Vampire Aedes

Vampire Aedes
13. Pangeran Ketiga Semakin Glow Up



"Bangs*t! Kalian menang jumlah, bisa-bisanya kalah saing sama anak baru. Arrgh, CUPU!" Satu pukulan mengenai hidung anak buahnya bergantian. Wajah mereka bertiga sudah babak belur, ditambah hukuman dari si Bos, yang tadinya hanya luka lebam-lebam sekarang ada yang tulang hidungnya patah dan sudut bibirnya robek.


"Keluar dari geng balap motor! Jangan sampai gue lihat kalian lagi di arena!" tegasnya. Memang itulah konsekuensi saat gagal menjalankan misi. Ketiga orang tersebut pun segera membawa kabur motor kesayangan masing-masing.


Bawahan lainnya menunduk takut. Menggigil di tengah amarah ketua Geng Neraka yang meluap-luap. Seolah api dingin melingkupi wilayah markas. Cowok albino menepuk pundak sang ketua sambil memamerkan senyumannya. "Tenang, Bro! Menurut gue anak baru lebih kompeten daripada ketiga utusan lo barusan. Nggak ada ruginya lah biarin dia gabung."


"Ini bukan masalah kompeten atau nggak! Balapan kali ini bawa nama bengkel dan kekalahan kita pada malam ini, bakal berpengaruh negatif bagi usaha ortu gue. Ngerti?"


"Ngerti, Bos!" tanggap semua anggota, kecuali albino tadi.


"Bubar!"


Aster berjongkok di belakang tong pembakar sampah. Bau karatan sangat menusuk di sini, bercampur bahan tidak organik—seperti plastik—yang sudah hangus. Perlu untuknya menutup hidung.


Geng Neraka adalah geng balap liar yang sudah mendapat izin bertanding secara resmi di beberapa daerah. Bisa dibilang bukan geng motor balap biasa. Setahu Aster, obrolan mereka cukup privasi. Di mana ketua memusuhi salah satu anggota baru, bahkan berusaha mencelakainya. Kalau orang seperti dirinya keluar dari persembunyian, berlagak seakan tidak tahu apa-apa, sama saja cari mati.


Meski belum melihat wajah-wajahnya, Aster merasa beberapa suara mereka terdengar akrab di telinga. Ingin tahu, Aster mengintip dengan hati-hati.


Tempat itu gelap. Maklum. Bekas kafe. Bangunannya agak menjorok ke dalam, area dekat jalan sebagian besar tertutup semen. Hanya ada satu tiang lampu.


Aster menyipitkan mata agar penglihatannya lebih tajam. Sekitar belasan cowok menghadap ke belakang. Semuanya berpakaian hitam. "Nggak jelas," ujar Aster, pelan.


Mata Aster menangkap satu hal yang paling mencolok, selain ketua geng. Yaitu si cowok albino. Rambut, kulit, dan lain-lain serba putih membuatnya tampak bersinar walau di tempat paling gelap sekali pun. Dia seperti pengganti lampu apabila berada di posisi tengah.


"Kalian budek, heh? Gue bilang bubar ya bubar!"


Aster berhenti mengintip. Menunggu deruman mesin motor meramaikan jalanan ujung kompleks, lalu sepi sebab dimakan oleh jarak.


Setelah memastikan keadaan benar-benar sepi, ia bernapas lega. Namun akibat terlalu lama berjongkok, tulang keringnya terasa patah ketika menegakkan lutut.


"Ahk!" Hal itu membuat Aster berdiri tidak seimbang, kemudian terjatuh. Tanpa sengaja telah menyiku tong sampah di depannya yang terbuat dari seng.


Aster membulatkan mata mendengar bunyi nyaring tersebut. Bukan ia saja, dua orang yang berdiri tak jauh dari persembunyian Aster juga menghentikan obrolan karena suara 'gemelontang'. Mereka adalah sang ketua dan si albino. Keduanya tidak melajukan motor bersama belasan anggota tadi. Malah saat ini menuju tempat mereka memarkirkan motor.Jaraknya tiga meter dari tong sampah.


Cowok berambut putih menahan dada bidang sahabatnya. "Biar gue aja. Lo mundurin motor biar nggak ngehalangin jalan gue ntar."


"Oke."


Aster menahan napas dengan membekap mulutnya sendiri. Langkah kaki seseorang semakin dekat, semakin berdebar pula jantungnya. Mampus, ketahuan nih! Ia berteriak dalam hati sembari memejamkan mata lekat-lekat.


Berdasarkan insting serta indra bulu kuduk Aster yang peka, seharusnya cowok itu sudah berada tepat di depannya. Si albino tersenyum seraya tangan satunya memegang pinggiran tong sampah. "Ternyata si Manis."


Ehh?


Perlahan-lahan, Aster membuka mata. Hal pertama yang tertangkap oleh lensanya ialah sepatu sports warna putih. Ia mendongak untuk melihat dengan jelas siapa cowok tersebut. Bukankah ... tadi Aster mengatakan kalau ada dari mereka tetap bersinar meski ditempatkan pada tempat tergelap sekali pun?


"Yoi, Bro!"


Albino tersebut berpaling sekilas. Wajahnya terlalu dekat. Posisi seperti ini membuat Aster merasa canggung sekaligus berkeringat dingin. Ia menunduk. "G-gue—"


Dia memotong dengan nada berbisik, "Aiden bakal bunuh lo kalau denger lo ngomong sekata lagi."


Aiden? Tubuhnya membatu mendengar nama Aiden disebut. Apakah mungkin ... di dunia nyata yang seluas ini, ia dapat bertemu dengan cowok itu?


Aster meneguk saliva secara kasar, memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Terlihat si albino menempelkan jari telunjuk pada bibirnya yang melengkung indah. Memang indah, namun terkesan dibuat-buat. Aster teringat senyuman Pangeran Ketiga. Kalau diamati lamat-lamat, sosok si albino dengan Pangeran Ketiga lumayan mirip. Hanya berbeda di usia. Cowok di depannya seperti Pangeran Ketiga versi remaja.


Deruman mesin motor membuyarkan lamunan Aster. Tidak ada siapa pun di sekitarnya. Ketua, atau sekarang kita panggil saja dia Aiden, juga si Albino sudah menghilang.


Aster melanjutkan perjalanan menyusuri gang sempit. Suara daun kering bergesekan, disertai angin sejuk yang merasuk sampai tulang. Bulu kuduknya berdiri. Ia mempercepat langkah tatkala menyadari bayangan hitam sedang mengikuti.


"Aster ya ... apa mungkin Astervania? Hmm, semoga gue salah denger. Kayaknya Mama pernah nyebut nama ini deh." Rizho hanya ingin memastikan bahwa gadis itu pulang dengan selamat.


***


"Sssh!" Aster terdorong hingga punggungnya menabrak lantai. Nyeri di area bahu membuatnya meringis sakit. Koridor tengah kosong melompong. Uluran tangan memaksa kepalanya menengadah.


Cowok berjas hijau, tak lupa menarik salah satu sudut bibir yang sepertinya menjadi ciri khas seorang Rizho. "Sorry, gue nggak hati-hati."


Aster menerima uluran tesebut. "Makasih, Kak."


"Sama-sama."


Rizho dan temannya kembali ke aktivitas semula, yaitu mengangkat meja sebab di kelasnya kekurangan tempat bagi murid baru. "Lo ngapain bilang 'sorry' sih, Zho? Jelas-jelas tuh cewek yang jalan nggak pakai mata."


"Jalan tuh pakai kaki, Bego!"


"Iyalah, itu maksud gue. Tuh cewek jalan nggak liat-liat. Harusnya dia yang minta maaf."


Aster menoleh, mendengar percakapan singkat antara Rizho dan teman satunya itu. Apa tidak salah? Jambul Monas membelanya?


Lupakan. Ingat imunitas tubuhnya yang menurun drastis. Setiap hembusan napas panas akan terasa sangat membakar. Matanya juga perih. Tidak bisa fokus ketika guru menerangkan materi. Ini pasti karena semalam keluyuran.


"Udah lo nggak usah ikut olahraga. Ke UKS aja, gue anter," ucap Vanessa di kelas. Bocil tumben banget nih, batin Aster sambil melayangkan tatapan sayu. "Biar gue bisa bolos, hehe."


Cowok bersama bola voli di bawah ketiaknya, menghampiri kursi Aster. Gadis berponi menyamping tersebut menghindar saat dahinya akan disentuh oleh Kris. Ia menautkan alis dan bertanya, "Lo kenapa lemes, As? Sakit?"


Dejavu. Laki-laki berwajah baby face yang diidolakan banyak orang terang-terangan menaruh perhatian. Jangan dibiarkan. Aster mengeleng pelan, menyiratkan kalimat bahwa dirinya baik-baik saja, jadi tidak usah khawatir.


"Pak Ketu, lo nggak liat mukanya kayak mayat? Basa-basi ada batasnya kali," sindir Vanesa. Sedangkan si empu mengedikkan bahu tak peduli.