Vampire Aedes

Vampire Aedes
32. Ingatan Roh Aster



Aster mengangkat telapak tangan begitu nyamuk itu terbang dan hinggap di lengan kirinya. Plak! Hewan penghisap darah yang daritadi menganggu penglihatan Aster pun remuk di tangan.


"Mati kau!" Detik berikutnya, air muka Aster menjadi tegang, wajahnya semakin pucat namun bukan sebab kedinginan. "M-matilah aku ...," nada bicaranya bergetar mengingat peraturan tentang melukai makhluk hidup. Tidak hanya melukai, bahkan nyamuk itu baru saja mati.


Di sisi lain, Pangeran Aedes mengerang kesakitan sembari memegang dadanya. Senyum miring itu terukir di wajah. "Dia cukup gesit. Untung saja aku sempat merasakan darahnya yang manis."


"Melihatmu tersenyum senang, sepertinya Pangeran Ketujuh sudah menemukan makhluk hidup itu," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari samping.


Sulit menebak bagaimana cara orang tersebut bisa naik. Pangeran Aedes tengah memijak salah satu atap paviliun utama setinggi dua puluh kaki. Hanya perwakilan jiwa bersayap yang dapat memiliki kemampuan terbang, kecuali orang itu memakai artefak terlarang.


"Bagaimana Anda bisa menaiki atap?"


"Pertanyaanmu salah, harusnya kau bertanya apa tidak ada yang tidak bisa kulakukan?"


Laki-laki bersepatu coklat mengetatkan tali penutup kepala. "Memang posisi lima besar. Tanpa sembunyi-sembunyi, Pangeran Pertama memata-matai saya dengan cukup berani."


"Lihatlah! Memangnya siapa yang memata-matai siapa? Apa yang sedang kau lakukan di atapku? Jangan-jangan kau punya ketertarikan aneh padaku?"


"Jadi ini kediaman Anda, ya. Saya baru tahu. Kalau begitu, saya permisi." Pangeran Aedes memberi salam sekilas. Ia pun melompat dari satu atap ke atap lain dibantu dengan kemampuan terbangnya.


Embusan angin malam cukup kuat, apalagi ditambah pengaruh pergerakan Pangeran Aedes yang secepat kilat. Hal itu membuat Pangeran Pertama hampir terhempas jika tidak segera mengatur keseimbangan. Ia melindungi mata dari sapuan angin dengan menghalanginya menggunakan lengan.


Sekelebat sinar biru memantul dari pergelangan tangan Pangeran Pertama, sontak membuat Pangeran Aedes mengalihkan pandangannya. Namun, sinar itu seketika menghilang. "Perhiasan di balik lengan Pangeran Pertama kelihatannya menarik."


Di luar pengetahuan Pangeran Aedes, sinar biru tadi semakin terang benderang. Si empu yang menyadari hal tersebut mengeluh dengan berteriak, "Hei ini sangat silau! Aku sungguh akan membanting kalungmu hingga berkeping-keping jika tidak bisa diam."


"...."


Beberapa menit kemudian, tempat sekitar Pangeran Pertama kembali gelap. Senyum kemenangan ia tunjukkan sembari mencium liontin biru pekat dalam genggamannya. "Cantik sekali. Aku janji akan mengembalikanmu tepat di hari kemenanganku. Tentu saja selama bendamu di tanganku, kau harus menuruti perintahku, karena kalau tidak ...." Pangeran Pertama sengaja menggantung kalimatnya disusul tawa ejekan.


"...." Perhiasan itu berkedip-kedip seakan merespon ucapan Pangeran Pertama.


Setiap bagian paviliun utama begitu luas sehingga tawa Pangeran Pertama tidak mampu menembus celah dinding kamar orang lain. Akan tetapi, tidak berlaku bagi perwakilan jiwa hewan. Hewan cenderung memiliki pendengaran sangat tajam. Pangeran Aedes dapat menangkap bisikan para gadis di perjamuan, bahkan dengkuran Putri Ketigabelas dari paviliun Keheningan. Padahal jarak antara paviliun khusus (tempat penerima tamu) sangat jauh.


Terkait apa pun rencana Pangeran Pertama, sebenarnya ia tak mau ambil pusing. Sekarang dia lelah dan ingin berbaring.


"Apa Pangeran Ketujuh sudah menemukannya?" tanya pemilik suara yang muncul dari balik pohon.


Pangeran Aedes menoleh. Kalau bukan sebab penglihatan sangat tajam, tentu sosok yang berlindung di bawah kegelapan takkan tampak. "Tepat seperti tebakan Pangeran Ketiga," katanya terjeda sejenak, "Omong-omong, Anda mengawasi saya dengan sangat baik, ya."


"Hahah, tidak juga. Saya kebetulan lewat. Dan selamat karena telah berhasil menemukan makhluk hidup yang kau cari. Itu melegakan."


"Hm, terima kasih. Semua berkat Anda serta dukungan Yang Mulia Raja dan Ratu."


"Sama-sama. Jadi, kapan kau berencana membawa anak itu?" Pangeran Ketiga berjalan mendekat, keluar dari bayang-bayang pohon dan menyambut sinar bulan. Tak lupa sebuah senyuman yang seakan menjadi ciri khas.


"Secepatnya. Tolong atur pertemuan kami."


Pangeran Aedes mengangguk. "Tunggu," ujarnya ketika Pangeran Ketiga hendak pergi.


"Apa ada?"


"... Kau tahu tentang kucing?"


Pangeran Ketiga menaikkan sebelah alis. Kenapa belakangan ini semua orang membahas soal kucing? Penjaga istana kewalahan mengatasi kucing yang semula terus menggelayuti Putri Ketigabelas. Yang Mulia Raja bersikeras menemui kucing putih di tembok jam raksasa, setelah itu dia keluar dari sana dengan wajah muram.


"Kalau itu kucing, mungkin maksud Anda adalah kucing putih yang terkurung di puncak menara istana?"


"Terkurung ... di menara?"


"Anda tahu kan, peraturan istana bunga yang tidak memperbolehkan hewan dari dunia manusia masuk? Kucing itu berasal dari desa. Tadinya mau dibuang, tapi karena Yang Mulia Raja tidak mengizinkan ...." Pangeran Ketiga menghentikan ucapannya selagi Pangeran Aedes larut dalam pikiran. "Apa Anda tertarik memeliharanya?"


Pangeran Aedes tersentak. "Tidak. Aku hanya bertanya."


Penghuni di Istana Apung hidup dengan saling memangsa. Makhluk yang lemah tidak akan bertahan lama dan yang kuat berkuasa. Pangeran Ketika terkekeh. "Belum ada sehari, mungkin kucingnya mati cepat di tangan saudara Anda."


Pangeran Aedes setuju dengan ucapan Pangeran Ketiga, kecuali bagian kucing mati. Karena saat Pangeran Aedes memutuskan untuk membawa peliharaan ke Istana Apung, ia akan menjaga dan merawatnya sepenuh hati.


"Baiklah. Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda sampaikan—"


"Tunggu," Pangeran Aedes memotong. Nada datarnya membuat Pangeran Ketiga tersenyum kesal. "Aku ingin bertanya satu hal."


"Tentang apa lagi?"


"Apa mungkin perwakilan jiwa yang sudah melakukan upacara penobatan dapat mengingat masa lalu dari pemilik tubuh yang asli?"


"Hmm, sependek pemahaman saya ... tidak bisa. Setelah melakukan upacara, Yang Mulia Raja sudah menghapus semua memori tubuh, kecuali ingatan roh atau jiwa itu sendiri. Ingatan roh berada di luar kemampuan Raja."


Pada dasarnya, perwakilan jiwa tidak memiliki bentuk fisik. Ia meminjam tubuh manusia untuk merasakan kehidupan di dunia. Meski begitu, meminjam fisik manusia tidak membuat mereka bisa disebut manusia.


Ingatan roh yang dimaksud Pangeran Ketiga adalah ingatan seorang perwakilan jiwa dari pertama kali lahir memasuki tubuh manusia, hingga mati, dan memasuki tubuh manusia yang baru. Berapa kali pun tubuh itu hancur, asalkan roh tersebut ingin hidup, maka ia dapat mendiami raga manusia dengan pergantian ratusan bahkan ribuan kali. Dalam pergantian tubuh lama ke tubuh baru, ingatan manusia akan dihapus dan digantikan oleh ingatan roh. Itu sebabnya, seorang perwakilan jiwa takkan mengingat memori tubuh manusia yang ia ambil alih.


"Anda mengatakan kucing putih itu berasal dari desa kan?"


"Iya, benar. Dia dibawa bersamaan dengan sang putri. Kenapa Anda terus menanyakan soal kucing itu?"


Pangeran Aedes tak menjawab. Ia malah menyuruh Pangeran Ketiga pergi tanpa mengucapkan terima kasih.


"Yah, nasib menjadi bawahan memang sulit. Lain kali, saya tidak akan mau memberikan informasi apa pun kecuali Anda membayar saya."


****