanya memutuskan mengejar Aster bersama-sama. Gadis itu memang paling tidak suka apabila diikuti. Saat ada masalah di kantor guru, dia berani datang sendiri. Kalau bukan Vanesa yang memaksanya untuk menemani sampai garis pintu, dia benar-benar seperti tak punya teman, tapi bukan tampang yang mudah dibully.


Bahkan ke kamar mandi pun tak pernah mengajak Vanesa. Ribet, katanya. "Pak Ketu, apa kita masuk aja? Gue khawatir nih! Kalau dia diapa-apain sama Pak Steven gimana?"


Pak Steven itu orang serius, mustahil diajak bercanda. Tersenyum juga seperlunya. Senyum formal ke para guru, senyum ramah ke murid, terakhir senyum yang misterius. Hanya ditunjukkan kepada anak didik tertentu. Aster mendapat senyum misterius tersebut di hari pertama pertemuan mereka dengan Pak Steven.


Setiap pagi sebelum masuk kelas, selalu ada barisan guru piket yang harus disalimi setiap murid memasuki gerbang sekolah depan hall. Kebetulan hari itu Pak Steven berjaga, menjabat tangan Aster tak sampai satu detik. Vanessa menangkap tatapan serta senyum yang sulit diartikan dari wajah Pak Steven.


"Diapain gimana?" tanya Kris.


"Diapa-apain ya kayak pegang-pegang. Dari awal ketemu guru botak, gue curiga kalau orangnya tuh pedo."


"Ck, ngawur! Gue memang mau masuk, orang nggak berkepentingan mohon tunggu di luar."


Vanesa memicingkan mata. "Jangan! Gue eneg tau liat lo caper mulu. Toh, Aster nggak bakal kesengsem sama lo!"


Kris mengedikkan bahu. "Brisik! Bilang ae lo takut ane tinggal."


Vanessa bernapas lega. Ketua kelas harus melindungi anak buahnya kan? Lantai atas tempat angkatan tiga. Aura senioritas sangat kental di sini. Khususnya para lelaki yang badannya sudah 70% dewasa ala anak SMA.Untung saja Kris mengurungkan niatnya.


Lagipula masuk ke ruang laborat juga agak merepotkan. Harus mengambil jas dan memakai kacamata demi keselamatan. Itu sebabnya Aster paling benci dengan ruang laborat.


Tidak. Sebenarnya ia benci semua tempat yang berkaitan dengan IPA. Greenhouse misalnya.


Akhir sesi pelajaran Biologi, murid disuruh ke greenhouse untuk mengecek tanaman masing-masing. Lokasinya di samping lapangan sepak bola. Sama jauhnya dengan ruang laborat. Salah sendiri kelas berada di ujung. Mau ke mana-mana tidak ada yang efektif.


"Permisi, Pak Steven. Ada apa ya kok memanggil saya?" tanya Aster hati-hati.


Pria berdarah bule tersebut menoleh. "Oh, kamu sudah datang? Tolong coba larutan kimia yang baru saja Bapak buat ini."


"Maaf, Pak? Ini bercanda kan?"


Jika bukan karena sakit, Aster sudah menyumpah serapahi makhluk di depannya dalam hati. Namun hasrat itu melemah seperti tubuhnya. Aster menggeleng pelan. Sungguh permintaan konyol selama ia bersekolah di sini. Menjadi kelinci percobaan gurunya sendiri? Apa Pak Steven berpikir dirinya seorang ilmuwan?


Ketika gelas kimia yang terbuat dari kaca itu Pak Steven sodorkan padanya, Aster belum bergeming. "Tapi saya sedang sakit loh, Pak."


Permukaan air masih bergoyang-goyang seakan tidak mau menyerah. Ia terus menggoda, membuat gadis di depannya menelan ludah. Cairan berwarna ungu kebiruan, seolah luar angkasa turut larut ke dalamnya.


"Justru karena kamu sakit, saya ingin tahu fungsi larutan ini untuk apa."


Satu kata, sial! Meski demikian, Aster tetap menjaga image dengan tersenyum. Ia meminumnya dalam seteguk.


"Bagaimana rasanya?"


Membagongkan. Rasa itu bisa menghilang, namun takbisa dilupakan. Setidaknya Aster akan mendapat nilai tambahan dari Pak Steven usai pergi dari sini.


"Tawar, Pak." Minuman aneh yang gurunya berikan memang hambar. Tidak setelah beberapa kali ia mencecap lidah. Seperti ada manis, asin, asam, semua rasa bercampur menjadi satu dalam kadar 0,01 %. Ini masih tebakan. "Sssh, tapi sedikit ada banyak rasa yang samar-samar."


"Jangan bilang sama siapa-siapa."


"Baik, Pak."


Pak Steven mengangguk. "Kamu boleh pergi." Pria tua itu telah lama mengamati siswi yang sekarang tengah sibuk menyampirkan jas lab. Sejak pertama kali menyentuh garis tangannya. Waktu Aster masih kelas satu. Belum bisa bertemu secara terbuka, hanya mampu mengamati diam-diam.


"Saya pergi, permisi."


Aster tumbuh seperti gadis kecil lainnya. Mudah beradaptasi, walau sedikit sifat pemberaninya yang terkadang bisa membahayakan diri sendiri.


"Papa," gadis remaja yang entah muncul dari mana memainkan gelas kimia di depan wajah. Bekas cairan biru menyala masih ada, membentuk garis melingkar di dalam wadah. 50 ml, "embun mimpi sebanyak ini bukannya belum cukup miaw?"


Pak Steven mengembuskan napas gusar. "Lebih banyak yang menginginkan dia mati."


"Miaw? Jangan salahkan aku jika pilihan Papa nantinya menderita. Aku juga ingin dia mati!" Gadis itu mencengkeram benda di tangan hingga retak, mata ambernya menyipit penuh amarah.


Makhluk parasit tidak pantas hidup! Mereka selalu merugikan makhluk hidup di sekitarnya. Atas dasar apa Papa alias Pak Steven rela menyeret penduduk bumi hanya demi mengabulkan permintaan embun mimpi dari satu orang?


Tak! Pak Steven bersyukur putrinya tidak memecahkan gelas tersebut. Ia pun mengambil dan mencuci semua peralatan yang habis digunakan. Kebersihan di ruang laboratorium memang ketat, bahkan memakai sepatu juga dilarang. Tempat ini harus steril, kecuali anaknya saja yang tampak tak acuh. Begitu menghilang, sekaligus memunculkan rontokan bulu.


"Hachiu!" Aster menggosok hidung yang semakin merah. Usai meminum larutan aneh malah penyakitnya tambah parah.


Vanesa dari belakang menyamakan posisi supaya bisa sejajar. Matanya menangkap banyak sekali bulu putih yang melekat di pundak Aster. Sangat kontras dengan warna jas Aster yang gelap. Seketika ia melotot dan menepuk-nepuk bahu tersebut agar bulunya rontok.


"Awh, lo ngapain sih?" Aster menepis tangan Vanesa. Sudah tubuhnya sakit, bertambah sakit pula seperti habis dipukul.


Vanesa tersenyum canggung. Ia hanya menggeleng. Berada di tangga haruslah waspada kalau-kalau Aster terkejut melihat bulu sebanyak itu hinggap di jasnya, entah apa yang akan terjadi. Tapi alergi Aster bisa semakin buruk jika terus dibiarkan.


Terdengar bunyi hentakan kaki jauh dari belakang mendekati mereka. Aster dan Vanessa melihat Kris berlari masih dengan bola voli dipelukannya. "Woy, tunggu! Hah ... hah ...." Napas Kris ngos-ngosan.


"Hachiu!" Tanpa sengaja Aster bersin menghadap Kris, laki-laki tersebut memejamkan mata sebelum meraup wajahnya. "M-maaf, Kris."


"Huft, iya nggak papa."


Vanesa terkikik sambil memegangi perut karena merasakan geli di area tersebut. "Aster bersin gara-gara lo, itu artinya dia alergi sama lo! Mending jauhan dikit deh."


Mengabaikan ejekan Vanesa, Kris lebih tertarik pada Aster. Dahinya berkerut. "As, di pundak lo ...."


Aster mengikuti jejak pandang Kris. Sontak pupil mata itu melebar dan di detik berikutnya Aster segera melepas jas tersebut, kemudian melemparnya dengan asal.


Terlihat Vanessa maupun Kris saling pandang. Biasanya, Aster akan berteriak kencang seperti orang fobia. Namun kali ini ia hanya diam, meski begitu tetap tidak mampu menyembunyikan napasnya yang tidak beraturan.


Tubuh Aster kurang bertenaga, berteriak akan sangat menguras energinya. Tindakan melempar jas adalah reflek. Sebenarnya ia bukan fobia terhadap bulu, hanya saja alergi dari kecil. Kalau sebagian orang ada yang hanya alergi beberapa tahun dan sembuh ketika dewasa. Aster merasa alerginya takkan ada obat. Mereka melekat pada pakaian. Menurutnya, itu sangat menyebalkan.


"Bangs*t! Siapa yang lempar jas?!"