Vampire Aedes

Vampire Aedes
53. Poor, Aster!



Keesokan harinya, Aster diajak Pangeran jalan-jalan mengelilingi taman Istana Apung. Gadis itu puas setelah mengubah Istana kelabu menjadi maroon. Ia terkikik pelan. "Cantik, kan?"


Pangeran Ketujuh malas menjawab, "Hm."


Rencananya Pangeran, dia ingin memberikan kejutan bahwa kucing yang selama ini Aster cari ada di sini. Entah ekspresi apa yang akan Aster tunjukkan. Sebenarnya ia ingin memberi kejutan di kamar saja, di mana kamar adalah tempat teraman. Namun, dia tak mau mengambil resiko dengan menghadiahkan mayat kucing.


Pangeran tidak tahu penyebabnya apa sehingga makhluk lemah akan langsung memisahkan nyawanya jika masuk ke sana. Lalu, mata tajam Pangeran Ketujuh menatap Aster. Gadis berambut panjang sepunggung dengan aroma yang manis. Dia pasti takkan bertahan tanpa gigitan Pangeran. Anehnya, hal itu membuat Aster semakin lemah serta kuat secara bersamaan.


Pangeran Aedes menghela napas perlahan. Sementara gadis bergaun merah itu tampak senang mengibas-ngibaskan ujung sayap transparannya. Gaun tersebut berasal dari Putri Ketujuh setelah permainan adik-kakak yang melelahkan.


Tadinya Aster heran atas sikap Putri Ketujuh yang berubah drastis di siang hari. Dia menjadi lebih tenang dan tidak melontarkan kata-kata ancaman. Gadis itu menepuk jidat, teringat kejadian semalam yang meninggalkan bekas trauma. Ah, mungkin ... sebenarnya mental Aster sudah lama tergoncang.


Ia bahkan sudah melupakan identitasnya sendiri. Apa kau gila? Jika ada pertanyaan itu, Aster akan menjawab sambil tertawa. "Ya!"


Lagipula, dunia ini tidak kalah menyedihkan. Huh? Kok, menyedihkan? Tiba-tiba kepala Aster berdenyut. Lelaki di belakangnya tersentak. Dia cepat tanggap menangkap tubuh Aster yang terhuyung ke belakang.


"Hati-hati."


Pipi Aster terasa panas. Detik berikutnya, ia dikejutkan oleh seekor kucing putih yang muncul dari pundak Pangeran Ketujuh. Hampir saja gadis itu membuat gendang telinganya berdarah. Sebuah jari telunjuk mengunci bibir Aster.


"Aw! Dari mana Pangeran mendapat kucing ini?" tanya Aster dengan tatapan sakit. Pasalnya, cakar-cakar Kucing Ajaib kembali membuat rambut Aster berantakan.


"Hadiah."


"Hadiah?"


Pangeran Ketujuh mengangguk. Ia tak mungkin mengatakan kalau hewan yang selama ini dicari Aster merupakan hadiah dari Pangeran Ketiga Istana Bunga, selain ayam tentunya.


Aster mengernyit. "Anda tidak mungkin memberi saya hadiah. Katakan saja dengan jujur, pasti Anda kan yang menyembunyikan kucing saya?"


Pangeran Ketujuh mengorek kuping, risih. "Pelankan suaramu."


Justru Aster semakin mengeraskan suara. "Kenapa Anda mencuri peliharaan saya?"


"Aku memang menyembunyikannya, tapi aku tidak mencuri. Lagi-lagi kau menuduhku sembarangan ya."


Raut kecewa seketika membuat Aster gelagapan. "Ma-maaf, itu karena saya tidak punya pikiran positif tentang Anda. Pangeran Ketujuh kan bukan orang yang seperti ini."


"Seperti apa?"


"Ah, maksud saya, Anda adalah tipe yang tidak mungkin memberikan orang lain semacam hadiah. Jika hadiahnya berupa manusia sekarat di dalam kotak atau bangkai karnivora, mungkin saya baru percaya."


Kemudian, Aster harus menyesali perkataannya seumur hidup. Setelah menikmati keindahan taman Istana Apung, ia kembali ke kamar dengan disambut oleh tumpukan kotak kayu. Mulutnya terbuka lebar saat kotak itu terbuka dan lututnya pun lemas seketika.


Bruk!


Di mata Putri Ketujuh, isi kotak tersebut adalah daging steak dengan kolam saus merah yang menggiurkan. Seperti sarden. Aster menelan saliva susah.


"Anu, Putri Ketujuh, bisakah Anda membawanya ke kamarmu sendiri? Sepertinya Pangeran Ketujuh memang salah kamar," pinta Aster dengan wajah kaku.


Melihat wajah Aster pucat, Putri Ketujuh kebingungan. Namun, taringnya semakin terlihat. "Hehe, apa kau takut?"


"Hah?" Aster paling benci ketika Putri Ketujuh sudah tertawa. Sungguh. Nyamuk betina ini pasti memiliki ide untuk menakut-nakuti Aster. "Kyaaa!"


Tuh, kan!


"Pfft! Ayo teriak lagi, pasti akan banyak tamu yang datang." Putri Ketujuh malah tambah semangat menusukkan kuku panjang ke arah perut mayat di dalam kotak. Ususnya ditarik keluar.


Tidak, ah, hentikan! Bibir Aster mengatup rapat. Ia melirik kucing putih yang memiringkan kepala di atas kotak lainnya. Tatapan yang meminta bantuan lantas membuat kucing bergerak melompati wajah Putri Ketujuh. Alhasil gadis itu dapat terlepas dari sihir angin yang sedari tadi menahan tubuh Aster.


Aster berlari sekuat tenaga menyusuri lorong Istana. Lorong yang tadinya gelap, perlahan-lahan menjadi terang. Setiap Aster melangkahkan kaki ke tempat gelap tersebut, lilin-lilin di sisi tembok akan menyala otomatis.


Bukannya lega, Aster justru semakin takut. Biasanya tempat paling terang adalah tempat yang berbahaya. Saat tiba di ujung lorong, terdapat dua belokan, yaitu kiri dan kanan. Sisi kanan sedikit lebih bercahaya jika dibandingkan sisi kiri. Oleh karena itu, Aster tanpa ragu memilih belok ke kiri.


Brukk!


Mendadak hidungnya membentur sesuatu yang keras. Aster terhuyung ke belakang sembari mengelus ujung hidung yang mimisan. Gadis itu mendongak untuk melihat apa yang ditabraknya.


Kupu-kupu? Hewan bersayap tersebut melintasi wajah Aster. Motif sayap kecil yang terasa familier. Mana mungkin Aster lupa? Meskipun kali ini sayap kupu-kupunya bercahaya, ia masih ingat bentuknya.


Kedua alis Aster bertautan. Awalnya hewan mungil itu hanya seekor, kemudian muncul sekitar dua atau empat ekor yang berputar mengelilingi sosok laki-laki. Kini Aster dapat melihat sosok di depannya dengan jelas.


"Pangeran Danaus," gumamnya pelan. Suara Aster terdengar waspada. Terlebih mata Pangeran berbeda dari saat pertama kali bertemu. Kuning menyala.


"Astaga, astaga, apa kau tersesat Manis?" Lelaki itu tersenyum miring sambil memandang Aster rendah. siapa pun tahu bahwa isi hati orang ini sedang kotor. Wajah bersinarnya sudah tidak mempan menembus


"Astaga, astaga ....," ledek Aster menirukan kalimat Pangeran Danaus. Mulutnya sengaja dimonyongkan agar siluman kupu-kupu di depannya marah. Seketika ia melupakan masalah kotak hadiah dan malah berhadapan dengan antagonis yang sebenarnya.


Aster melebarkan mata saat kawanan kupu-kupu yang mengitari tubuh Pangeran Danaus berjatuhan. Mereka berubah ke wujud hewan menggeliat dengan bulu-bulu hitamnya yang runcing.


"A-apa yang—" Gadis itu beringsut ke belakang, sedangkan ulat-ulat bergerak cepat ke arahnya.


Aster tidak tahu apa yang akan terjadi jika kulitnya bersentuhan dengan ulat tersebut. Apakah rasa gatal yang panas? Mustahil, mengingat wujud kupu-kupu kemarin telah menghisap darah Aster, ulat kali ini pasti lebih berbahaya.


Sepertinya Pangeran Danaus benar-benar marah. Dia sangat menikmati ketakutan yang terpancar di wajah gadis itu. Sebuah kekehan kecil pun keluar dari mulut Pangeran. Bahkan, warna irisnya semakin terang.


"Apa kau takut?" tanya Pangeran Danaus. "Membosankan sekali."


Sementara itu, ulat-ulat kesayangannya mencoba menusukkan bulu beracun ke kulit Aster.