
Gadis itu mematut dirinya di depan cermin, menatap rambut hitam yang hampir terlupakan. Lalu, atensinya bergeser ke sudut ruangan sempit dengan sebuah ranjang tidur. Boneka-boneka lembut dan selimut tebal menutup seluruh bagian kasur. Terlihat sumpek. Kamar siapa sih ini?
"Kamarmu, Bodoh!"
Aster menoleh cepat. Sesosok gadis cantik bak peri Pixi yang memiliki rambut putih bergelombang, serta mata amber berkilau seperti kucing. Mengingatkannya pada kucing ajaib. Atau mungkin .... "Lo ... kucing ajaib bukan?"
Ini hanya tebakan untuk memastikan, tapi gadis remaja di depannya terus mendongak congkak sambil memasang pandangan sinis. Sama sekali tidak berniat menjawab.
Ingatan Aster saat pertama kali menjumpai sosok jelmaan kucing ajaib tiba-tiba terkulik. Itu sudah sangat lama. Dia muncul dalam wujud manusia hanya sekali, selepas itu selalu berubah menjadi kucing putih.
"Sudah ingat, miaw? Kau sangat lamban dari pilihan-pilihan Papa sebelumnya. Tidak, kau yang paling lamban, miaw!"
"Kenapa gue di sini?"
Kaki Aster terasa lemah dan mau tak mau harus berlutut di bawah dekat sofa, tempat gadis itu duduk. Sekarang giliran Aster yang mengangkat kepala.
"Kau masih bertanya, miaw? Kenapa kau di sini? Lihatlah siapa orang di balik selimut itu!"
Tanpa beranjak dari tempatnya, Aster pun menarik ujung selimut. Betapa terkejut ia melihat tubuhnya terbaring dengan banyak keringat. Aster segera menurunkan selimut ke batas leher. Sepertinya akan sulit bernapas kalau memakai selimut sampai atas kepala.
"Gue masih nggak ngerti. Kok gue udah balik aja ke sini? Tapi, roh sama raga gue nggak bisa nyatu."
"Jangan bermimpi, miaw! Tidak mungkin kau kembali tanpa menyelesaikan misi dari Papa. Ini hanya peringatan karena kau, sangat, bodoh!"
"Hei, stop ya ngatain gue bodoh!"
"Dasar bodoh! Lamban! Aku ingin sekali mengubahmu jadi bekicot, tapi sayang, kalung ajaibku berada di tangan si sialan itu, miaw!" ucapnya geram. Sungguh, dalam hati Aster ketakutan dengan perubahan air muka dari imut ke garang. Ia sampai meneguk saliva kasar.
"A-ah, b-benar! Kalung ajaibnya di mana?" Pak Steven menyuruhnya menemukan kalung itu yang bahkan tidak tahu bagaimana penampakannya.
"Kau pikir aku akan kasih tahu? Itu kan salah satu dari tiga misi yang diberikan Papa."
"Gue nggak punya informan lain! Masa apa-apa gue sendirian mulu? Harusnya lo spill dikit entah dari bentuknya kek, ciri-ciri atau apalah! Gimana coba kalau gue nggak bisa nyelesain misi-misinya?"
Gadis itu tertawa remeh. "Kenapa kau tidak manfaatkan saja Pangeran Pertama?"
Pangeran Pertama? Mata Aster membulat. "Lo serius? Mana mungkin laki-laki picik kek dia bisa dimanfaatkan?"
"Miaw ... itu tergantung bagaimana pintar-pintarnya kau, padahal banyak dari mereka yang bisa dimanfaatkan. Pangeran Pertama, Pangeran Ketujuh, Ratu. Mereka jadi tidak berguna karena kebodohanmu."
"Kenapa yang lo sebutin cuma yang punya dendam kesumat sama gue sih!"
"Bodoh, miaw! Kalau begitu, carilah siapa pun yang bisa kau manfaatkan! Asal kalung ajaibku bisa kembali—ah tidak miaw, kucing putih yang paling penting. Kau bahkan belum menemukan kucingnya dasar siput! Apa sih yang sudah kau lakukan di sana? Tidak ada!"
"Ugh," keluh Aster. Gadis itu terus menghujaminya dengan segala omelan. Telinganya sakit. "Ya terus gimana?"
Panggil saja jelmaan kucing ajaib. Dia mencakar lengan sofa untuk menyalurkan ketidakpuasannya, seolah melupakan jati dirinya yang sekarang tidak memiliki cakar. Akan tetapi, tindakan kasar itu cukup menimbulkan kerusakan. Beberapa busa sofa tampak berhamburan keluar.
"Hatcyi!" Aster menggosok-gosok hidung yang terasa gatal. Ia masih bisa mendengar jelmaan kucing ajaib yang sedang mengatur napas. Kedua alisnya mengernyit.
"Kau tahu, miaw, aku tidak yakin apakah kata-kataku ini bisa memberimu stimulan untuk segera menyelesaikan misi atau tidak." Akhirnya dia bicara! Nada serius itu mengundang perhatian Aster dengan sangat intens. "Jangan terlalu serius menatap miaw! Menunduk, kau bodoh," makinya.
***
"Ini semua berkat Anda, makanya Putri Ketigabelas tidak sadarkan diri. Anda tidak boleh seenaknya membawa Putri pergi sebelum lukanya sembuh!" Suara Putri Ketiga menentang keputusan Pangeran Aedes. Telunjuknya menuding wajah Pangeran dengan tajam.
Seperti yang sudah dikatakan, ia harus membawa Putri Aster entah dalam kondisi waras atau pingsan hari ini juga. Surat dari Raja Istana Apung merupakan perintah mutlak baginya agar lekas kembali.
Pangeran memasang tatapan heran. "Jangan berlebihan! Aku hanya sedikit melukai perutnya, bahkan dia tidak meringis kesakitan."
"Astaga, Pangeran. Seharusnya Anda mendorong pisaunya lebih keras," sarkas Putri Ketiga.
"Aku tadi memang berniat seperti itu."
Aster daritadi memejamkan mata. Namun, dia bisa mendengar semua percakapan di antara Putri Ketiga dan Pangeran Ketujuh.
"Ka-kalian ... hentikan," ucap Aster dengan lirih.
"Putri! Kau sudah bangun?" Jiwa tabib Putri Ketiga meronta-ronta. Ia menghampiri Aster dan langsung memegang pungung tangan Aster yang masih terbaring lemah di tempat tidur. "Apa masih sakit? Katakan sesuatu!"
Gadis itu memaksakan diri untuk duduk. Ia bertatapan dengan mata Pangeran Ketujuh. Ternyata dia sudah kembali pada kenyataan, bahwa kembali ke dunia nyata hanyalah mimpi. "Saya baik-baik saja—"
"Kenapa kau terus mengatakan baik-baik saja, padahal sampai pingsan seperti ini karena kehabisan darah. Sia-sia saja aku mengkhawatirkanmu." Nadanya terdengar kesal.
Pangeran Aedes menyahut, "Benar, kan? Dia memang terlihat sekarat, tapi aslinya sehat wal afiat."
"Pangeran Ketujuh, bukan itu maksud saya," sangkal Aster. "Saya merasa baik-baik saja. Namun, faktanya tubuh saya lemas sampai tidak mampu berdiri. Jangan lupa, ini semua gara-gara Anda."
Pangeran Aedes tampak tak peduli. "Jadi benar kau masih bisa duduk di kereta? Karena besok pagi-pagi sekali kita harus meninggalkan Istana Bunga."
Begitu mendadak? Aster terdiam. Kalau diingat-ingat mereka berencana membawa Aster saat matahari terbenam. Itu sudah melewatkan banyak waktu.
"Kenapa diam? Jika kau tidak mau, aku akan melakukannya meski dengan cara yang sedikit kasar."
Aster menjawab cepat, "Maafkan saya, tapi saya bersedia ikut Anda tanpa paksaan."
"Justru lebih bagus. Aku juga malas terus-terusan memaksa orang."
Terjadi keheningan selama beberapa saat. Aster memecahnya dengan pertanyaan. "Omong-omong, bagaimana nasib jasad pelayan saya?"
"Kau masih saja memikirkan hal-hal merepotkan, ya." Pangeran Ketujuh mengembuskan napas kasar. Tangannya dilipat di dada sambil duduk enggak di kursi dekat ranjang.
Putri Ketiga setuju dengan Pangeran. Ia mengangguk. "Kali ini saya sependapat dengan Anda. Putri Ketigabelas, sebaiknya jangan mengurus pelayan itu lagi. Kami pihak luar tidak berani berbuat sejauh ini kalau bukan permintaan Putri."
"A-apa yang terjadi? Kalian tidak mungkin meninggalkannya di sudut halaman dapur istana, kan?" tanya Aster.
Putri Ketiga sempat mencuri pandang ke arah Pangeran Aedes yang kurang berminat. "Maaf, tapi lebih mencurigakan kalau ada orang luar yang menemukan pelayan istana di tempat yang tersembunyi. Jadi ...."
Aster membulatkan mata setelah Putri Ketiga menyelesaikan kalimatnya. "APA KAU GILA?!"