Vampire Aedes

Vampire Aedes
64. Malaria Bukan DBD



Tangan dingin Pangeran Ketujuh mencengkeram pergelangan tangan mungil Aster, membuat gadis itu tertegun sejenak lalu mendongak. Gagang pintu gagal ia raih. Kalau begini, dirinya tidak akan bisa mencuci tangan. Pangeran Ketujuh mengernyit mengamati gerak-gerik Aster.


"Kamu mau ke mana?" Ia bertanya seraya menarik tubuh gadis tersebut ke dalam pelukannya. Aster dapat merasakan bahunya bertubrukan dengan dada Pangeran.


"Keluar, mencuci tangan. Hatsyi!" Aster menutup mulut tepat waktu.


"Kali ini kamu tidak mengotori apa pun selain tanganmu, ya?" sarkas Pangeran Ketujuh. Sementara itu, hidung Aster sudah meler. Untungnya Pangeran Ketujuh mengizinkan Aster keluar dengan syarat diikuti penjagaan Pangeran. Laki-laki itu mengirimkan beberapa ekor nyamuk untuk membuntuti Aster.


"Hah ...," keluh Aster mendengar bunyi dengingan yang mengganggu di samping dan belakang. Namun, gadis itu tetap melanjutkan langkah menuju sumber arus sungai mengalir. Butuh mengerahkan banyak usaha demi mencapai dasar sungai.


Ternyata di bawah sana benar-benar mengalir air sungai. Meskipun gelap gulita, Aster dapat melihat percikan air berkilau dengan bantuan sinar bulan. Tidak sabar tangannya menyentuh permukaan air yang bergejolak seolah menyambut tangan Aster. Sejuk dan segar, kedua sensasi ini membuat Aster menarik sudut bibirnya tanpa sadar.


Kaki Aster menyebur ke air sungai yang tidak terlalu dalam, hanya setinggi lutut. Aster menangkup air sungai, kemudian membasuhkan air tersebut ke wajahnya agar lebih segar.


"Hatsyi!"


Aster menunduk, menahan bersin yang hendak keluar. Matanya terfokus pada jari-jari kakinya yang terlihat dengan sangat jelas. Kalau dilihat-lihat, air sungai di Kerajaan Apung begitu jernih. Bahkan Aster dapat melihat aliran merah yang mengalir mengikuti arus sungai.


Deg.


Aster meneguk ludah. Detik berikutnya, ia kembali memperhatikan aliran merah yang cukup samar namun perlahan menjadi semakin jelas. Tingkat kekentalan yang berbeda ini, sudah pasti darah, kan? Gadis itu menatap sekeliling. Hanya ada pohon-pohon hitam tanpa dedaunan. Hampir mustahil menyembunyikan bayangan tubuh di balik batang pohon yang tidak rimbun, kecuali orang tersebut merupakan seorang perwakilan jiwa.


"Siapa itu? Keluar!" teriak Aster setelah daun terakhir pada sebuah pohon terjatuh ke air. "Putri Ketujuh?"


Kuku-kuku hitam mengelus bibir pucat, sangat kontras bekas merah itu menetes dari mulutnya, sepertinya dia baru saja menyantap 'buruan'. Adik kembar Pangeran Ketujuh menatap datar ke arah Aster dengan pupil merah gelap. Gadis di hadapan hanya terdiam membiarkan pikiran Aster berkecamuk.


"Kedudukan membawa kemakmuran. Pohon-pohon menghadapi musim gugur. Air sungai berwarna merah. Jiwa yang terbawa arus kehidupan, semoga selamat dari kematian."


Syair bait keempat yang dibacakan oleh Pangeran Pertama kembali terngiang. Entah kenapa ekspresi Putri Ketujuh terlihat menyedihkan. "Apakah Anda--"


Belum sempat Aster menyelesaikan pertanyaan, sekumpulan nyamuk di samping dan belakang gadis itu menyatu ke bentuk gumpalan hitam, kemudian memunculkan sosok laki-laki alias kakak kembar Putri Ketujuh. Pangeran Ketujuh menghalangi pandangan Aster dengan berdiri di depan gadis itu.


Aster menunduk menatap genggaman tangan Pangeran Ketujuh yang terasa dingin, lalu matanya beralih menatap air sungai yang berubah warna total. Pupil Aster menyusut. Merah di mana-mana, membuat tungkainya lemah.


"Ugh, da-darah ...." Aster hampir terjatuh kalau saja Pangeran Ketujuh tidak menangkapnya. "Terima kasih, Pangeran. Bisakah Anda membawa saya naik? Air sungai tampak mengerikan sekarang."


Pangeran Aedes mengangguk, lantas dengan kekuatan angin memindahkan posisi Aster sekaligus melindungi gadis itu dari tatapan Putri Ketujuh. Di sini Aster mulai mencerna apa pun yang berkaitan dengan syair keempat, air sungai merah, gugur, dan Putri Ketujuh. Sekeras apa pun ia memikirkan hal ini, misinya adalah menyelamatkan seseorang dan ia yakin orang itu mengarah pada Putri Ketujuh.


"Ayo kembali saja, Pangeran. Bu-bukankah Anda lapar?" tanya Aster gelagapan. Entah kenapa menghentikan amarah Pangeran Ketujuh seolah membuatnya terlihat ingin melindungi Putri Ketujuh.


Sedangkan Pangeran Ketujuh, dia memang sangat kelaparan. Alasan dirinya mencari gadis itu sebab alarm dalam tubuh menyadarkan bahwa ia harus meminum darah Aster. Akan tetapi, mengapa bisa bertemu Putri Ketujuh di sini?


Ah, Pangeran Ketujuh lupa bahwasanya setiap malam adiknya itu akan keluar istana dan mencari mangsa. Ia menoleh pada adik kembarnya itu sekali lagi. "Kembalilah jika kamu sudah kenyang, Putri Aedes," ucap Pangeran Ketujuh, kemudian dalam satu kedipan mata membawa Aster kembali ke gubuk Putri Ketiga.


"Hatsyi!" Aster bersin tanpa upaya menutup apa pun. Ia sibuk memikirkan sebuah jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan mengapa. Mengapa harus menyelamatkan Putri Ketujuh yang merupakan induk virus DBD?


"Hatsy--!" Gadis itu mencuramkan alis tatkala Pangeran Ketujuh menutup hidung Aster supaya tidak mengeluarkan butir-butir virus.


Aster memalingkan wajah dan mendengkus kasar. "Anda keterlaluan! Bersin adalah suatu hal yang patut disyukuri karena tidak semua orang bisa mengeluarkan bersin. Kalau tidak jadi bersin rasanya tidak enak tau!" marahnya.


"Berisik!" sentak Pangeran Ketujuh. Hidung Aster semakin merah setiap dia bersin. Entah kenapa hal tersebut membuat Pangeran Ketujuh mendekatkan wajahnya, bersiap menggigit hidung Aster.


Naasnya, gadis itu melarikan diri saat Pangeran Ketujuh menunjukkan taring. Ia mencari Putri Ketika sebagai tameng. "Putri Ketiga, Anda sedang apa? Kelihatannya sangat sibuk? Cycy juga ... ada yang bisa kubantu?"


Dua kakak beradik tersebut memandang aneh ke arah Aster, sedangkan gadis yang sedang berada dalam pengawasan nyamuk jantan hanya bisa memasang wajah canggung. "Saya pasti membantu," imbuhnya.


Putri Ketiga menghela napas. "Kami berdua sudah berhasil menemukan penyebab yang mewabahi Wilayah Apung. Inilah yang menyebabkan penduduk di sini meninggal setelah sakit berhari-hari. JadiĀ  Anda tidak usah membantu apa pun, pekerjaan kami selanjutnya hanya tinggal mencari tanaman herbal yang dapat mengobati wabah penyakit tersebut."


"Wah, selamat! Kalian berdua sudah bekerja keras sejauh ini," puji Aster sambil bertepuk tangan. "Kalau boleh tau, virus apa itu?"


Meskipun Aster sudah tahu kalau penyebabnya yaitu virus dengue, ia tetap bertanya demi mengulur-ulur waktunya bersama Pangeran Ketujuh.


"Ini bukan virus," jawab Cycy.


Aster menunduk, membalas tatapan gadis cilik albino. Sejenak pikirannya kosong. "Apa maksud Cycy bukan virus? Bukankah penduduk terinfeksi virus dengue?"


"Virus apa?" tanya Putri Ketiga. Aster tidak menjawab karena takut salah. "Setelah kami teliti, ini bukan virus, melainkan parasit bernama plasmodium. Plasmodium menginfeksi serangga, kemudian serangga yang terfinfeksi menularkannya ke manusia lewat gigitan. Parasit ini nantinya akan berkembang biak di dalam organ hati manusia sehingga manusia kesakitan dan mati."


Aster hanya tersenyum mendengar penjelasan yang tidak terlalu ia mengerti. Akan tetapi, garis kesimpulan paling jelas adalah kematian penduduk di sekitar Istana Apung ternyata bukan disebakan oleh virus DBD. Selama ini, Aster mengira, penyebab utama kematian mereka adalah ulah Pangeran atau Putri Ketujuh dari Istana Apung. Fakta bahwa mereka perwakilan jiwa Aedes Aygepty membuat prasangka negatif itu membesar.


"Lalu, apa nama penyakit ini?" tanya Aster penasaran. Jika bukan dengue, tentu saja artinya bukan sakit demam berdarah.


Putri Ketiga tampak membolak-balik catatan. "Ah, penyakit ini bernama malaria."