Vampire Aedes

Vampire Aedes
27. Masih Pelatihan



Beberapa menit kemudian, Aster berpikir kemana lagi ia harus mencari isi syairnya. Setiap rak sudah tertulis genre buku dengan jelas, namun tidak ada kedekatan terhadap sastra atau sejenisnya.


"Di mana sih?" gumamnya.


"Di sini ternyata." Suara Pangeran Kelima berhasil membuat Aster menoleh. Seperti kelinci nakal yang tertangkap basah mencuri wortel. Kris mendongak, memastikan genre buku. "Aku mencarimu daritadi."


Entah sihir apa yang Aster gunakan padanya. Gadis itu terlihat lemah dan lugu. Pangeran Kelima tidak bisa tidak memedulikannya. Sejak desas-desus perwakilan jiwa baru hendak melarikan diri, Kris sudah lama mengkhawatirkan Aster.


"Maaf, aku merasa bosan dengan semua buku. Jadi pergi keliling sebentar. Kakak Kelima boleh menghukumku." Tidak, tidak. Jangan benaran menghukumku! Batin Aster. Ia hanya menyalin dialog karakter utama dalam komik.


Terdengar Pangeran Kelima mengembuskan napas. "Hukuman tidak semudah yang kau kira. Kali ini kumaafkan, tapi di masa depan bisakah kau lebih berterus terang?"


"Hah?" Aster mengernyit karena tidak paham.


"Aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu."


Terjadi keheningan beberapa saat. Aster terpaku di tempat dengan pikiran berkecamuk. Ia ibarat orang luar yang belum mengerti dengan siapa berbicara. Posisi lima terasa kini memiliki aura yang kuat di mata Aster dan Aster dapat merasakan aura tersebut. "Da-dari mana Kakak tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu?"


Apa dia mampu membaca pikiran? Batin Aster bertanya.


Kris melebarkan mata. "Jadi benar kau sembunyikan sesuatu dariku?!"


"Eh?"


Kris memiringkan kepala sambil tersenyum "Tadi aku asal menebak. Sekarang sangat penasaran dengan rahasia adikku."


Salah satu sudut bibir Kris tertarik, membentuk senyuman tidak simetris. "Karena kau bosan dengan semua buku. Kita langsung berlatih kemampuan dasar, bagaimana?"


"Setuju!" balas Aster tidak sabar. Toh percuma berada di sini, sedikit pun petunjuk tidak ditemukan. Segala tulisan membuat perutnya hampir mual.


Akhirnya Pangeran Kelima mengajak Aster pindah lokasi. "Perpustakaan tidak cocok untuk berlatih."


Aster mengernyitkan alis. Mereka berdua menapaki pekarangan sederhana nyaris tanpa tanaman hidup. Pemandangan seperti ini sangat ia kenal. Paviliun Keheningan. Dinamakan demikian karena suasana di sekitar bangunan sangatlah sepi. Hampir tidak ada orang datang berkunjung.


"Bukan berarti harus ke gubukku kan?"


"Tapi tempat paling cocok untuk melatih kemampuan dasar memang kediaman diri sendiri. Ayo!" Kris mengarahkan dagu ke depan, mengisyaratkan Aster supaya memberi muka pada Pangeran Kelima.


Mau tak mau Aster memandu jalan. "Kakak Kelima, maaf atas sambutanku yang kurang ramah. Aku hanya merasa di sini tidak layak bagi seorang pangeran yang terbiasa tinggal di paviliun utama. Ini juga pertama kalinya seseorang mengunjungi tempatku."


"Di mana para pelayan?" tanya Pangeran Kelima yang heran sejak memasuki area paviliun tidak ada satu pun pelayan menundukkan kepala.


"Aku hanya mengambil seorang pelayan perempuan. Sebelum menemui Kakak Kelima, aku menyuruhnya melakukan sesuatu dan dia baru akan kembali nanti sore."


"Kabar bahwa kau hanya merekrut satu pelayan ternyata benar. Orang Istana menganggap Putri Ke-13 tidak menghargai niat baik Ratu, namun setelah melihat sendiri, paviliun sesempit ini takkan kuat menampung puluhan pelayan."


Aster menepuk tangan sekali untuk melepas rasa canggung. "Haha, Kakak Kelima sangat pengertian. Berjalan ke sini sangat melelahkan, apa Kakak Kelima mau duduk sebentar? Aku ingin menyiapkan minum."


"Itu tidak perlu. Kita kemari dengan tujuan berlatih. Kamu bukan kembali ke paviliun dan aku bukan menikmati hidangan apa pun."