Vampire Aedes

Vampire Aedes
21. Kalung Ajaib



"Hormat pada Yang Mulia Raja!" teriak salah seorang pengawas di ruangan sempit. Tidak terlalu sebenarnya, tempat itu tergolong luas. Namun bukan tempat yang luas untuk dijejaki seseorang.


Raja mengangguk dengan segan. Cahaya bulan mengintip dari lubang ventilasi, sangat kontras dengan kegelapan yang menyelimuti keduanya. Sepasang kelereng terlihat bersinar seperti mutiara malam. Kucing putih legenda. "Aku ingin melihatnya."


Pria tua bertanda bunga di dahinya menoleh ke arah kurungan yang menggantung di tepi tembok. "Ini hanya kucing biasa, Yang Mulia," ucapnya seakan mengerti maksud Raja.


Pengurus Istana berusia puluhan, atau mendekati satu abad memang beberapa mengetahui cerita legenda versi kedua. Raja mengernyit tidak suka. "Aku ingin melihatnya" katanya bersikukuh.


Akhirnya pria tua itu menurunkan sangkar kayu dari gantungan. Kucing putih yang semula duduk pun mengubah posisi karena terganggu. Ia berdiri dengan keempat kakinya, lalu mencakar-cakar sisi sangkar.


"Miaw!" Kucing putih mengeong berkali-kali saat Raja berusaha menyentuh lehernya. Tidak bisakah hewan ini diam sejenak? Manusia tidak mempunyai cahaya mata bersahabat dan seekor kucing hanya merasa waspada.


Di luar pintu, Pangeran Kelima merapat ke dinding agar bayangannya tidak nampak. Begitu melihat Raja berjalan sendirian ke ruangan ini, diam-diam Pangeran Kelima sudah mengikuti. Sangat aneh kalau tokoh besar di dalam Istana keluar dari kediaman tanpa penjagaan.


Kemudian suara kucing terdengar lagi. Tembok jam besar adalah tempat paling tinggi di wilayah Istana. Jika ada bahaya ataupun serangan dari luar, jam akan berdentang keras sampai semua penjuru di Istana mendengar. Dan keluhan si kucing seolah menggema. Pangeran Kelima yakin, penghuni Istana mampu mendengarnya dari jarak puluhan meter.


"Sudah saya katakan pada Anda, ini hanya kucing biasa."


Raja berhasil menyentuh leher kucing tersebut. Bulunya halus meski bukan berasal dari jenis kucing yang bagus. Biasanya hewan penyuka ikan akan menurut setelah dielus, tetapi kucing ini malah menancapkan ujung cakarnya ke jari sang raja.


Pengurus di belakangnya mendongak tatkala mendengar erangan dari mulut Yang Mulia. "Hati-hati, Yang Mulia! Hewan ini menggilausai berpisah dengan majikannya."


"...."


"Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja? Perlu saya panggilkan Pangeran Pertama untuk meminta bantuan seseorang dari Negeri Tabib?"


Raja masih terdiam. Ia melirik pria tua sekilas, setelah itu meninggalkan tempat dengan mulut mengatup rapat. Sedangkan sosok sendirian di sana memperhatikan punggung Raja dengan pandangan tersirat.


Pangeran Kelima menelan ludah. Bersembunyi bukan hobinya saat ini, sekarang harusnya pergi menemui keempat kakaknya. Bertemu Raja bukan disengaja, kalau ketahuan juga Yang Mulia tidak bisa berbuat apa-apa. "Heh, kenapa perlu setakut itu dengannya?"


Ia lalu menghilang, meninggalkan beberapa mahkota bunga di lantai. Dan penjaga alias pria tua barusan memergoki jejak tersebut. Seketika kedua alisnya bertautan.


***


"Miaw!"


Aster yang sedari tadi mematut jari di depan anak tangga pertama, spontan mengangkat kepala. Suara kucing ajaib. Benar-benar dia ada di atas sana, tetapi Aster merasakan nada janggal dari ngeongan itu.


Perlahan kaki Aster menapaki anak tangga, detik berikutnya ia mempercepat langkah. Sekali lagi Aster menelan saliva. Penglihatan yang semakin memburuk atau memang di sekitar sini tampak berkabut? Gadis berpakaian tipis itu tidak mengerti.


"Kucing Ajaib!" panggilnya sambil tangan membentuk corong. Aster tersandung garis pintu, sepertinya, dan ia menoleh kanan kiri memastikan keberadaan si kucing.


"Lo di mana sih, Cing?" Terasa dekat, namun tak kunjung terlihat. Kabut putih menghalangi pandangannya.


Tidak ada balasan. Tengkuk Aster merinding, apalagi ditambah bunyi krietan pintu. Peringatan bahaya menggerakkan tubuhnya supaya lekas pergi dari ruangan tersebut. m


Aster menuruni tangga terburu-buru. Untung saja dia belum berganti pakaian layaknya gaun pesta. Masih usang seperti biasa, sehingga memudahkan ia berlari.


Kembali ia menoleh ke belakang. Kenapa tiba-tiba ada kabut? Aster berpikir mungkin saja tempat itu sangat berkabut di pagi hari. Yang ia tahu, alasan daerah pegunungan seriny berkabut karena daerahnya tinggi. Dan awan sangat dekat menyentuh tanah. Emm, masuk akal. Aster berencana ke sana lagi agak siang. Mungkin tiba menjelang sore.


Tunggu. Mendadak bayangan di depan terlihat kabur. "Ehh?" Aster mengucek mata sekaligus panik. Matanya benar-benar terganggu.


Aster menyipitkan mata, berharap tindakan tersebut dapat memperjelas bayangan di depannya. Namun nihil, bahkan saat ada seseorang mendekat, Aster belum mampu melihat wajahnya dengan pasti.


"Ternyata kau di sini! Aku sudah lelah mencarimu ke mana-mana. Ayo ikut aku bersiap!"


"Lepas! Kau mau membawaku kemana?"


Perempuan itu kuat sekali menahan pergelangan Aster. Ah, ya. Dia ingat sekarang. Suara ini persis pelayan pribadi milik Pangeran Kelima.


"Kemana lagi? Tentu saja membantumu bersiap. Hari ini adalah pengangkatanmu sebagai anggota Istana secara resmi. Juga pelaksanaan upacara suci yang sudah lama tidak diadakan."


Pengangkatan? Upacara? Setidaknya kasih tahu Aster bagaimana skenarionya nanti! "Hei, bisakah pelan sedikit? Kepalaku pusing"


"Tidak bisa! Pangeran Kelima akan menghukumku jika terlambat mengurusmu."


Aster mencibir dalam hati. Memangnya dia anak kecil yang mesti diurus? Namun kali ini ia merasa berterima kasih pada sari yang tidak ikhlas membantunya ini, karena dengan penglihatan bermasalah, mustahil bagi Aster berjalan sendirian. Lagi pun, Aster gagal paham penyebabnya. Kalau karena miopi, seharusnya tidak berubah signifikan begini kan? Jangan-jangan ada yang salah dengan kabut tadi.


"Melamun apa? Cepat masuk! Aku sudah menyiapkan beberapa botol wangi di tepi kolam."


Satu kata untuk tempat pemandian pribadi Pangeran Kelima, "Wah!". Biar Aster gambarkan dengan memanfaatkan penglihatan cacat ini. Meski nampak kabur, Aster masih menangkap di atas kolam adalah atap berlubang, sepertinya memang sengaja agar bisa menikmati langit sembari berendam. Lalu cahaya matahari bebas datang, seolah jalannya terbuka lebar.


Aster menoleh ke tirai pembatas di mana pelayan pribadi Pangeran Kelima berjaga di luar sana. Ia tidak mau ikut masuk. Yah, setidaknya dia hanya mau melayani tuannya. Begini tidak buruk. Masih baik pelayan itu menyiapkan setel gaun dan botol berisi wewangian.


Ia lalu membuka sembarang tutup botol, menuangkan seluruh isinya ke kolam pemandian. Aroma harum mulai tercium. Oh, Aster pernah mencium wangi seperti ini. Aroma khas yang lembut dan tidak terlalu menusuk. Tiba-tiba muncul Kris dalam pikirannya, membuat Aster tersentak.


"Apa yang kupikirkan?" gumamnya Astaga sekarang baru mengenali aroma apa, tentu saja aroma Pangeran Kelima! Aster mengendus-endus botol kosong barusan. Tidak salah lagi, memang wangi yang sama.


Aster menggeleng cepat. Tidak ingin ambil pusing. Ia pun melepaskan kain yang melekat pada tubuhnya, kemudian menenggelamkan diri hingga sebatas leher.