Vampire Aedes

Vampire Aedes
7. Matanya Aster Mau Dicongkel



Aster pun menunjuk hidungnya ragu-ragu. "Saya?"


"Apa panggilanku kurang keras? Hah!"


"A-aku ke sana! Kenapa wanita itu galak sekali," Aster terbirit-birit melompati semak. Sesampainya di hadapan Putri Kedua dengan sedikit perjuangan, wanita berkepang satu tersebut menarik siku Aster tanpa aba-aba. Pintu pun terbanting untuk kedua kalinya.


Di dalam ruangan seluas enam meter persegi, Aster dilempar ke kasur empuk. Kerudungnya terhempas di lantai. "Adah!" keluh Aster sembari memegang ulu hati. Kejadian ini mengingatkannya akan ulah Sari yang mencoba menyelamatkannya dari gigitan vampir.


Wajah garang Putri Kedua berubah drastis. Dia tersenyum lebar membuat matanya semakin sipit. "Kau memang istimewa, Aster!" kagumnya.


Aster termenung dalam duduknya. Ini pertama kali di dunia mimpi seseorang menyebutkan namanya. "Kakak ini siapa? Mau apa dari saya?"


"Eh, tidak usah formal begitu! Sekarang kau temanku." Putri Kedua memegang kedua bahu Aster agar ia berdiri. Nyatanya ketinggian mereka jomplang. Aster dipandangi dari atas sampai bawah. "Kau manis sekali."


Aster hanya tersenyum malu. "Eh, jangan tersenyum lagi! Nanti gigiku ngilu."


Apa-apaan, sih? Aster membatin tak lupa wajah dengan tatapan datar serta bosan. "Tadi Kakak sangat galak, kenapa sekarang sangat kalem?"


"Jangan panggil 'Kakak'! Panggil aku Lavender. Huh, aku galak karena mereka tak becus! Mencari genangan air saja tak bisa! Mereka pikir bayaran di Istana setimpal dengan jasa mereka? Huh, pelayan selalu memandang tinggi diri sendiri karena menjadi pekerja di Istana."


"Halaman rumahmu sudah paling bersih," ungkap Aster. Memang dari seluruh bagian Istana yang pernah Aster singgahi, tempat Laven adalah yang paling bersih daripada tempat lainnya.


Sebut saja Laven mulai sekarang. Mendekati usia 30-an, Laven masih mementingkan perkara kecantikan. Kini, mengangkat gagang cermin dan menata ulang anak rambutnya. "Aku tahu, terima kasih sudah mengingatkanku."


"Maksud?"


"Akhir-akhir ini, kamar-kamar memang banyak didatangi nyamuk sialan. Siapa lagi kalau bukan ulah bangsawan dari Istana Apung? Tak lama lagi, mereka pasti datang ke sini." Laven memicing saat mengatakan fakta tersebut.


"Istana Apung?" Aster merasa pernah mendengar nama Istana ini.


"Oh, aku lupa. Kau angkatan baru di kerajaan ini. Biar kukasih tahu ya. Dengarkan baik-baik. Kerajaan Plantae memiliki banyak Istana di dalamnya. Beberapa Istana di bawah pimpinan Kerajaan Animalia sengaja dibangun berdampingan di wilayah Plantae. Kau tahu kenapa?"


Aster menggeleng kuat sambil memejamkan mata. Mengapa imajinasi bunga tidurnya sangat kompleks dengan taksonomi? Mungkinkah ini efek stres akibat depresi karena belajar huruf miring semalaman?


"Aku tidak tahu!"


"Katanya untuk menjaga keseimbangan bumi." Laven mengedikkan bahu. "Mereka awalnya tidak tahu apa-apa sepertimu, sepertiku dulu, seperti manusia normal di luar Istana. Karena awalnya tidak kenal dan tiba-tiba diangkat menjadi bangsawan, banyak dari mereka terus bertengkar entah menyukai adik perempuan yang sama atau memperebutkan kekua—"


"Tunggu! Maksudmu, menyukai adik perempuan ...? Bukankah sesama anggota keluarga tidak boleh yang seperti itu?"


"Seperti itu bagaimana? Di sini tidak ada hubungan sedarah. Status keluarga hanya tempelan di luar. Justru menikahi keluarga sendiri sedang viral sekarang. Kau tahu kenapa?" tanya Lavender, lagi.


"Aku tidak tahu apa pun akan sistem kerajaan kalian!" Aster mengaku dengan pipi bersemu merah. Gambaran perlakuan Kris beberapa jam yang lalu muncul di atas kepalanya.


"Jaga dirimu baik-baik."


Akh, hentikan kehaluan ini! Aster pun mengipas-ngipas gambaran itu dan wajah Kris yang mencium puncak rambutnya waktu itu hilang seketika, seperti asap di jalan raya yang ditabrak sebuah truk.


"Menurut buku sejarah, kisah ini sudah belasan tahun silam. Salah satu Istana di Kerajaan Plantae, yaitu Istana Dinding memiliki sepasang pangeran dan putri yang saling jatuh hati. Keduanya pun memiliki anak. Anak itu diprediksi akan didepak dari Istana karena bukan termasuk perwakilan jiwa.


Siapa sangka dia tetap tumbuh baik menjadi seorang putri bangsawan juga, tapi ada juga yang mengatakan anak itu dikutuk. Tidak ada tertulis kisah selanjutnya. Namun, kisah ini memotivasi para bangsawan berumur panjang memiliki keturunan bangsawan juga."


"Oh, maaf, maaf. Kadang jawabanku memang tidak nyambung sama sekali." Laven terkikik. "Kalau kau berdiri di atas tembok jam besar, kau akan melihat sangat jauh sebuah kastil dari arah utara. Itulah Istana Apung."


"Tembok jam besar? Aku mau ke sana melihatnya!"


Laven menahan tubuh Aster dengan membuatnya terbaring lagi. Kemungilan Aster terkurung dalam kedua lengan Laven. Aster memandang wajah tirus di atasnya. "Kau sedang apa?" tanya Aster melihat Laven memejamkan mata cukup lama.


Bulu mata lentik tersebut terbuka, memamerkan kilat manik keunguan yang terjadi beberapa detik. Mata Laven berubah seperti sedia kala, hitam. Dia tersenyum. "Selesai. Kau hanya boleh pergi jika kutendang."


"Hah, maksudnya?" Belum sempat menarik napas, tangan Aster sudah diseret sampai kakinya terseok-seok mengikuti langkah Laven.


Sampai di depan pintu yang tentunya dibuka kasar, wanita itu mengempaskan Aster ke tanah berumput. "Anak remaja ini tidak tahu sopan santun! Bahkan mencongkel matanya belum bisa menebus kesalahan!"


Sari berlari untuk membantu tuannya berdiri. Sejak tadi ia menunggu di bawah pohon. Aster cengo mendapati murka dari wanita yang mengklaim dirinya sebagai teman. "Apa dia memiliki kepribadian ganda?" gumamnya.


Sari sontak bersujud dan berkata, "Putri Kedua, biar saya! Saya siap menebus kesalahan!" Bagaimanapun, Aster adalah tuan di mana pelayan pribadi harus segenap jiwa dan raga melindungi tuannya.


Aster mendesis. "Hei, kau ini kenapa? Kau kan tidak salah! Cepat bangun!" Aster melanting tangan Sari, tetapi perempuan tersebut bersikeras dalam sujudnya. "Kubilang bangun, ini perintah!"


"Sarimu terlalu loyal. Kalian berdua," tunjuknya kepada wanita kembar di sudut halaman, "congkel mata orang ini lalu lempar ke kolam ikan!" titahnya.


"Baik, Tuan Putri!" ucapnya bersamaan.


Aster menatap gelisah ke arah mereka satu per satu. Sari ditahan di masing-masing lengan oleh sari Laven. "Kalian mau apakan pelayanku? Jangan menyentuhnya!" Aster geram melihat Sari pasrah matanya ditutup dengan kain hitam. Apa mereka akan melakukan eksekusi di tempat ini?


"Putri Lavender, apa maksudmu? Ini berlebihan dan tidak manusiawi!" protesnya mendapat tawa cekikikan, membuat dahi Aster berkerut.


Dari belakang, suara kekehan menyahut, "Kakak, lihat usiamu. Sudah bukan masanya untuk bersenang-senang."


"Adik, lihat tampangmu. Sudah masanya serius dengan seseorang."


Aster menoleh, memandang iris hitam semi putih. Kumisnya tipis dan panjang juga berwarna putih. Rambutnya beruban lumayan banyak di bagian pelipis. Reflek, Aster memberi ruang jalan ketika pria itu maju dua langkah. Ia pikir akan lewat, ternyata berniat memberi Aster jabat tangan. "Pangeran Ketiga senang bertemu adik angkat, Putri Aster."


"Saya ...," Aster membalas sambil membuang mata dikarenakan ia lupa memerankan putri keberapa, "juga senang bertemu Pangeran."


"Halamanku ternodai ampas apel (maksudnya adalah cinta yang berbau tidak sedap dan bentuknya tidak enak dilihat)," sindir Lavender, lantas kembali mengurung diri di kamar.


Mulut Aster sedikit terbuka. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Ia langsung melepas tangan Pangeran Ketiga dan hendak menghampiri Sari, tetapi tangannya ditahan Pangeran Ketiga. "Lepaskan tangan saya!"


"Kita baru bertemu."


"Terus kenapa?" Aster sama sekali tidak tertarik dengan orang tua. Mengerikan! Seperti bertemu dengan mucikari. Saat ini tujuannya hanyalah tembok jam besar. Karena Aster masih baru di sini, dia membutuhkan Sari untuk memandu jalan. "Ayo pergi!"


"P-putri, sari Anda belum menjalani hukuman," cegah salah satu pelayan. Otomatis dagu Aster terangkat.


"Terus kenapa? Aku juga putri bangsawan di sini. Berani menghalangiku, kepalamu tenggelam di Samudera Pasifik."


Hei, Putri! Tidak ada Samudera Pasifik di situ!