Vampire Aedes

Vampire Aedes
59. Kematian Kris



Ruang kamar yang terasa akrab. Kelambu emas transparan menutup sekujur ranjang. Tanpa membukanya pun, Aster dapat melihat sosok Pangeran Kelima berbaring dengan tenang. Namun, kelegaan itu sama sekali tidak menghinggapi hatinya. Justru melihat posisi Pangeran Kelima yang tidur setenang ini semakin membuat Aster gelisah.


"Kakak Kelima," panggilnya seraya mendekati ranjang dengan langkah ragu.


Perlahan tangan Aster menyibak kelambu tersebut. Anehnya belum ada pergerakan dari Pangeran Kelima. Aster mencoba memanggil laki-laki itu lebih keras, menggoyangkan lengannya, tetapi nihil. Gadis itu menahan napas sambil kemudian menyentuh dada Pangeran Kelima.


Mata Aster membulat sempurna. Benar saja. Tidak ada detak jantung, apalagi napas berat yang menjadi ciri khas seseorang tertidur. Aster menggigit bibir bawahnya. Wajah Pangeran Kelima yang sedang memejamkan mata tampak begitu damai. "Tidak mungkin ...."


"Dia sudah mati, Aster." Pangeran Pertama berdiri di belakang gadis itu, menatap punggung yang terlihat rapuh. "Aku kira kamu sudah tahu dan kupikir kedatanganmu ke sini hari ini adalah memberi salam untuknya terakhir kali."


Aster menggeleng pelan. "Bukankah selama ini Kakak Kelima sehat-sehat saja?"


Ini terlalu mendadak mengingat baru kemarin laki-laki yang menyayanginya itu memberikan dia sekotak permen. Kalau tahu dari awal, Aster tidak akan memberikan kotak tersebut kepada Vanessa. Aster pasti akan memakan manisan pemberian Pangeran Kelima dengan baik.


"Jiwanya memangnya sehat, tetapi tubuhnya tidak. Tubuh Pangeran Kelima hanya bertahan sampai empat belas tahun. Kematian seperti ini biasanya disebabkan oleh ketidaktahuan pemilik tubuh yang baru bahwa tubuh barunya memiliki penyakit organ dalam. Kamu tahu, kan? Perwakilan jiwa sulit peka terhadap rasa sakit."


Hilangnya kepekaan terhadap rasa sakit, ternyata bisa menyebabkan kematian seseorang. Seorang perwakilan jiwa menganggap semua luka di tubuhnya tidak berarti apa-apa karena tidak bisa merasakannya. Cukup berbahaya. Aster hanya beberapa kali merasa sakit dada ketika itu berhubungan dengan tanaman roh yang ia buat. Tanpa sadar Aster menyentuh letak jantungnya berada.


Gadis itu menunduk cukup lama sampai ia bertanya pada sosok di belakang. "Apa perwakilan jiwa memang tidak punya detak jantung?"


"Ah, kamu menyadarinya secepat ini? Menakjubkan! Biasanya perwakilan jiwa yang baru lahir akan sadar kalau jantung mereka tidak berfungsi setelah berganti banyak tubuh. Kamu juga tidak usah bernapas untuk bisa hidup," jelas Pangeran diikuti senyuman kecil. "Sebenarnya kita menggerakkan tubuh mayat."


Aster mengernyit dalam. Penjelasan Pangeran Pertama sulit diterima. Jika benar tubuh sekarang yang Aster gerakkan sudah mati. Lalu dari mana darah itu mengalir saat dirinya digigit Pangeran Aedes?


"Kakak Pertama, bisakah Anda berhenti membual kepada adikku soal kematian tubuhku?"


Aster mendongak ke sumber suara yang baru pertama kali ia dengar, tetapi jelas ntonasi bicaranya familier. Aster hanya menemukan atap kamar berhias lampu-lampu lilin. Suara Pangeran Kelima tanpa wujud seketika membuat bulu kuduknya berdiri. Sedangkan, Pangeran Pertama terbahak-bahak.


"Kakak Kelima?" tanya gadis itu, ragu.


"Iya, Aster. Ini aku, tetapi bukan Kakak Kelima lagi. Namaku Chrysanthemum. Maaf belum sempat mengucap salam perpisahan. Namun aku sudah menjadi roh gentayangan di paviliun ini karena tubuh pemuda pilihanku sudah mati. Salahku tidak melihat angka usianya," jawab Kris menyesal.


Aster meneguk ludah.  "Jadi, Kakak benaran mati?" tanya Aster tak percaya.


Aster berkaca-kaca mendengar pengakuan Pangeran Kelima. Ia menyesal sebab tidak bisa lagi menatap balik tatapan Pangeran Kelima yang hangat. "Aku ingin bertemu denganmu, Kris. Apa nggak bisa kamu hidup lagi, hiks?"


Pangeran Pertama tersentak. "Hei, bukankah kamu dengar sendiri suaranya tadi? Bukan berarti dia sudah mati!"


"Tapi Kakak Kelima masih tidur di sana," ujarnya sambil menunjuk laki-laki yang berbaring di ranjang. "Detak jantungnya berhenti, napasnya juga tidak ada! Apa lagi kalau bukan ...."


Pangeran Pertama mengelus dagu. "Begitu rupanya. Kamu bukan ingin bertemu dengan Chrys, melainkan sosok pemuda yang tubuhnya diambil alih. Benar, kan? Jangan-jangan kalian punya semacam hubungan sebelum Chrys menempati tubuh itu?""


Tiba-tiba angin berembus, melempar Pangeran Pertama hingga ke halaman depan. Kemudian angin tersebut mengunci pintu kamar menyisakan Aster seorang diri. Ah, tidak ... di dalam ruangan tersisa Aster dan satu lagi roh tanaman.


"Chyrs sialan!" teriak Pangeran Pertama dari luar, seraya mengulus punggung yang menghantam berlapis-lapis pintu.


"Aster," panggil Kris. "Apa benar yang dikatakan Pangeran Pertama? Kamu hanya ingin bertemu dengan anak itu dan bukan bertemu denganku? Jika iya, aku akan sangat marah. Kalau diingat-ingat, kamu tidak pernah mendapatiku marah, kan?"


Aster menggeleng cepat. "Kakak Kelima, jangan marah! Aku salah mengucap. Sebenarnya aku memang ingin bertemu denganmu, tetapi sangat sulit kalau hanya suara. Minimal aku bisa menyentuh tangan Kakak Kelima, kemudian melihatmu tersenyum padaku setiap hari."


Keringat dingin menetes dari pelipis Aster. Satu kali. Sebenarnya, satu kali gadis itu melihat Pangeran Kelima marah pada seorang pelayan. Pelayan yang dimaksud langsung menghilang tanpa jejak setelah disiksa, seperti kasus Sari yang dibunuh Pangeran Pertama, Aster ingin melupakannya. Karena itulah, Aster mati-matian menahan untuk bercerita maupun bertanya dan menghindar sebisa mungkin dari Pangeran Kelima.


"Jika Aster mau, aku bisa hidup lagi seperti yang kamu harapkan."


Tentu saja perkataan roh tanaman adalah sunguh-sungguh. Artinya, dia bisa meminta tubuh manusia lagi, lalu hidup dengan tenang seolah-olah membunuh roh manusia dan mengambil raganya merupakan suatu hal yang bukan apa-apa.


"Bagaimana bisa Kakak Kelima menggantungkan jawaban kepada saya? Saya merasa terbebani, jadi lakukanlah sesuka hati Anda. Lagipula saya tidak bisa berbuat untuk menghentikannya."


"Aku bertanya karena takut kamu mungkin membenciku yang mengambil tubuh orang lain. Kamu tidak ingat, tapi aku ingat dengan jelas kata-katamu tentang tubuh pemuda yang kamu ceritakan. Bukankah dia teman lamamu di masa lalu? Sebelum ke Istana, kamu juga mengutukku bersama temanmu yang lain setiap gerbang Istana terbuka."


"Sa-saya tidak ingat! Mana mungkin saya mengutuk Anda?" tanya Aster terkejut.


"Akulah yang tidak bisa berbuat sesuatu karena kamu tidak mengingatnya, tapi bahkan kamu masih mengingat pemuda itu dan terkadang memperlakukanku dengan natural."


***