Vampire Aedes

Vampire Aedes
39. Ditusuk Beneran



Gawat. Bagaimana bisa bertemu Pangeran itu di sini? Tidak. Menyelinap ke kamarnya lalu diketahui pelayan jauh lebih merepotkan. Dalam satu tarikan napas, Aster melangkah masuk. Ia mengesampingkan perasaan takutnya. Berhadapan satu sama lain dengan Pangeran Aedes masih terasa mendebarkan.


Kamar ini cukup temaram yang hanya menghidupkan sebuah lilin di sudut ruangan. Laki-laki yang duduk di tepi jendela tersenyum tipis. Latar belakang langit dan bayangan pohon menutupi sebagian wajahnya.


Aster terkesima pada rambut legam yang mengkilap karena sebelumnya Pangeran Aedes selalu memakai topi. Mata hitamnya pun seperti mutiara. Ehh? Bukankah tadi sekilas matanya berwarna merah?


Gadis itu menggeleng kecil. Mungkin halusinasi. Namun, pemandangan di depan Aster sekarang sungguh tidak manusiawi. Pangeran Aedes seperti malaikat yang tengah bermandikan cahaya bulan.


Suara ketukan pintu membuyarkan imajinasi Aster. Aster membulatkan mata begitu kedua sisi pintu bergerak saling menjauh.


"Kyaak—"


Tanpa aba-aba, Pangeran Aedes menggunakan kekuatannya untuk mengangkat tubuh gadis itu. Sehingga, kini Aster berada di atas pelayan dan kepalanya nyaris menyundul atap. Ia membekap mulut serapat mungkin.


Bahkan pelayan juga terpesona oleh laki-laki tampan. Daritadi bibirnya terbuka namun tidak melontarkan satu kalimat pun.


"Ada apa?" tanya Pangeran tidak sabar. Tatapan pelayan-pelayan itu membuat dia kurang nyaman.


Mereka lekas menunduk. "Kami membawakan camilan malam, Pangeran."


Pangeran Aedes mendekati tempat pelayan berdiri, lalu membuka tudung kecil pada piring di atas nampan tersebut. Tanpa Aster duga, isinya gulungan kertas dengan ikatan pita emas.


Di dunia ini, ada tiga warna pita yang digunakan sebagai pengikat gulungan kertas atau menghias amplop. Tiap warna memiliki artinya masing-masing. Merah untuk perjanjian, kuning untuk permohonan, dan emas untuk perintah.


Namun, siapa anggota Istana Bunga yang bisa memberi perintah padanya? Seingat Aster, perintah hanya bisa dilakukan oleh orang berstatus tinggi kepada seseorang berstatus lebih rendah. Sedangkan penghuni Istana Bunga posisinya berada di bawah Istana Apung.


Aura di sekitar Pangeran Aedes tampak suram tatkala ia membuka isi kertas tersebut. Pengirimnya berasal dari Raja Istana Apung yang menagih kepulangan Pangeran. Pasalnya, batas kunjungan keluar Istana maksimal tiga hari (tidak dihitung perjalanan).


"Kalian pergilah."


Dua pelayan itu mengangguk, lantas berbalik meninggalkan kamar yang mencekamkan. Pangeran Aedes langsung menutup pintu dengan hati-hati. Ia mendongak, menatap Aster melayang di atasnya.


"A-apa kau lihat-lihat!" Aster merapat ke sisi tembok agar gaun roknya tidak terangkat kemana-mana. Jelas sekali dia tadi memandangi betis orang lain.


"Saya tidak melihat kaki Anda." Ia membatalkan kekuatan anginnya sehingga tubuh Aster jatuh ke tangan Pangeran. Diturunkan tanpa persiapan, siapa pun pasti menjerit. Aster meraih leher laki-laki jangkung tersebut dengan panik. Alhasil nama-nama hewan di kebun binatang keluar dari mulutnya.


Pangeran Aedes mengernyitkan dahi selagi gadis itu sibuk bergumam tidak jelas. "Tapi kenapa Anda bisa di sini?"


Seharusnya Aster yang bertanya demikian. "Saya hanya menikmati keindahan kolam air mancur di halaman paviliun ini." Kumohon, jangan bertanya lagi dan turunkan aku! Batinnya cemas. "Pangeran sendiri kenapa bisa di sini?"


"Itu karena kamarku ditempatkan di sini. Katanya tempat ini hanya ditujukan pada tamu-tamu menginap kehormatan Istana. Anda lupa bahwa saya juga tamu?"


"Saya ingat." (Aslinya tidak ingat) Padahal bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan. Dia bertanya lagi. "Saya pikir Anda sudah kembali ke Istana Apung. Kapan Anda berencana pulang?"


Pangeran Aedes tertawa. Di telinganya lebih terdengar seperti "Kapan Anda pergi dari sini?"


Diturunkannya tubuh Aster, membiarkan gadis itu berdiri meski sempoyongan. Otot kakinya sedikit kaku. "Kalau bisa secepatnya. Saya menunda jadwal kan karena Anda sedang sakit, padahal saya tetap akan membawa Anda dalam kondisi pingsan atau sadar."


"Astaga, Pangeran! Saya bisa meninggal akibat kurang perawatan. Saya pingsan juga ulah siapa sih?"


"Maaf, salah saya. Pangeran Kelima pasti sudah menjelaskan diri saya ke Putri Aster. Saya tidak tahan ketika berdekatan dengan Anda, mencium aroma manis dari darah Anda, rasanya saya ingin segera membasahi dahaga, dan menghisapnya sampai tetes terakhir," terang Pangeran Aedes panjang lebar. Disusul senyuman ramah, namun terkesan psiko di mata Aster.


Yang benar saja, Pangeran!


"Apa gigitan saya sesakit itu?"


Waktu kecil, jari telunjuk Aster pernah teriris pecahan piring kaca. Diobati dengan alat seadanya, bahkan tidak tahu cairan merah terus mengalir walau sudah ditutup. Aster yang masih kecil semakin lemah, tapi lukanya semakin basah. Ibu membawanya ke dokter setelah anak malang tersebut tak sadarkan diri.


Waktu itu Aster merasakan perih, sakit, dan lemas. Kalau sekarang, sepertinya tidak terasa apa-apa jika seseorang menikam perutnya.


"Aster?"


"Ah? Iya, sakit sekali!"


"Biasanya orang akan berteriak kesakitan saat saya gigit, tapi Anda tidak. Anda justru berteriak karena kaget."


"T-tidak benar. Justru saya sangat kesakitan sampai tidak mampu berteriak." Pelipisnya berkeringat dingin, bukankah ada yang mengatakan, bahwa sakit yang sebenarnya adalah diam?


Pangeran Aedes tersenyum misterius. "Putri Aster, saya ingin memberi tahu bagaimana saat Anda menipu."


"Maksudnya?"


"Menghindari kontak mata, bicara terbata-bata, dan yang paling mengganggu saya ... detak jantung Anda."


Pangeran Aedes memiliki pendengaran yang tajam, tapi Aster tidak menyangka sampai detak jantung juga terdengar. "Ternyata Anda sangat memperhatikan saya ya."


"Bagaimanapun, sebentar lagi Anda ditempatkan di sisi saya. Segala hal mengenai Putri Aster adalah hal penting bagi saya."


"Sebenarnya ...," Aster meluruskan bibir, "saya tidak bisa lagi merasakan sakit."


Pangeran Aedes tertegun dengan kata "lagi". Jika kemampuan mati rasa adalah bawaan lahir dari perwakilan jiwa, seharusnya dia tidak pernah merasakannya begitu pindah tubuh. Seolah dulu gadis itu pernah merasa kesakitan. Kapan? Jangan katakan saat menjadi manusia.


"Tadinya saya masih ragu. Setelah dibuktikan langsung, ternyata Anda memang tidak merasakan apa pun," ucapnya dengan nada kagum. Sebilah pisau yang ujungnya berwarna merah menari-nari di samping telinga Pangeran Aedes.


Aster melebarkan mata. "Dari mana Anda mendapat pisau?"


"Dari dalam keranjang yang kau bawa." Kini dia berhenti bicara formal. "Sedikit bantuan angin, aku diam-diam menikam perutmu. Aku juga terkejut kau sama sekali tidak tahu."


"Apa ...?" Aster setengah tak percaya menatap gaun violetnya yang mulai dirembesi cairan merah. Itu mengalir dari perutnya. Aster terduduk sambil memegang bekas tusukan berharap aliran berhenti, namun sia-sia.


Pangeran Aedes tersenyum miring. "Aku sudah bilang kan, mau sadar atau tidak, besok aku tetap akan membawamu ke Istana Apung."


"Tapi ... tapi saya tidak boleh pingsan sekarang. Saya harus menemui seseorang. Dia bisa meninggal." Satu-satunya orang yang terbesit di pikiran Aster adalah pelayan pribadinya, Sari.


"Aku mendengar celotehanmu saat kau mondar-mandir di koridor. Jika itu pelayan yang selalu menemanimu, aku yakin dia sudah tak bernyawa."


"Hei! Bagaimana bisa dengan mudah Anda mengatakan seseorang meninggal?" teriaknya marah.


Pangeran Aedes menghela napas. "Cara setiap orang bernapas punya ciri khas. Aku selalu mengingat bunyi napas orang-orang tanpa sadar. Dan sekarang aku tidak mendengar napasnya lagi."


"Bisa saja itu di luar jangkauan Anda."


"Terserah kau saja." Sebagai pengendali angin, di mana pun angin berembus, Pangeran Aedes dapat mendengarnya tanpa batasan jarak maksimum atau minimum. Ia sering menggunakan kekuatan angin untuk menguping pembicaraan penting di tempat pribadi.


"Nggak mungkin ...." Mata Aster yang berkaca-kaca, dilihat dari sudut pandang mana pun tidak akan sebanding dengan manusia itu.


"Lagi pula dia hanya pelayan."