Vampire Aedes

Vampire Aedes
62. Kegagalan Adalah Keberhasilan



Pangeran Pertama membaca pikiran Pangeran Ketujuh, berisi kewaspadaan kalau-kalau kemampuan penyembuhan Aster diketahui oleh orang lain. Masalah bisa muncul kapan saja. Kontrak menjadi Putri Tumbal adalah seumur hidup bagi sang Putri, tetapi biasanya kontrak itu selesai karena pihak pengontrak melahap tumbanya dengan cepat. Terkadang kontrak bisa batal otomatis jika Yang Mulia Raja dan Ratu ikut campur. Kemampuan Aster begitu langka sehingga Pangeran Ketujuh tidak ingin hal tersebut diketahui oleh penghuni Istana Bunga.


"Hmm," gumam Pangeran Pertama, menelengkan kepala dari atas sampai bawah, melihat penampilan Pangeran Ketujuh yang berantakan. Ada bekas darah di sudut bibir Pangeran Ketujuh. Tampilan yang tidak layak dibandingkan dengan dirinya yang rapi dan selalu tampil bersih. Detik berikutnya, Pangeran Pertama menahan tawa.


"Ada yang lucu?" tanya Aster spontan. "Hup!" Pangeran Ketujuh membekap mulut gadis itu agar berhenti bicara.


"Bisakah saya membawa Putri Tumbal sekarang ke Istana Apung?" tanya Pangeran Ketujuh meminta izin.


"Hah ... sayangnya aku tidak punya alasan untuk menahan Aster di sini."


"Kalau begitu, saya anggap Anda memberi izin," timpalnya.


"Tunggu," ujar Pangeran Pertama saat keduanya hendak berbalik. "Apa kau sudah izin Yang Mulia Raja dan Ratu Apung, bahwa kau berkunjung ke Istana Bunga? Kami sama sekali belum menerima laporan kalau bakal ada kunjungan."


Pangeran Ketujuh menoleh. "Saya ke sini menjemput Putri Tumbal. Tidak ada aturan yang menyebutkan harus meminta izin kepada Yang Mulia."


Dia meneguk saliva susah, membuat Pangeran Pertama tersenyum miring ketika memberi salam perpisahan. "Aku mengerti. Baiklah, silahkan pergi."


Pangeran Ketujuh mengangguk. Sebelum ia terbang bersama Aster, Pangeran Pertama bergumam sepelan mungkin, "Semoga nyawa Anda selamat." Namun, perwakilan jiwa Aedes tersebut mampu mendengar itu dengan sangat jelas.


Kontrak Tumbal juga bisa batal jika tubuh salah satu pihak yang terlibat kontrak meninggal dunia.


Laki-laki itu masih tersenyum sambil menggulung lengannya, memperhatikan gelang terbuat dari kayu milik Aster. Jarumnya mengarah angka sebelas. Pemilik asli tidak tahu keberadaan pengingat waktunya dan Pangeran Pertama memang mencuri gelang jam tersebut demi misi pribadi.


Musim gugur terasa dingin, sedangkan di luar hewan-hewan tidur panjang tanpa selimut salju. Bunga tidur warna-warni memberi kehangatan yang manis. Namun, tidak sepenuhnya kepingan sejuk itu meleleh. Semoga bunga-bunga tetap hidup dan bermekaran di Istana.


"Yah, jika aku tidak salah ciri-ciri yang disebutkan dalam syair ini mengarah pada Aster. Hanya dia satu-satunya perwakilan jiwa yang bisa menumbuhkan bunga dengan berbagai warna. Haruskah aku membuat dia tinggal di Istana selamanya? Bukankah begitu, Nona Felis?" tanya Pangeran Pertama menopang dagu sembari mendongak, melayangkan tatapan ke rak kosong paling atas di mana jelmaan kucing putih juga menatapnya balik.


Felis tidak terkejut. Ia pun menggoyangkan badan untuk merontokkan bulu-bulu lemah dari tubuhnya. Tak lama setelah itu, dia melompat dan berubah menjadi sosok anak perempuan berambut perak. "Kau pikir aku mau memberitahumu?" tanyanya sinis, menyilangkan lengan di depan dada.


"Wow! Ini pertama kalinya saya mendengar suara tokoh legenda yang diagung-agungkan seluruh Kerajaan."


"Hei, Bodoh! Apa kau merasa aman setelah naik peringkat dengan cara licik?" marah Felis, mengabaikan pujian abal-abal tersebut.


"Cara licik pun sebuah cara yang membutuhkan upaya. Anda sama sekali tidak merasakan betapa beratnya perjuangan saya untuk sampai ke titik ini. Kelicikkan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Anda. Bukan hanya terang-terangan memberontak di depan ayah Anda, diam-diam Anda juga membuat Aster menjauh dari keberhasilan misinya. Nona Felis jauh lebih licik."


"Cukup!" bentak Felis.


Pangeran Pertama memasang wajah datar. "Ya, lagi pula saya sudah selesai bicara."


"Fokus saja pada misimu kali ini!" titah gadis itu.


"Jika variabel baru tiba-tiba muncul, kemungkinan besar misi saya tercapai lebih awal. Namun apa yang akan terjadi dengan Aster kalau waktu tenggatnya habis?" tanya Pangeran Pertama sambil mengangkat sebelah lengan, menunjukkan gelang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Felis mengernyit. "Dia akan mati."