
Aster menajamkan indra pendengarnya di sela-sela jerit kesakitan. Ia mencari suara kucing ajaib. Samar-samar panggilan 'bodoh' itu terdengar.
Bodoh, miaw!
Tuh, kan. Suaranya muncul lagi. Ekor matanya melirik beberapa pelayan yang melewati halaman. Ia tampak biasa saja, bahkan tidak menggubris jeritan yang memekakkan telinga. Apa mereka tuli?
"Eh?" gumam Aster begitu salah satu pelayan nyaris menabraknya. "Kok bisa?" Ia kebingungan. Pelayan itu seakan melewati hantu, padahal gaun violetnya cukup cetar yang menandakan bahwa dia seorang putri. Jangankan pelayan tadi memberi salam, menunduk saja tidak!
"Bisa apa?" tanya Pangeran.
Aster tersadar pada tujuan awal. Ia pun menggeleng pelan. "Bisakah Anda kembalikan gelang jam saya?"
"Bisa sih bisa, tapi mana mungkin aku mengembalikan barang orang lain tanpa imbalan."
Sudah kuduga, batin Aster. Lelaki penuh ambisi seperti Pangeran Pertama pasti memanfaatkan orang dengan baik, meski orang berkedudukan kecil sekalipun.
"Kalau begitu cepat katakan, imbalan yang Anda inginkan."
Pangeran Pertama menghampiri kursi yang ditempatkan tak jauh dari posisi Aster. Hanya berjarak tiga meter. Sementara Aster memandang Pangeran Pertama yang duduk santai mengangkat satu kaki. Ujung jarinya mengetuk lengan kursi secara bertempo, menimang-nimang sesuatu.
Aster benci tatapan itu. Mata yang menatap seolah menganggapnya sebagai aset.
"Bawa aku keluar."
"Hah? Kemana?"
"Aku dengar jadwal keberangkatanmu ke Istana Apung sekitar sore hari. Terserah bagaimana pintar-pintarnya kau mengatur agar aku bisa ikut."
"Apa?! Tidak mau." Aster memalingkan muka.
"Aku janji takkan jadi beban, justru keberadaanku dapat melindungimu."
"Tetap tidak."
Pangeran Kelima memijat pangkal hidung. Dari awal, membujuk perwakilan jiwa aster memang butuh kerja keras. "Kau pikir Istana Apung adalah tempat hiburan di mana kau boleh bersenang-senang?"
Sejauh pemahaman Pangeran Pertama melalui bacaan buku-buku perpustakaan, Istana Apung terletak di perbatasan antara dua benua. Yaitu benua Plantae dan benua Animalia. Plantae adalah suku tanaman, sedangkan Animalia suku hewan. Perbedaan paling mendasar dari keduanya tentu saja cara hidup.
Aster tidak tahu apa-apa. Itu sebabnya, Kucing Ajaib terus menghinanya bodoh. Sependek pengetahuan gadis itu, hanya sebatas perwakilan jiwa dilarang keluar Istana tanpa perintah. Jadi, membawa Pangeran Pertama artinya Aster harus berurusan dengan Yang Mulia Raja dan Ratu.
Aster menggigit bibir bawahnya. "Pangeran Pertama, saya mohon maaf. Saya benar-benar tidak bisa membawa Anda keluar. Tolong kembalikanlah gelang saya."
"Tidak mau," timpal Pangeran Pertama seraya menoleh ke samping. Aktingnya persis meniru Aster yang tadi memalingkan muka.
Gadis itu ternganga. "Jangan bercanda!"
"Aku serius. Kau harus membawaku keluar, kemudian gelang jam milikmu kuserahkan. Kalau tidak ... wanita di belakangmu kulenyapkan. Bagaimana?" Usulan yang gila.
Aster pun berbalik melihat kondisi manusia tak berdosa tersebut. Wanita dengan kulit merah di mana-mana, terutama bekas lilitan oleh batang tanaman buatan Pangeran.
"Tuan Putri, hisk! To-tolong saya. Saya tidak mendengar apa pun, saya tidak melihat apa pun, saya tidak tahu apa-apa. Sungguh!"
Muncul seorang lagi yang merepotkan. Entah dari mana pemikiran si pelayan bahwa Aster mampu menolongnya. Dia sendiri juga kesulitan!
"Tangisanmu kurang keras. Ayolah ... menangis lebih keras." Pangeran Pertama mengangkat tangan ke arah pelayan tersebut. Kelima jarinya merenggang, lalu mencengkeram. Sontak lilitan pada tubuhnya semakin mengetat, menciptakan suara derita tanpa ampun.
Aster menutup telinga untuk kedua kali. Lengkingan dari mulut wanita itu hampir memecah gendang telinga. Namun, tidak ada yang mendengar suara meminta tolong kecuali Aster dan Pangeran Pertama.
Tidak begitu kentara, tetapi Aster menangkap dinding transparan mengeluarkan sinar biru. Dinding yang berbentuk kubah besar itu menutup ruang lingkup mereka bertiga seolah terisolasi dari dunia luar. Karena apa pun yang berada di dalam kubah takkan terlihat, suara apa pun yang berasal dari dalam kubah takkan terdengar keluar, masuk akal jika para pelayan mengabaikan situasi gaib ini.
"Pangeran, kau sungguh akan membunuh wanita itu?"
"Aku hanya akan membunuhnya kalau kau tidak mau membantuku."
"Kalau begitu, bunuh saja! Aku sangat kesal dengan pelayanmu. Berisik! Entah kenapa dia terus minta tolong padaku, padahal hidupku juga susah," gerutunya.
"Anak ini ...." Pangeran Pertama kehabisan kata-kata. Demi menyalurkan rasa kesal, ia pun membereskan si pelayan secara perlahan. Tanaman beracun itu memunculkan efeknya lebih cepat.
Kulitnya melepuh, rasanya seperti terbakar. Setiap permukaan tubuhnya mengeluarkan cairan kuning. Dia berteriak kepanasan. Tubuh wanita itu seolah digoreng hidup-hidup.
Aster mematung menyaksikan perubahan drastis si pelayan. Gejalanya sama dengan apa yang Sari alami.
"Ternyata Pangeran!" Nadanya tidak terima serta penuh tekanan. "Pangeran Pertama kan, penyebab penyakit kulit yang menjangkiti pelayan saya?" Tanpa sadar, tangan gadis itu menngepal. Dipegang eratnya gagang keranjang makanan, hingga buku-buku jarinya memutih.
Kapan gejala mulai muncul? Aster menghitung, sekitar tiga hari sejak Sari membersihkan semua tanaman pengganggu itu dengan tangan kosong. Getah dari batangnya pasti beracun.
Pangeran Pertama berusaha mengingat. Ia mengelus dagu. "Bicara soal pelayan pribadi, aku penasaran kenapa dia masih hidup."
Aster membulatkan mata. "Anda tidak bisa membunuhnya!"
Pangeran Pertama kembali bersemangat. Pelayan yang sering dipanggil Sari sepertinya sangat berarti bagi Aster. "Bagaimana kalau kubunuh sekalian?"
"Tidak boleh!" teriak Aster dengan nada cemas. Dadanya naik turun. Saat mendengar dirinya akan dibawa ke Istana Apung. Orang pertama yang terlintas di pikirannya adalah Sari. Aster ingin mengajaknya ke Istana Apung.
"Nah, pikirkan lagi terkait permintaan upahku. Kau mau setuju atau tidak, nyawa pelayan itu ada di tanganmu sekarang." Pangeran Pertama tersenyum puas.
Aster menahan napas. "Beri saya waktu berpikir."
"Hmm," Pangeran Pertama bangkit dari kursi, mendekati Aster, dan menoel hidung kecilnya. "Sampai ketemu besok, Adikku. Tersayang."
Melewati Aster, seketika sinar biru dan kubahnya memudar seperti gelembung. Barulah orang-orang melihat kehadiran laki-laki itu. Beberapa pelayan memekik setelah melihat mayat di balik punggung Pangeran. Tergantung di pohon. Layaknya bunuh diri.
Aster meneguk saliva susah. Ia tidak mau membawa Pangeran Pertama ke Istana Apung, di sisi lain juga tak mau mengorbankan Sari. Semoga gadis dua tahun lebih tua darinya itu mampu bertahan selama yang dia bisa.
Janji pertemuannya masih setengah jam lagi. Sebelum menemui Sari, terlebih dahulu Aster memutuskan pergi mencari seseorang yang ahli dalam pengobatan.
"Aku memberitahu seorang pelayan mengenai identitasku, jadi dia mempersiapkan paviliun khusus dekat taman Istana untuk tempat tinggal sementara. Jangan lupa berkunjung."
Ucapan terakhir dari Putri Kelima masih terngiang. Sayangnya, ada banyak kamar di paviliun khusus dekat taman Istana. Aster berjalan bolak-balik dari ujung lorong sampai ujung satunya. Ia bingung mana satu bilik Cycy dan Putri Kelima.
Aster mengangkat kepala. Jarak lima belas kaki, dari tingkungan koridor tiba-tiba muncul dua orang pelayan yang berjalan beriringan. Mereka menyangga nampan di atas kepala, berjalan menuju tempat Aster berada.
Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa dia harus sembunyi. Gadis itu pun celingak-celinguk mencari tempat aman. Lalu, sebuah pintu paling ujung sedikit terbuka. Celahnya gelap seakan tak ada lilin di dalamnya. Tanpa pikir panjang, Aster berlari menuju pintu itu danlekas membukanya. Begitu terbuka ... sosok laki-laki bermata merah tengah duduk di tepi jendela.
"Pangeran Aedes?"