Vampire Aedes

Vampire Aedes
57. Aneh Kalau Terlalu Mudah



Pangeran Ketujuh keluar dari ruang makan tanpa merespon ucapan adiknya itu. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Terlebih melihat Putri ketujuh meneguk cairan merah memunculkan rasa hausnya akan darah Aster. Di mana gadis itu sekarang?


Aster memutuskan berkeliling Istana bersama Kucing Ajaib yang kini sedang berada dalam mode kucing. Yakni kucing biasa pada umumnya yang tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa tidur, makan, dan mengeong. Daritadi Kucing Ajaib terus mengeong seolah kelaparan.


Aster berdecak. "Ck, iya-iya, sabar! Lagian dapurnya sebelah mana, sih? Parah banget sih ini arsiteknya masa nggak ada lift ataupun tangga?"


"Miaw!" Kucing Ajaib turun dari kepala Aster, membuat gadis tersebut mengeluh karena rambutnya ketarik. Kucing putih itu menggiring Aster menyusuri lorong-lorong Istana. Aster tidak tahu makanan apa yang Kucing Ajaib cari, tetapi kawasan ini seperti jarang terjamah.


"Hatsyi! Emm, ini beneran ke sini, Cing? Lo nggak sengaja bikin gue tersesat, kan?" tanya Aster sedikit curiga. Ia masih trauma pada kejadian saat Kucing Ajaib menunjukkan jalan sesat.


Aster berdiri di depan pintu besar berukir huruf-huruf yang tidak dia kenal. Tiap hurufnya tersusun acak, tetapi memenuhi pintu dengan bentuk rantai melingkar hingga batas pintu, seolah rantai tersebut yang membuat pintu ini tidak bisa terbuka.  Aster tidak tahu huruf apa itu. Namun secara mengejutkan, dia mampu membaca tulisan itu dengan lancar.


"Brevis introitus in palatium," gumamnya pelan.


Seketika huruf acak yang dibaca Aster berubah warna menjadi keemasan, kemudian pintu pun terbuka sedikit.


"Wah, keren ..." kagumnya seraya mendorong celah pintu agar lebih lebar. Berbanjar-banjar rak buku yang tentunya dipenuhi buku membuat matanya terbelalak kagum. Perpustakaan Istana Apung sangat luas dan rak bukunya jauh lebih tinggi. "Jangan-jangan petunjuk tentang bait syair keempat ada di sini?" Aster bertanya pada Kucing Ajaib.


"Miaw!" Kucing Aiaib menggeleng. Lalu mengarahkan dagu ke depan, seakan terus meminta Aster untuk mengikutinya.


Mereka pun berjalan sampai rak paling ujung dan entah bagaimana Kucing Ajaib membawa Aster sampai ke sebuah tangga menuju ruang bawah. Ini adalah pertama kalinya Aster melihat tangga di Istana Apung. Tanpa ragu, gadis itu menuruni tangga yang terlihat akrab. Semakin ke bawah ia semakin yakin dengan ruangan ini.


"Ini kan ...," ucapnya begitu menginjak anak tangga terakhir.


"Perpustakaan Istana Bunga," jawab Kucing Ajaib.


Mendengar suara jutek, Aster lantas menatap horor Kucing bermata biru tersebut. "Lo bisa ngomong?"


"Bodoh, miaw! Cepat kau cari Pangeran Pertama dan ambil segera kalung ajaib!' Kucing Ajaib melompat ke rak buku yang kosong untuk bersembunyi dari penghuni Istana. Ia bisa berkomunikasi dengan wujud kucing apabila kalung ajaib berada di dekatnya. Itu artinya, saat ini Pangeran Pertama sedang berada di dekat mereka. Kalau tertangkap, akan sulit sekali menghubungi Aster.


"Duh, males banget kalau sama Pangeran Pertama."


Keluhan Aster sontak mendapat tatapan ganas dari Kucing Ajaib. Meskipun sekarang ia tampil dalam wujud kucing biasa, tetapi auranya masih bisa membuatnya tertekan.


"I-iya, iya! Jangan ke mana-mana, ya? Tunggu gue di sini!" ucap Aster terbata-bata, lalu berjalan cepat meninggalkan Kucing Ajaib. Sebenarnya ia sangat malas berbicara dengan Pangeran Pertama. Mengingat lelaki antagonis tersebut suka mempermainkan orang, Aster tidak tahu lagi mana ucapan Pangeran Pertama yang benar-benar serius.


"Ugh." Aster memijat pelipis. Selalu seperti ini, jika ia tidak sengaja mengingat dunia sebelumnya. Gadis itu akan merasakan nyeri kepala, yaitu satu-satunya sakit yang dapat ia rasakan di dunia ini.


"Kau kenapa? Sakit?" tanya seseorang dari arah depan.


Aster mendongak, terkejut. "Pangeran Pertama?"


Laki-laki tersebut menyentuh kening Aster dengan alis bertautan. Sementara itu, otaknya Aster masih loading. Bagaimana bisa dia langsung muncul? Wah, benar-benar panjang umur. Ia menatap Pangeran Pertama tanpa berkedip. Menggemaskan! Sontak Pangeran Pertama mendekatkan wajahnya untuk menyadarkan gadis itu.


"Astagfirullah!" ucapnya istighfar sambil memalingkan muka ke samping. Menghadapi Pangeran Pertama memang harus banyak-banyak bertaubat.


Pangeran Pertama tertawa frontal, padahal hanya menempelkan bibir ke hidung. Kemudian ia bertanya, "Masih sakit?"


Aster menggeleng. Nyeri di kepalanya menghilang. "Terima kasih."


"Terima kasih untuk apa?" Pangeran Pertama memasang wajah usil.


Aster memutar mata. "Terima kasih, Pangeran Pertama. Waktu itu Anda sudah mencuri jam tangan saya, membunuh pelayan saya, lalu sekarang Anda menambah beban dengan membuat saya bolak-balik ke sini."


"Oh, astaga. Tega sekali Adik menuduhku," ujarnya sambil menutup mulut dengan tangan. "Hmm, begini ya, Adikku yang manis. Aku tidak membunuh pelayan pribadimu, justru kau sendiri yang membuatnya mati. Apa kau lupa penawaran yang sempat kau tolak?"


Aster tidak ingin mengingatnya. Kematian Sari adalah jelas ulah Pangeran Pertama.


"Baiklah, ayo lupakan masa lalu. Kebetulan hari ini hatiku sedang bahagia dan aku punya perhiasan cantik yang sepertinya cocok kalau kau yang pakai. Apa kau mau?" tanya Pangeran Pertama. Ia menunjukkan gelang dengan tiara biru.


"Tidak mau," jawab Aster, sama sekali tak tertarik.


"Benarkah?" tanya Pangeran Pertama, memastikan. Padahal gelang ini terlihat indah kalau dipakai gadis itu.


*Bodoh, Miaw! Itu kalung ajaib, cepat ambil! *Suara Kucing Ajaib terdengar di pikiran Aster membuat gadis bermata bulat keheranan. "Eh? Anda serius m-mau memberikan ge-gelang itu?"


Pangeran Pertama mengangguk. "Aku sudah tidak membutuhkannya."


Sungguh? Apa memang semudah ini? Aster menatap Kalung Ajaib yang kini berada di telapak tangannya. Pangeran Pertama sungguh memberikan Kalung Ajaib secara cuma-cuma, tetapi firasat buruk Aster lagi-lagi muncul. Entah keburukan seperti apa yang sudah tidak sabar menyambutnya.