Vampire Aedes

Vampire Aedes
54. Tidak Semudah itu, Ferguso :v



Aster memekik pelan tatkala seekor ulat berhasil menusuk pergelangan kakinya. Ia spontan menyingkirkan makhluk tersebut, tetapi masalahnya adalah dia menggunakan telapak tangan.


"Aw!" Hewan menggelikan itu tidak mau terlepas malah kini melukai tangan. Aster melotot begitu darah segar mengalir dari telapaknya. Bahkan sensasi terbakar dari bulu-bulu tajam membuatnya tak bisa berdiri dengan benar. Aster ingin lari.


"Bagaimana bisa darahmu seenak ini?" tanya Pangeran Danaus sambil tersenyum lebar. Matanya kembali normal. Lalu, tidak ada lagi ulat bulu.


Aster tertegun sejenak. Apa dia sudah kenyang? Secepat ini? Sungguh? Ia pikir Pangeran Danaus akan terus menghisap darahnya sampai kering. Pandangan Pangeran terus mengarah pada telapak tangan Aster yang masih mengeluarkan darah. Itu terus mengalir.


Pangeran Danaus menunjukkan senyum miringnya dengan jelas. "Sayang sekali, aku harus berbagi dengan yang lain."


Aster mengernyit tajam. "Apa maksud Anda?" Semoga ini tidak seperti yang gadis itu bayangkan.


Namun, tiba-tiba lorong yang sepi dipecahkan oleh suara keras. Aster memejamkan mata sembari menutup telinga dengan kedua tangan. Entah kenapa ia merasakan hawa banyak orang di sekeliling. Perlahan-lahan, Aster membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.


Pintu setiap kamar hancur dalam serentak. Benar saja, para penghuni di dalamnya langsung keluar begitu mencium aroma manis. Aster dikepung oleh mereka.


Ia mendongak mencari keberadaan Pangeran Danaus. Ternyata laki-laki itu sudah kabur demi menghindari serangan, meninggalkannya sendirian.


"Ugh." Aster menatap gelisah makhluk-makhluk di sekeliling. Sebagian matanya terlalu terang dan sebagian lagi terlalu gelap. Kedua jenis ini sama-sama menakutkan. Seolah habis keluar kandang dalam kondisi amat lapar.


Entah kenapa di saat-saat seperti sekarang dirinya malah teringat dengan seseorang. Bukankah sudah sangat lama Aster melupakan wajah Vanesa? Ah, teman dekat yang sering bertengkar dengan Kris. Kapan sih mereka bisa akur? Tidak ada yang mau berhenti adu mulut kalau Aster tidak ikut campur.


Sratt!


Cakaran maut menyerang siluman-siluman tersebut secara gaib. Aster mendengar suara pergerakan yang amat cepat disertai bayangan putih yang mengikuti. Kedua alisnya bertautan.


"Lari, Bodoh!"


Ia tersentak. Suara yang familier, tapi Aster masih berusaha menerka-nerka pemilik bayangan itu. Melihat sosok gadis lemah tak kunjung beranjak dari tempatnya, Felis yang merasa kesal pun mengubah wujud ke manusia.


"Ku-kucing ajaib?" ucap Aster terbata-bata. Tampilan memukau dan bersinar dari gadis di depannya begitu memikat. Selain itu, dia memiliki aura keanggunan yang luar biasa.


Namun, ekspresi judes nan dingin meluap entah ke mana. "Lari, Bodoh!" ulangnya tidak sabaran, kali ini penuh tekanan amarah. Terlihat jelas gurat nadi pada wajahnya.


Tanpa berpikir lagi, Aster pun melangkahkan kaki dengan lebar menjauhi segerombolan hewan gila. Akan tetapi, baru lima langkah, sesosok pria membawa anak buah berupa kawanan lebah. Aster dihadang, kemudian ia terpaksa menghentikan aksinya.


Bagaimana cara kabur kalau semua orang di sini dapat terbang dengan cepat?


Felis yang tidak tahu bahwa Aster sebodoh itu pun hanya mampu menepuk jidat. "Kau benar-benar bodoh ya? Aku suruh lari dan kau sungguh berlari?"


"Memangnya aku harus gimana, Kanjeng Nyai?" tanya Aster gemas.


Felis memutar mata. "Kenapa tidak kau pakai saja kekuatanmu itu agar dia berguna sedikit!"


"Kekuatan?" Aster membeo. "Ah!" Dia teringat sesuatu mengenai kekuatan jiwa asternya. Ia mengangguk paham, lalu memfokuskan diri untuk menumbuhkan tanaman tersebut.


Tanaman berbunga yang menangkap tubuh Aster melambaikan daun seolah merespon ucapan gadis tersebut. Selagi pria di atas dan yang lain belum menyadari apa yang terjadi, Aster meminta 'teman'nya untuk segera melepaskannya. "Tolong lepaskan aku. Aku harus kabur dari mereka."


Ajaib. Mereka menuruti perintah Aster bak tersihir. Gadis itu berlari sekuat tenaga, ke mana pun, asal terhindar dari mereka. Sayangnya, langkah kecil Aster terlalu mudah untuk disusul oleh kekuatan angin. Hal ini membuat Aster terus berlari diikuti suara-suara aneh di belakangnya. Berkali-kali dia menelan saliva dengan susah.


Aster tidak berani menoleh ke belakang. Ia fokus menatap lurus ke depan tanpa berhenti menggerakkan kakinya.


"Astaga, Putri Tumbal yang kukira lemah tak berdaya ternyata segigih ini ya?"


Aster mendengus kesal saat Pangeran Danaus muncul di depannya. "Minggir."


"Sesuai perkiraan, kau tidak tahu takut heh?" Seringai keji terukir di wajah Danaus. Aster mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Sungguh, sekarang ia berharap bisa menumbuhkan tanaman sebesar Hogweed yang dapat melilit dan menggantung tubuh Pangeran Danaus di udara.


Detik berikutnya, tanpa sadar iris Aster bersinar keemasan. Usai sinar itu padam kini pupilnya melebar. Ia terkejut melihat sulur raksasa tiba-tiba merambati kaki Pangeran dari bawah. Lelaki di sana tampak kebingungan sekaligus panik.


Tanaman apa itu? Aster menutup mulut, heran. Kuncup bunga yang mekar memang serupa dengan bunga aster, namun bentuk sulur dan batang merambat bukanlah ciri-ciri tumbuhan aster. Entah apa yang terjadi, bahkan orang-orang di belakang Aster pun menghadapi sulur yang sama.


"Kau yang melakukannya hah? Sialan! Singkirkan tanaman jelek ini!" Sepertinya Pangeran Danaus tidak terima diperlakukan kasar. Seluruh tubuh terlilit sulur tanaman, membuat lelaki tersebut kesulitan bergerak bak kupu-kupu dalam kepompong.


"Pft! Ahahah!"


"Apa yang kau tertawakan, Bocah!"


Gadis itu berjengkit. Spontan menghentikan tawanya. Ia masih tidak terbiasa dibentak.


"Kau melakukan pekerjaan yang sulit," puji Pangeran Ketujuh. Dia baru saja muncul dalam sapuan angin. Aster menoleh ketika punggung tangannya disentuh. Seperti biasa, Pangeran Ketujuh membersihkan sisa darah di permukaan kulit Aster dengan menjilatinya seperti anak anjing yang baik.


"Anda dari mana saja?" tanya Aster seolah meminta pertanggungjawaban. Tentu saja, gadis itu di tengah bahaya, tetapi Pangeran Ketujuh sebagai pelindung malah tidak ada di sekitarnya.


"Banyak sekali serangga yang mengganggu," ucap Pangeran Ketujuh seraya melirik kepompong buatan Aster satu per satu.


Tampilan Pangeran Ketujuh sama berantakannya. "Apa Anda diserang lagi dalam perjalanan ke sini?"


Tidak perlu ditanya lagi. Pakaian robek sana-sini, rambut acak-acakan, dan luka segar yang kembali terbuka. Pangeran Ketujuh telah melakukan pertarungan bahkan sebelum luka yang kemarin sembuh total.


"Saya pikir saya bisa membunuh mereka sekarang," lanjut Aster. Nadanya agak ragu untuk mengeluarkan lebih banyak lilitan. Beberapa siluman kehabisan napas. Akan tetapi, keduanya tidak akan dihukum jika tetap mematuhi aturan.


Pangeran Ketujuh tersenyum miring. "Coba saja."


Aster mencebikkan bibir. Entah kenapa senyum Pangeran Ketujuh seakan senyum mengejek. Gadis itu berusaha mengabaikan ekspresi Pangeran dan mulai menciptakan lebih banyak lilitan.


"Eh?" Dia tertegun.


Kejadian tak terduga membuat mata Aster melebar. Sulur-sulur yang ia buat tercerai-berai, lalu menghilang. Bukan hanya itu, semua orang yang terlilit juga ikutan raib.