
"TIDAK!" teriaknya disertai napas terengah-engah. Aster menghirup banyak udara dengan mencoba tenang. Jarinya mengcengkeram selimut merah tebal yang hangat. Ia sudah kembali ke dunia nyata, tapi lagi-lagi harus memastikan tanggal berapa sekarang.
Pintu berderit, menandakan seseorang membukanya. Ternyata wanita berusia empat puluhan yang telah melahirkan serta merawatnya. "Aster sayang, kamu baik-baik saja kan?"
"Ibu!" Aster memeluk wanita itu sangat erat. Setiap bermimpi tentang Pangeran Aedes entah mengapa dirinya selalu merasa rindu dengan orang-orang di dunia nyata. Seakan lama sekali tidak bertemu.
"Mimpi buruk?" Sang Ibu mengelus rambut legam anaknya. Berharap dapat mengurangi ketakutan yang Aster rasakan.
"Iya, aku takut," ucapnya lirih.
Ibu melepas kedua tangan Aster. Lalu ia menoel hidung mancung putrinya. "Kebiasaan deh, kamu kalau demam pasti sering mimpi buruk. Tengah malam begini, tidur lagi ah, jangan lupa baca doa."
Aster tersenyum melihat kepergian wanita tersebut. Ia menoleh pada jam kecil berbentuk apel di atas nakas. Pukul dua belas tepat. Karena dia tak mau kembali ke dunia mimpi—lebih benarnya takut kembali ke dunia itu jika tertidur, Aster memilih keluar rumah mencari udara segar.
Ia memakai hoodie merah dengan sandal selop berbahan karet. Tak lupa membawa smartphone. Sungguh? Penampilannya sekarang seperti gadis nakal yang ingin pergi berkencan.
"Engh ... siapa ya?" Suara serak keluar dari lubang ponsel.
Aster memutar mata seraya mendekatkan layar ke telinga. "Bukain pintu! Gue di depan kostan lo."
"WHAT?!" Suara Vanesa menggelegar, membuat Aster sontak menjauhkan ponselnya. Dari luar pun mampu mendengar jeritan temannya.
Sambungan telepon terputus. Aster menoleh ke arah sisi jendela yang tadinya gelap, kini berubah terang. Di balik kaca, tirai maroon terungkap dan terlihat wajah Vanessa dengan rambut acak-acakan. Aster tersenyum lucu.
Ceklek.
"Oi, tengah malem ke rumah gue, lo mau ngepet? Mending jangan aish! Gue sedang mengalami krisis moneter."
Aster tidak mengindahkan perkataan tadi. Anggap saja angin. Vanesa kesal pun melempar bantal sofa ke arahnya. Aster tidak menanggapi, bahkan membiarkan bantal itu mendarat di lantai. Merasa ada yang bermasalah, Vanesa mendekati teman dekatnya dengan duduk di sebelah.
"Nggak kayak biasanya. Lo kenapa lemes gitu?" Vanesa menyentuh dahi Aster. "Jidat lo panas. Pantesan muka lo rada-rada pucet."
"Nggak. Muka gue kedinginan."
"Ya iyalah, malem udara dingin. Siang baru panas. Eh, tapi serius panas banget. Mau gue buatin minuman anget?"
Aster mengangguk lemah. "Serah lo, tapi cepetan ya."
"Dih, dasar nggak tau malu."
Suara bising kendaraan di luar menambah pening di kepala. Ah, baru teringat sekarang hari apa. Ya, malam Minggu. Biasanya geng motor asyik mengadu kecepatan.
Tiba-tiba hidungnya mengendus aroma tidak enak, sangat tidak menenangkan. Vanesa datang membawa cangkir berisi cairan hangat. "Silakan diminum, Tuan Putri," sarkasnya.
Aster pun menyeruput sedikit, lalu berhenti. Rasanya terlalu familier. "Ini minuman apa?"
"Mana gue tau. Itu resep dari Tante gue. Kata tante gue sih, biar bisa tidur nyenyak. Anaknya kan punya insom."
"Ooh." Aster mengangguk-angguk. Kemudian meletakkan cangkir ke meja. Sepertinya, dia takkan menyeruput minuman itu lagi—di dunia mana pun. Mereka minuman dengan rasa dan efek yang sama.
"Lo kenapa? Ada masalah ya sama keluarga? Jangan-jangan lo kabur lagi dari rumah," tebaknya.
"Nggak usah ngawur deh. Justru gue nemenin lo ke sini. Kan gue kasian sama cewek kayak lo, sendirian, pasti kesepian."
"Lebay! Sebenernya ada sih, sepupu gue numpang tinggal di sini. Hitung-hitung nemenin. Ini jam ...," Vanesa menghidupkan layar ponsel sehingga menampilkan 00.15 waktu setempat, "aneh. Harusnya tuh bocah udah pulang daritadi. Gue aduin ke mamaknya biar tau rasa dia."
"Siapa yang bocah, Bocil?" timpal cowok yang tiba-tiba melintas di belakang sofa sambil menenteng jaket hitam di pundaknya. Ia menjambak pelan kuciran Vanessa.
"Aw!" Vanesa menoleh cepat sambil menarik rambut dari genggaman 'bocah'. "Lo nyelonong dari mana sih. Kayak hantu."
Aster menatap cowok itu tanpa berkedip. Merasa diperhatikan, lawan mata menatap balik. Namun kali ini bukan seringaian remeh, melainkan kedipan nakal.
"Eh, lo? Bukannya kakak kelas yang waktu itu nabrak gue di lorong sekolah?" tanya Aster sembari menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk. Seharusnya tidak salah, Aster takkan lupa dengan wajah-wajah yang pernah ia temui secara langsung. Orang di seberang mejanya sangat mirip kakak kelas, Jambul Khatulistiwa!
Aster yakin akan mendapat tanggapan seperti ini. Ia berdiri, lalu membungkuk sebentar. Lagi pula kejadian itu terjadi di mimpi. "Ooh, gue Aster. Btw nggak kok. Gue yang harusnya bilang 'sorry'. Gue salah inget."
Vanessa menyela, "Hmm, salah orang kali. Sepupu gue nggak sekolah di tempat kita. Mana mungkin lo tabrakan sama dia?"
"Loh, iyakah?" Aster membulatkan mata.
Rizho tersenyum miring. "No. Gue udah pindah. Kemarin mampir bentar ke SMP lo buat liat-liat. Besok Senin kita berangkat bareng, mau nggak?" tawarnya. Tanpa menunggu respon, ia berlari menuju kamar. Terdengar suara pintu yang dibanting keras.
"Tuh bocah! Dih, dari awal gue udah curiga karena barang yang dia bawa banyak beut! Padahal udah kelas tiga, hobi banget ortunya oper anak sana-sini. Nggak ngabisin duit apa ya. Pokoknya, gue, harus minta upah sama Tante," celotehnya panjang lebar.
Aster mengerti kenapa Rizho langsung pergi. Ia juga ingin bersembunyi di kamar setelah mendengar kicauan Vanesa. "Emm, Nes. Menurut lo bisa nggak sih ketemu seseorang di dalam mimpi sebelum ketemuan di dunia real?"
Vanesa mengernyit. "Jadi lo ketemu sama Rizho di mimpi, atau gimana?"
"Nggaklah. Gue nanya, menurut lo bisa nggak?"
"Bisa aja sih. Gue pernah baca artikel, katanya pas tidur, jiwa manusia sedang melintasi ruang dan waktu. Dalam perjalanan itu, mereka bisa menyaksikan peristiwa atau orang-orang yang dikenal, bahkan orang asing." Vanessa mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. "Nah, gue baru nemu!" serunya.
"Apaan, Nes?"
"Lo masih inget nggak? Murid SMA Satu yang mimpiin pacarnya, dulu ampe viral loh di kalangan anak-anak SMP," dia menunjukkan foto selfie pasangan yang saling rangkul, "cowoknya siaran di speaker lapangan nyari nih cewek yang dimimpiin. So sweet, parah!"
"Ini kan ...." Aster mengernyit dalam. Pasangan yang Vanesa katakan serupa wajah-wajah Pangeran dan Putri Ketujuh dari Istana Apung.
"Kak Aidan sama Kak Ailyn."
"Nggak inget gue, kalau dulu pernah ada kasus kayak gini di SMA Satu." Sulit dipercaya. Yang semula ia kira kembaran, berubah menjadi pasangan. Gambar mereka tampak serasi. Kak Aidan memakai hoodie hitam menyandarkan kepala ke pundak Kak Ailyn. Cewek di sebelahnya menarik kedua sudut bibir lebar-lebar. Aster bisa membayangkan suara tawa menyeramkan yang nanti akan keluar.
"Lo sih, kudet! Berita lawas padahal. So sweet aish!"
"Its crazy you know?" Mengingat hubungan keduanya terikat darah.
"I don't think so—btw, lo mau tidur di mana? Kamar tamu udah ada 'penghuni'nya. Bareng gue?" Vanesa menaik turunkan alis.
"Gahhh, gue mau pulang." Aster beranjak dari sofa.
"Tungguin ...!"
Vanesa menarik penutup kepala dari jaket yang Aster kenakan, membuatnya terpaksa menoleh. "Ck, apaan?"
"Nggak takut diculik? Bahaya tau cewek keluar malem. Apa lagi lo sendirian, mau gue anterin?"
"Yaudah, ayok."
"Hisk, padahal gue cuma basa-basi. Nape lo ayokin sih?"
Aster menepuk pantat temannya. "Sialan lo! Laknat, gue pulang sendiri aja."
"Aw, tumbenan marah lo. PMS?" Dari pagar, Vanesa mengamati sosok Aster yang cepat mengecil. Sepertinya ia berlari. Sepuluh jarinya mengatup, membentuk corong kemudian ditempelkan ke mulut. "Btw hati-hati yaa, Aster!"
Vanesa berbalik dan seketika berjengkit mendapati muka rata. "Bocah! Lo kalau muncul nggak usah kayak hantu gitu bisa nggak sih?!" Kehadiran sepupunya itu selalu dalam keheningan.
Mengabaikan pertanyaan, Rizho balik bertanya. "Temen lo balik sendiri?"
"Iyalah, takut lo makan."
Rizho kembali ke kamar untuk mengambil jaket. Melihat itu, Vanessa merentangkan tangan di depan pintu pagar, bermaksud menghalangi. "Lo mau keluyuran lagi?"
"Gue mau menyelamatkan Tuan Putri." Tangannya menarik kuciran Vanessa yang merupakan titik kelemahan cewek tersebut. Entah kenapa saat ujung kucirnya ditarik, tubuhnya reflek bergerak ke samping. Menemukan celah, Rizho lantas memutar kunci dan menghadiahi sebuah seringaian meremehkan kepada Vanesa.
"Gue aduin ke Tante!"