
"Hei, jangan menatapku! Dasar peringkat tiga belas!" cemoohnya. Tadi jelas-jelas ia menatap putri bergaun merah, tapi pemakai gaun putih di sebelahnya malah kepedean. Aster tertawa canggung sembari mencari pengalihan lain. Dilihatnya wajah mereka satu per satu. Beberapa tempat tampak kosong. Kris tidak duduk di sini. Apa Raja menahan anak itu sangat lama?
Suasana makan malam begitu asing. Benar, makan malam. Aster melirik hidangan utama di depannya. Berkali-kali ia kesulitan meneguk saliva. Aroma yang lezat sampai air liur Aster hendak menetes.
"Wah! Hahaha, makanannya sangat enak!" ujar putri kepedean. Dia mengipas-ngipaskan asap makanan hangat ke arah samping.
Perempuan bergaun merah berdecak. "Putri Teratai jangan mengujiku! Makanan manusia sama sekali tidak enak. Aku mau makan hidangan yang lain," protesnya.
Pangeran Pertama mengambil inisiatif. "Putri Pertama, bagaimana dengan ikan rebus? Aku sudah mencoba rasanya tidak meninggalkan bau amis. Bukankah kau menyukai wangi serai?"
"Jangan menggoda kakakku!" sembur Putri Teratai memasang wajah garang. Piring yang tadinya dibawa Pangeran Pertama langsung direbut tanpa memperhatikan etika. Seperti anggota keluarga yang akrab, menawarkan piring tersebut kepada Putri Mawar. "Kak Mawar, cobalah. Ini sangat enak!"
"Tidak mau."
Aster menutup mulut, pipinya merona mendengar penolakan kakak cantik di seberang meja. Terutama setelah tahu namanya. Mawar, kan? Nama itu paling cocok untuk perempuan tersebut. Memiliki arti cantik dalam hal kejahatan. Menikmati wajah cantik adalah dosa. Bahkan keindahan dapat menyeretmu ke neraka.
Putri Mawar menatap tanpa minat makanan mewah di atas piring, justru pandangannya terus mengarah ke Pangeran Misterius ... eh? Aster mengamati lebih intens, sosok misterius walau sejak awal sudah ia duga bahwa itu Pangeran Aedes. Namun, menyadari perasaan Putri Mawar tercetak dari pipi yang memerah samar. Pesona keduanya terasa berbahaya!
Putri Teratai mulai peka dengan mengikuti arah pandang Putri Mawar. Ia mengernyit tidak suka. "Bukankah Anda perwakilan ketujuh dari Istana Apung?"
"Benar, Putri."
"Menakjubkan! Ini pertama kalinya saya mendengar suara Anda. Kenapa daritadi Anda memakai topi? Apa Anda tidak berniat memperkenalkan diri?" sindirnya. Seluruh perwakilan yang hadir tampak antusias menanti rupa wajah Pangeran tersebut.
Aster sama terpakunya dengan yang lain. Meski pernah melihat wajah Pangeran Aedes, tapi ketampanan orang itu tidak pernah membuat berhenti penasaran.
"Maaf, perkenalan diri pertama kali akan saya persembahkan untuk Yang Mulia Raja dan Ratu."
"Apa maksudnya?" gumam Aster, masih terdengar oleh Pangeran pertama.
"Putri Teratai hanya mengetes pengetahuan anak itu. Jika dia memperkenalkan diri sekarang, artinya menganggap kedudukan Raja dan Ratu sama dengan kedudukan kita."
"Ah, begitu ...." Aster mengangguk-angguk.
Putri Mawar menjitak kepala Putri Teratai, kemudian meminta maaf pada Pangeran Aedes. Laki-laki itu hanya tersenyum maklum.
Aster tersenyum tanpa sadar, kemudian meneguk ludah mendengar bunyi perutnya sendiri. Tiba-tiba bunyi perut tersebut mengalihkan perhatian, orang-orang mencari sumber suara dan menoleh ke arahnya. Terutama Pangeran Pertama, dia menoleh sambil memasang wajah dengan mulut agak terbuka. "Kau lapar?"
"Itu ...." Aster kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Entah kenapa pelayan tidak menyiapkan alat makan seperti garpu, pisau, atau sendok. Ia membasahi bibir bawahnya yang kering, lalu tertawa canggung. "Bukankah kita semua belum makan?"
"Astaga, memangnya daritadi apa yang sedang kami lakukan? Dan kau malah bertanya apa kita semua belum makan?" ujar Putri Teratai sinis. Sedangkan, Putri Mawar menundukkan kepala, menyembunyikan tawa meremehkan namun Aster masih mendengarnya dengan jelas.
Pangeran Pertama mengelus dagu beberapa detik. "Aku penasaran, apa yang selama ini Pangeran Kelima ajarkan? Menyerap aroma makanan adalah kemampuan dasar bagi perwakilan bunga."
Putri Teratai menggebrak meja. "Jangan-jangan selama ini—" Ia menutup mulut. "Adik, apa kau memakannya dengan mulutmu?"
Ehh? Aster merasa seluruh tatapan mereka menusuk dan mengecilkan keberanian seseorang untuk menjelaskan. Kelima jarinya memegang sapu tangan seerat mungkin. "It-itu ...."
"Sebenarnya," potong Pangeran Aedes. Aster bernapas lega karena seluruh perhatian kini berpindah ke laki-laki itu. "Perwakilan Istana Apung juga tidak mempelajari penyerapan aroma. Kami makan menggunakan mulut, kami mengunyah makanan setiap hari, kami juga ke kamar kecil dua sampai tiga kali sehari."
Anggota Istana Bunga haruslah wangi, harum semerbak setiap ia lewat. Bagaimana bisa kami memakan kotoran? Itulah yang mereka pikirkan.
"Tapi, yang paling penting." Pangeran Aedes kembali melanjutkan, "Mungkin Istana Bunga lupa karena kunjungan dari kami setelah bertahun-tahun lamanya, tapi kami tidak makan sesuatu yang sudah mati."
Suasana menjadi hening. Putri Teratai tampak kebingungan. "Maksudmu, kami harus menyediakan makhluk hidup untuk Anda makan?"
"Kurang lebih seperti yang Putri katakan."
Aster menaikkan kedua alis, teringat akan sebuah insiden saat ia mendatangi Istana Apung. Pangeran menyiapkan banyak makanan mewah, tetapi tidak satu pun yang ia sentuh. Gadis itu memikirkan beberapa kemungkinan di tengah rasa lapar. Mungkin karena Pangeran Aedes adalah perwakilan nyamuk, dia hanya menghisap darah makhluk hidup. Kemungkinan kedua, dia makan dengan cara menghisap darah secara langsung dari mangsa yang masih hidup. Seperti waktu itu ...
Bahu Aster gemetaran mengingat taring-taring yang menembus kulit lehernya. Pangeran Pertama menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja. Dia belum makan apa pun sejak tadi pagi. Ia tidak jauh berbeda dengan manusia. Aster menggeleng sambil tersenyum setengah hati.
"Yah, mau bagaimana lagi," ucap salah satu Pangeran berambut hitam. Dia tampak familier dengan iris hitam semi putih. Tunggu, bukankah itu Si Albino?
"Apa Kakak Ketiga ingin menyampaikan sesuatu? Seingatku, Kakak Ketiga yang bertugas mengawasi perjamuan malam ini."
"Putri Teratai berisik sekali. Apa Putri tahu maksud dari menyiapkan makhluk hidup?" Pangeran Ketiga tersenyum, benar, dia selalu tersenyum. Putri Teratai tersentak. "Sebenarnya kami, perwakilan dari Istana Bunga juga punya aturan. Anda pasti tahu larangan membunuh makhluk hidup. Bahkan makanan yang tersedia di sini dimasak oleh manusia."
"Tentu saja saya tahu."
"Yah, mau bagaimana lagi," ulangnya. "Karena kami belum menekan makhluk hidup yang dapat Anda makan. Maukah Anda mencarinya di luar?"
"Tawaran yang bagus," jawab Pangeran Aedes sambil tersenyum miring. "Saya akan mencarinya sendiri Yang Mulia. Saya permisi."
Kepergian Pangeran Ketujuh dari Istana Apung mengundang tanda tanya. Sebagian besar belum mengetahui makhluk hidup seperti apa yang sedang dia cari. Aster menelisik Pangeran Ketiga dengan tatapan intens. Seolah Pangeran Ketiga adalah satu-satunya orang yang tahu tentang Pangeran Ketujuh.
"Hellbourne, apa kau menyembunyikan sesuatu yang menarik di balik senyummu?" tanya Pangeran Pertama penasaran.
"Sepertinya Kakak Pertama ingin tahu."
"Benar, coba katakan apa itu?" Pangeran Pertama tersenyum kesal. Sebelah tangannya mengepal kuat di bawah meja, bersiap memukul.
"Hanya kelucuan saat memandang Putri Aster. Daritadi perutnya berbunyi. Bagi saya, itu sangat menarik!" Pangeran Ketiga tersenyum ke arah Aster, membuat si gadis tersebut mengutuknya dalam hati.
Kenapa gue dibawa-bawa? Salah gue apa coba?
Anehnya, perhatian Pangeran Pertama mudah dialihkan. Sekarang dia pura-pura khawatir dengan Aster. "Ah, bagaimana ini? Adik tersayangku kelaparan. Apa kau ingin aku suapi?"
"Haha, tidak usah." Aster mendorong tangan Pangeran Pertama yang sudah memuluk potongan daging bakar. Makanan yang aromanya telah diserap hanya menyisakan ampasnya saja. Bentuk fisik yang tampak menggiurkan di meja makan ini, semuanya adalah ampas. "Maaf, tapi saya harus undur diri karena ada urusan."
Setelah mendapat persetujuan, Aster langsung diantar pelayan dan pelayan itu menutup pintu ruangan dengan keras. Aster pun memilih berjongkok di depan teras. Memeluk perutnya yang sejak tadi berbunyi. Dari luar, percakapan mereka terdengar jelas.
"Memangnya urusan apa yang dilakukan jiwa baru?"
"Entahlah ... ahaha! Kakak Pertama, jangan terlalu sering menganggunya."
"Baiklah, Teratai-ku yang manis!"