
"Malaria?" beo Aster. Gadis itu pernah mendengar seseorang bercerita tentang asal-usul obat malaria. "Kalau penyakitnya adalah malaria, bukankah kalian hanya membutuhkan kina?"
"Apa itu kina?" tanya Putri Ketiga, mengernyitkan dahi.
Kemudian Aster menjelaskan apa yang pernah ia dengar. "Pohon kina, biasanya tumbuh di hutan lebat. Orang-orang Eropa zaman dulu menyebutnya 'pohon demam', mereka mengikis kulit kina lalu menjadikannya bubuk. Bubuk tersebut bisa menyembuhkan penyakit malaria jika diseduh."
"Saya tidak tahu pohon yang anda maksud dan orang-orang Eropa ... baru pertama kali ini saya mendengarnya. Bagaimana Anda bisa tahu kalau kina akan menghilangkan malaria?"
"Itu guru saya yang ...." Aster seketika terdiam. Ia bingung jika harus menjelaskan bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini, tetapi ia juga tidak ingat dari mana semua informasi barusan. Aster hanya mengingat satu halaman buku di ingatannya menggambarkan pohon kina begitu jelas.
"Tenyata seorang guru. Putri Aster mempelajari hal itu ketika masih berada di Istana Bunga, kan? Saya penasaran dengan guru Anda. Beliau pasti berwawasan sangat luas." Putri Ketiga menatap barang-barang laboratoriumnya, seolah memikirkan bagaimana membereskan semua barang ini.
Cycy menarik gaun sang kakak, membuat gadis di sampingnya menunduk. "Ayo pergi!" ajaknya antusias.
Putri Ketika melebarkan mata. "Putri Kelima, apa Anda serius?"
Gadis cilik berambut perak tersebut mengangguk mantab. Meskipun ucapan Aster sedikit meragukan karena statusnya sebagai perwakilan jiwa baru, tetapi perkataan yang keluar dari mulut Aster masih sangat murni dan Cycy bisa merasakan hal seperti itu. Sebuah perkataan yang jujur.
Putri Ketiga tersenyum, lalu mengalihkan pandangan ke arah Aster. "Terima kasih, Putri Aster. Lagi-lagi Anda membantu kami." Dua putri membungkuk hormat pada Aster, membuat gadis yang diberi kehormatan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Emm, apa kalian mau pulang? Ke Negeri Tabib?"
Cycy menggeleng.
Putri Ketiga menjawab, "Tidak. Sebelum kembali ke Negeri Tabib, kami harus mengatasi wabah malaria di Negeri Apung. Jika benar pohon kina tumbuh di hutan lebat, artinya kami harus ke sana dan mendapatkan kulit pohonnya sesuai arahan Anda. Setelah itu kembali lagi ke sini."
"Tapi kalian tidak tahu bagaimana bentuknya," ucap Aster ragu.
Pangeran Ketujuh yang sedari tadi diam saja mulai mengangkat suara. "Jauh sebelum kedatangan kalian berdua, sebenarnya ada satu perwakilan dari Negeri Tabib bernama Putri Kina. Seingatku dia juga mendapatkan misi menyembuhkan wabah demam saat itu. Mungkin kalian bisa bertanya padanya."
"Aku sedikit membaca buku sejarah," jawab Pangeran Ketujuh sambil mengedikkan bahu.
"Terima kasih banyak!" ucap keduanya bersamaan. Putri Ketiga meraih tangan Cycy dan mereka saling memandang. Dalam satu kedipan mata, Putri Ketika dan Cycy menghilang entah ke mana.
Aster mengerjapkan mata melihat kejadian tersebut. "Apa mereka kembali ke Negeri Tabib?"
"Entahlah," balas Pangeran Ketujuh sembari menatap lapar leher Aster. Matanya berubah warna menjadi merah gelap.
Aster mundur beberapa langkah, spontan memekik pelan tatkala Pangeran Ketujuh tiba-tiba berada di belakangnya.
"Hei, memangnya digigit olehku sangat sakit? Padahal aku sudah berhati-hati saat melakukannya," ucap Pangeran Ketujuh dengan nada lesu.
Aster berusaha menutup leher dengan kedua tangan agar tidak ada celah bagi taring Pangeran Ketujuh menembus kulitnya. Ia menangkap bayangan letih laki-laki tersebut melalui ujung mata. Pangeran Ketujuh tampak menahan kesabaran dengan meletakkan dagu di pundak Aster. Napas hangat menerpa jemari Aster yang menutup ceruk lehernya.
Kalau dilihat-lihat, Aster kasihan sekali pada Pangeran Ketujuh yang pucat sebab kelaparan. "Hmm, sebenarnya gigitan Anda sama sekali tidak sakit."
"Lalu?" tanya Pangeran Ketujuh mendongakkan kepala.
Aster mengaku, "Memang tidak sakit, tapi saya merasa lemah setiap kali Anda menghisap darah saya."
Pangeran Ketujuh melayangkan tatapan misterius. "Itu karena aku terlalu banyak minum. Kali ini aku akan menghisap sedikit saja, jadi biarkan aku menggigitmu," pintanya.
"Umh, baiklah." Aster pun menyingkirkan helai rambut yang menghalangi leher kecilnya. Hawa dingin mulai merasuk ke tubuh, membuat bulu kuduk Aster berdiri.
Dengan tersenyum tipis, Pangeran Ketujuh mendekatkan wajahnya ke leher Aster, kemudian minum secukupnya. Ya, tadinya ingin minum secukupnya saja. Namun, apa boleh buat? Ini sudah masuk berhari-hari dan Pangeran tidak mendapat asupan darah selama itu. Ia terus menyedot darah Aster sampai gadis dalam dekapannya kehilangan tenaga.
Aster melirik rambut halus Pangeran Ketujuh dengan mata sayu. Ada rasa ingin menjambak rambut tersebut, tetapi tangannya terlalu lemas. "Hah ... nyamuk sialan," umpatnya pelan, lalu matanya memejam sempurna.