Vampire Aedes

Vampire Aedes
41. Diam-Diam Perhatian



"Apa boleh buat? Kami akan pergi. Ayo, Putri Ketigabelas. Pejamkan mata Anda, lalu dalam hati teriakkan tempat itu sekeras mungkin."


Aster mengangguk. Ia mengikuti arahan Putri Ketiga. "Dapur Istana!"


Begitu mata terbuka. Mereka bertiga sudah berpindah di depan bangunan yang cukup sepi. Dapur Istana hanya digunakan saat ada perjamuan besar seperti perjamuan untuk menyambut tamu kehormatan, perjamuan setelah upacara penobatan, perjamuan setelah berhasil menjalankan misi kerajaan, dan banyak lagi. Selain acara berskala besar, para pelayan biasanya memakai dapur terpisah yang letaknya berbeda-beda di setiap paviliun.


"Hah ... pintunya digembok. Bagaimana caranya masuk?" tanya Putri Ketiga.


"Tidak perlu. Pelayan saya ada di belakang dapur. Itu masih di luar, lebih tepatnya halaman belakang." Karena kurang detail saat menyebutkan tempatnya, artefak tidak bisa memahami, membuat perpindahan mereka sedikit meleset. "Putri Ketiga, kita perlu berjalan memutar."


Teleportasi dengan artefak yang tertanam di tubuh cukup menguras banyak energi. Mereka membatasi tiga sampai lima kali pemakaian dalam sehari. Jika lebih dari lima kali melakukan teleportasi, artinya ada dua kemungkinan. Yaitu artefak yang ditanam sangat mahal karena hanya menguras sedikit energi atau tidak tubuh yang dijadikan wajah memiliki aliran energi yang melimpah. Namun, Putri Ketiga bukan termasuk di antara keduanya. Hari ini dia baru satu kali, tapi satu per tiga energi tubuhnya seakan tersedot.


"Bisakah gendong aku?" Cycy mengangkat kedua tangan ke arah Aster.


Aster terkejut karena Cycy bukan meminta Putri Ketiga, tapi malah meminta gendong ke dia? Nak, kau tidak salah orang?


"Gendong aku," ulangnya. Lama-lama terdengar seperti perintah ya. Akhirnya Aster tidak mampu menolak karena tampang gadis kecil yang lemah begitu memikat.


"Maaf, ya. Gaun saya mungkin akan mengotori gaun cantik Cycy kalau gendong di depan. Silahkan naik ke punggung saya."


Aster berjongkok dengan menekuk sebelah lutut, kemudian Cycy mengalungkan tangan ke lehernya. Mereka pun berjalan berdampingan. Putri Ketiga terus mengelus rambut perak Cycy yang terlihat halus.


Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya Aster mengerti kenapa Cycy tidak meminta gendong pada Putri Ketiga. Putri Ketiga pasti kelelahan setelah menggunakan artefak itu.


"Anda mengatakan pelayan itu dicelakai seseorang? Memang apa yang dia lakukan sampai dicelakai begitu?"


"Dia tidak melakukan perbuatan apa-apa. Pelayan saya tidak salah. Orang itu memang suka mengganggu saya dengan banyak cara, termasuk melukai pelayan pribadi saya."


"Hmm, melukai orang yang tidak berbuat salah. Mungkinkah orang itu iri dengan pelayan Anda?"


"Tidak mungkin." Pangeran Pertama punya kedudukan tinggi. Untuk apa iri dengan seorang pelayan? "Dia hanya ingin mengganggu saya. Semacam hobi unfaedah."


"Saya berusaha memhami situasi Anda. Tiga belas, ya ...."


"Huft, iya." Aster harus bersaing dengan dua belas perwakilan jiwa lainnya jika ingin naik tingkat. Itu pun kalau dia ingin menaikkan posisi agar lebih kuat, sedangkan tujuannya hanya misi dari Pak Steven.


"Omong-omong, apa luka Anda sungguh baik-baik saja?" tanya Putri Ketiga. Tekanan ketika berjalan membuat darahnya mengucur keluar.


"Jangan khawatir."


"Konyol! Saya mana mungkin khawatir. Saya risih melihatnya. Lebih baik Anda mengikat area luka itu dengan kain agar pendarahannya berhenti, lalu Anda ganti baju yang bersih."


Tiba-tiba angin berhembus kencang. Rambut Aster bergerak ke depan, menutupi seluruh wajahnya. Ia sempat menghentikan langkah sebab pandangannya terganggu. Untung saja Cycy mau menyisir rambut Aster tanpa dimintai tolong.


"T-terima kasih, Cycy."


"Sebenarnya angin aneh apa?!" ucap Putri Ketiga kesal seraya menata rambutnya kembali.


"Saya tidak tahu."


"Oh, ada yang lebih aneh. Sejak kapan Anda mengikat syal itu?"


"Hah?" Aster mengikuti arah pandang Putri Ketiga. Ia menunduk, mendapati syal hitam melilit sempurna di perutnya. "Ah ... ini bukan tindakan saya. Saya juga tidak tahu," bohongnya.


"Ikatannya rapi dan kuat. Hantu mana yang melakukannya, tapi kalau begini, saya sudah tidak terlalu khawatir."


Aster menggeleng heran. Padahal, tadi Putri Ketiga mengatakan tidak khawatir. Gengsinya benar-benar lebih tinggi dari jambulnya Kak Rizho.


"Kita hampir sampai. Di belakang semak-semak itu, saya menyuruh Sari menunggu di sana."


"Aku mau turun," pinta Cycy.


Aster menurunkannya dengan hati-hati. Cycy seperti mahakarya yang terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Melihatnya langsung berlari menuju semak-semak, mengundang kecemasan. "Hati-hati!"


Tanpa disangka, Pangeran Aedes ada di sana. Aster tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia kaget. Putri Ketiga tampak kebingungan. "Anda?"


"Kalian lama sekali, huh?"


"Tadi salah titik," jawab Aster jengkel.


"Kalau begitu kemampuan terbang? Apa angin aneh tadi adalah ulahnya?" Tebakan itu diangguki oleh Aster. "Hoo, jadi syal hitam itu milik Anda?"


"Berisik! Lihatlah, pelayan yang daritadi kalian bicarakan sudah tidak bernapas." Pangeran Aedes melayangkan tubuh Sari ke hadapan Putri Ketiga.


Gadis itu segera memalingkan wajah jijik juga menutup kedua mata Cycy. "Hiiiy! Monster apa yang—" ucapannya terhenti begitu melihat air mata membanjiri pipi Aster.


"Tidak, tidak ...." Aster ingin menyentuh wajah pucat di depannya, tapi tangannya kaku.


Setelah itu, Pangeran Aedes melepas kekuatannya sehingga mayat yang wajahnya hampir tidak dikenali tersebut langsung menghantam tanah. "Inilah buktinya."


"Bukti?" Aster marah karena Pangeran Aedes memperlakukan jenazah orang dengan kasar dan tidak bermoral. "Apa Anda membunuhnya?"


"Apa? Kenapa kau menuduhku yang tidak-tidak?"


"Anda datang lebih awal untuk membunuhnya kan? Hanya demi menciptakan sebuah bukti. Tanpa perasaan! Setelah ini, Anda pasti mau pamer kalau kekuatan Anda sangat hebat."


"Aku ke sini saja dia sudah tak bernyawa. Kenapa kau malah menyalahkan kematiannya padaku yang berusaha membantumu?"


"Memang bantuan apa sih yang Anda bicarakan? Nganterin nyawa orang, lo sebut itu 'bantuan' hah'? Setan!"


Pangeran Aedes menurunkan atensi ke syal hitam miliknya. "Kau pikir aku suka membunuh manusia?"


"Memang iya, kan?"


"Kau ini—"


"Sudah, sudah!" Sementara dua mulut saling beradu, Putri Ketiga sibuk berjongkok menganalisa kematian pelayan tersebut. "Dia meninggal keracunan."


"Benarkah hanya keracunan?" Aster bertanya memastikan.


"Anda bertanya seakan sudah tahu kalau pelayan ini memang diracuni."


"Racun tanaman, tapi saya tidak tahu tanaman jenis apa itu. Seseorang pernah terkena racun yang sama, bedanya dia langsung meninggal."


"Terdengar seperti bukan tanaman biasa."


"Pangeran Pertama yang menumbuhkan tanaman beracun itu."


"Pantas saja."


Aster mendongak. "Anda tahu?"


"Dia pria narsis yang pernah menggodaku di pesta Kekaisaran. Perwakilan dari Heracleum mantegazzianum atau Hogweed. Tanaman itu memang sangat beracun di setiap bagiannya. Jika daun atau batangnya disentuh dengan tangan kosong, kulit tangan akan panas melepuh seperti luka bakar."


"Tapi saya tidak apa-apa, padahal juga menyentuhnya."


"Mungkin karena Anda bukan manusia."


"Ya?" Aster masih belum mengerti.


Putri Ketiga lanjut menjelaskan, "Efeknya terasa setelah tiga hari, tapi Pangeran Pertama bisa mempercepat reaksi dan menambah kadar racun sesuai yang dia mau."


"Ah ....," keluhnya. Andai saja dia tak menyuruh Sari membersihkan tanaman-tanaman terkutuk itu.


"Meskipun pelayan Anda masih hidup, saya tetap tidak bisa memberi dia obat. Apalagi menyembuhkannya."


"Kenapa?"


"Karena penyebabnya bukan tanaman biasa. Hanya Pangeran Pertama yang bisa memurnikan racun tersebut. Dia yang menciptakan, jadi harus dia yang memusnahkan."


Aster tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saat berdekatan dengan Pangeran Pertama, ia yakin bahwa itu sangat berbahaya. Apa harusnya menuruti permintaan Pangeran? Semua ini membuat kepalanya berdenyut-denyut. Akan tetapi, setelah semua kegaduhan ini, Aster sedikit lelah.


"Kakak, jatuh!"


"Oh, tidak!" Setelah mendengar peringatan Cycy, Putri Ketiga langsung spontan menangkap tubuh Aster. Ternyata tubuhnya lebih berat dari perkiraan. Mereka berdua sama-sama jatuh. "Ya ampun, bagaimana bisa Anda pingsan tanpa mengatakan apa pun?"