Vampire Aedes

Vampire Aedes
46. Kasihan Dilupakan _T



Aster terdiam sambil mengingat-ingat nama yang baru saja didengar. Semakin dipikirkan, kepala Aster semakin terasa menyakitkan. Sembari memijat pelipis, ia berkata, "Maaf, aku nggak kenal. Apa kau sedang mencari seseorang? Kalau iya, di sini tak ada yang namanya Vanessa."


Mendengar jawaban Aster, hancur sudah hati gadis tersebut. Untuk kedua kalinya ia terus merasakan sakitnya dibohongi. Padahal sebelum Aster meninggalkan desa, ia telah menjanjikan suatu hal dengan sangat meyakinkan, tapi kenapa? Sekarang kau pura-pura tidak kenal.


Seseorang menjadi bodoh karena terlalu percaya pada kata-kata manis. Bagaimana bisa ... bagaimana bisa teman sejati mengucapkannya dengan percaya diri kalau pada akhirnya mengingkari? Percuma saja dia kabur dari pasar jauh-jauh kemari.


"Haha, bodoh," ucapnya lirih.


"Dia mengataimu bodoh."


"Apa?" tanya Aster tak mengerti pada Pangeran Ketujuh. "Aku tidak mendengar apa pun. Kenapa dia mengatakan kalau aku bodoh? Seperti sok kenal saja."


"Coba kau pikir. Bukankah dia terlihat seperti pemilik nama itu sendiri?"


"Emm, mungkin aku harus menyapanya dari dekat supaya lebih jelas. Pangeran Aedes, boleh kan saya keluar sebentar?" Lalu Aster memaksa turun dari kereta, mengabaikan tatapan Pangeran Ketujuh yang seakan menyuruh Aster berhenti menangani hal-hal merepotkan. Akan tetapi Pangeran tetap setengah hati dan mau mengizinkan.


"Apa Anda sungguh tidak tahu Vanessa?" tanya gadis itu setelah Aster berdiri tepat di hadapannya.


Aster balik bertanya, "Apa kau Vanessa?"


Sontak matanya membulat. "Apa Anda ingat? Anda sendiri yang memberikan saya nama sebelum pergi ke Istana. Katanya agar Anda tidak melupakan saya. Saya tahu kalau Anda sangat pelupa di masa lalu, tapi saya lega sekarang."


Vanessa memegang kedua tangan Aster tanpa sadar. Pangeran Ketujuh yang melihat kejadian tersebut cukup tertarik.


Aster meniup poni rambutnya. Ternyata benar kalau dia Vanessa. Sayangnya Aster tidak mengingat satu pun kenangan bersama sosok ini.


Ia juga bingung. Entahlah, perasaan tidak nyaman lantas ia menarik tangan dari gadis yang tidak dikenal. Sekilas, Vanessa terkejut dan menyadari statusnya yang hanya sebatas budak. Ia tidak pantas menyentuh Aster yang kini seorang Putri dengan tangan kotor.


"Ja-jadi begini, sebenarnya aku sedang buru-buru. Apa kau bisa pergi tanpa menghalangi jalanku?" Aster mengalihkan pandangan dari tatapan berapi-api Pangeran Ketujuh. Sepertinya kereta akan terbakar kalau dia marah lebih dari ini.


Vanessa tampak kecewa. "Ah, aku hanya khawatir. Katanya kau diusir dari Istana Bunga. Memang kesalahan apa yang kau lakukan? Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja." Aster tersenyum manis.


Vanesa menahan tangis. "Baik-baik saja apanya! Makanan di Istana tidak enak, ya? Kau jauh lebih kurus jika dibandingkan saat menjadi budak."


"Ka-kau bilang apa?" Seharusnya cukup pura-pura sok kenal, namun bukan hanya itu. Dia juga mengarang cerita masa lalunya yang seorang budak. Jelas-jelas Aster datang dari dunia nyata.


"Maaf, aku bukannya menghina menu Istana—"


"Lupakan." Jawaban singkatnya terdengar hambar di telinga Vanessa. Apa Aster marah? Yang benar saja, hanya karena dia mengatakan hal buruk soal makanan di Istana?


"Jangan terlalu khawatir. Justru semua makanan di Istana sangat enak. Aku tidak pernah melihat makanan yang sebanyak dan seenak itu. Namun sebanyak apa pun aku makan, rasanya terus kurang."


"Syukurlah kalau kau makan dengan baik."


"Iya, jadi kau bisa kembali sekarang. Mungkin kau sudah tahu, aku akan pergi ke Istana Apung."


Orang yang sama, wajah yang sama, dan suara yang sama. Namun, bertindak seolah-olah asing satu sama lain. Apa tidak bisa kau menceritakan banyak hal seperti dulu? Ini tidak seperti dia benar-benar mengingatnya.


"Tuan Putri." Vanessa ingin bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Iya?" Dalam hatinya, Aster ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan ini.


"Apa Anda pernah memukul kepala Pangeran Kelima?"


"Oh, bukan apa-apa."


Jangankan memukul, bagaimana bisa kau menyakiti bagian tubuh sang idola? Pangeran Kelima adalah malaikat penyelemat yang imut. Dengan wajah baby face-nya itu ... ugh! Kalau ada yang memukul orang, pasti hanya dia yang berani melakukannya.


Tunggu, dia?


Dia siapa?


Samar-samar, bayangan gadis berkuncir dengan seragam SMP melintas di dalam pikirannya. Tetapi ingatan Aster kabur, padahal dia sangat yakin kalau mereka cukup dekat. Hal itu membuat Aster sedikit pusing.


"Aster!" teriak Pangeran Ketujuh dari dalam kereta, tidak sabar. Matahari mulai terbit. Pertanda bahwa ia sungguh harus segera pergi.


Gadis itu menatap Vanessa lagi. "Tunggu di sini sebentar."


Vanessa mengangguk meski wajahnya agak muram. Kemudian Aster kembali ke kereta untuk mengambil sesuatu.


Pangeran Ketujuh mengernyit. "Kau sedang apa sih? Katanya tidak kenal, tapi bicaranya lama sekali."


Aster sibuk mencari sampai mengabaikan ucapan Pangeran Ketujuh, anehnya lelaki itu tidak marah.


"Ketemu!" seru Aster semringah. Di tangannya terdapat kotak mewah kecil berisi camilan dari Pangeran Kelima. Ia memberikannya pada Vanessa.


"Ini ... sangat cantik. Putri memberikan ini pada saya?" Vanessa menerima kotak tersebut dengan mata terbuka lebar. Ia tidak percaya setelah membuka isinya yang tak kalah cantik.


Aster mengangguk. "Yup! Itu adalah camilan yang sering dimakan oleh Pangeran Kelima. Rasanya manis. Kau harus pulang dan menikmatinya di rumah, okey?"


"Terima kasih, Putri. Saya akan membagikan camilan ini ke budak-budak yang lain." Ah, lagi-lagi Vanessa menangis. Aster tidak tahu kalau camilan yang hampir ditolaknya bisa membuat orang lain menangis bahagia.


Sedangkan Vanessa berusaha melepas harapannya pada Aster. Mungkin tidak ada gunanya mengingat seorang budak di dunia ini, tapi setidaknya Aster masih peduli. Ia tidak diabaikan lagi seperti yang sudah Kris lakukan.


Dengan berat hati, Vanessa berlutut. "Semoga perjalanan Anda ke depannya lancar."


Sebenarnya Aster kurang nyaman dengan posisi yang memperjelas status seperti itu, tapi ... ya sudahlah.


"Selamat tinggal, Vanessa!" ucap Aster sembari melambaikan tangan dari jendela. Tak lupa senyum paling manis sebagai perpisahan.


Pangeran Ketujuh menatap Aster tanpa ekspresi. Berdasarkan sejarah budak, tertulis hukuman bagi mereka yang melarikan diri dari tuannya. Budak yang melarikan diri akan disiksa sampai mati. Entah itu dicambuk, dipukul, atau ditenggelamkan ke sumur. Pada akhirnya mereka pasti mati. Meski begitu, Vanessa tetap kembali setelah tahu akan semuanya.


Jika Aster bertanya lagi, "Bukankah orang itu sama saja mau bunuh diri?"


Jawabannya adalah ....


Ya.


Dia datang menemui Aster karena sudah siap menerima segala konsekuensi.


"Kenapa Anda terus menatap saya?" tanya Aster.


Pangeran Ketujuh segera mengalihkan pandangan. "Hanya, apa kau kenal Vanessa?"


Pertanyaan iseng karena Pangeran Ketujuh kehabisan kata-kata, tetapi respon Aster di luar dugaan. Gadis itu tampak sangat terkejut hingga wajahnya pucat.


"Ah, maaf. Entah kenapa kepala saya sakit setiap mencoba mengingat nama tersebut."