Vampire Aedes

Vampire Aedes
20. Kakak Kelima yang Baik



Kris menggertakkan gigi, tangannya terulur pada sisi punggung dan lutut Aster. Sari menutup mulutnya yang ternganga karena Pangeran Kelima tiba-tiba menggendong gadis itu di depan. Dengan langkah tergesa-gesa, membawanya ke paviliun utama.


Di Istana Bunga ada banyak tempat tinggal bagi para putri dan pangeran bangsawan. Mereka pun mempunyai status atau kedudukan yang bisa dilihat dari tempat tinggalnya. Paviliun utama berjumlah lima buah, yaitu tempat bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi setelah Raja dan Ratu. Sisanya adalah paviliun biasa dengan jumlah menyesuaikan jumlah anggotanya. Kemudian Raja dan Ratu tinggal di paviliun agung. Jika kalian bertanya tempat apa yang baru saja Pangeran Kelima hampiri. Itu merupakan paviliun terbengkalai. Dinamakan demikian karena bangunan itu bekas tempat tinggal putri atau pangeran angkat yang sudah mangkat. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan paviliun biasa.


"Eungh!" Aster mengernyit dalam tidurnya. Seperti menahan sakit. Pangeran Kelima meletakkan Aster ke ranjang dengan hati-hati.


Sari dibuat terkejut kembali oleh perlakuan tuannya yang tidak biasa. Kris terkenal perhatian kepada anggota kerajaan, namun juga tidak mudah membiarkan sembarang gadis menyentuh kasurnya. Apalagi gadis ini belum resmi menjadi bagian Istana.


"Ambil sebaskom air dan bersihkan dia."


"Baik, Pangeran."


Sari mulai membasuh muka Aster yang tertutup debu. Mirip budak di pasar. Ya, pelayan tersebut sering ke sana untuk belanja kebutuhan Istana, sering melihat pedagang menjual budak. Kebanyakan dari mereka kotor dan bau.


Setelah beberapa menit membersihkan Aster, sekarang dia termangu akan pesona tak biasa yang mulai dipancarkan gadis tersebut. Pangeran Kelima masuk dengan tak sabar. "Kenapa lama sekali? Apa sudah sele—"


Bahkan kalimatnya lari entah kemana. Pesona Aster membuat semua orang terbungkam. Untung saja pelayan pribadi Kris, segera sadar akan kehadiran "Tuan". Meski agak gelagapan, ia berani menjawab, "Pangeran? Eh, anu, ini hampir selesai. Sedikit lagi."


"Biar aku saja." Kris hendak menarik kain yang digunakan untuk mengelap kotoran yang menempel di kulit Aster, tetapi pelayan itu menghalangi.


"Tidak, Pangeran! Ini, ini biar saya melakukan" tolaknya dengan tangan gemetar. Ia sangat takut kalau-kalau Pangeran Kelima mengira dirinya tidak pandai bekerja. Hal itu membuat bahu Kris bergetar juga menahan tawa. Namun di wajahnya hanya terukir senyum tipis.


"Tidak apa, biar aku saja. Aku hanya ingin merawat adikku."


"Kalau begitu, baiklah. Silakan, Pangeran." Sari menyerahkan kain kepada Pangeran Kelima. Laki-laki berwajah baby face langsung mencelupkan ke air baskom dan membasuh muka Aster, tepatnya di area pipi.


Aster meringis kesakitan, "Sssh!"


Tanpa sadar menyentuh tangan Kris, mata Aster mengerjap dua kali melihat tampang khawatir dari air muka lelaki tersebut. "Kris?"


Pertama kali ada seseorang yang memanggil dengan nama langsung, tidak ada embel-embel "Pangeran". Terdengar sangat asing di telinga, namun entah kenapa Kris menyukai panggilan itu. Ia mengubah rautnya menjadi lebih serius. "Tetap berbaring!" perintah Kris saat Aster mencoba duduk. "Bagaimana? Apakah masih sakit?"


Ehh? Aster baru sadar kalau ini bukan Kris yang ia kenal di dunia nyata. Ia pun terkekeh, "Pangeran Kelima yah, tubuhku masih sakit. Rasanya nyaman sekali bisa berbaring di sini."


Kris tersenyum tipis sambil menjauhkan kain basah dari wajah Aster. Hanya saja, dalam pandangan Aster dia seolah menarik tangannya karena tidak mau disentuh. Sekilas memang mendapati laki-laki yang duduk di sampingnya menautkan alis. Sejujurnya Kris tidak suka Aster mengubah panggilan barusan. "Kalau begitu berbaringlah sampai kondisimu pulih."


"Tentu boleh! Aku ini kakakmu, jangan terlalu sungkan. Kalau butuh bantuan langsung bilang." Pangeran Kelima mengelus rambut Aster, sedangkan pelayan di belakangnya berusaha bersikap normal.


"Terima kasih!"


Skenario ini agak mirip dengan kejadian di mimpi simulasi. Kris masih sangat perhatian padanya, yang berbeda adalah kali ini Aster benar-benar sakit. Bukan pura-pura lagi. Tetap saja kedua pipi itu memerah mendapat kasih sayang idola kelas. Jika di dunia nyata ia terlalu canggung, di sini tidak boleh. Lagi pula tidak ada siapa-siapa dari dunia nyata. Hihi!


"Jaga dirimu baik-baik." Belaian lembut pada pipi kanannya, berharap tindakan itu dapat menghilangkan rasa perih.


"Kau mau pergi?" tanya Aster. Di mimpi simulasi seseorang yang paling baik padanya hanya Pangeran Kelima dan pelayan pribadi. Kalau tidak bersama Kris, lihat bagaimana dia akan dibully. Pelayan pribadi Kris juga terlihat tidak senang dengannya. "Emm, maksudku sangat canggung sendirian di sini."


Dalam hati pelayan, "Apa saya tidak dianggap?


Kris mengerti kekhawatiran adiknya. "Jangan takut, kau aman asal di tempatku. Aku hanya mengurus urusan sebentar."


"Ya, Kakak Kelima. Terima kasih."


***


Matahari belum menampakkan cahaya. Pelita yang sengaja ditaruh di teras dan tiap sudut rumah masih menyala. Kadang menari akibat tertiup angin. Udara di Istana bahkan lebih leluasa masuk ketimbang dirinya. Ah! Bagaimana kucing ajaib sekarang?


Aster berjalan pelan, membuka pintu diam-diam agar tidak membangunkan Kria yang terlelap di kursi. Sebenarnya Aster merasa kasihan laki-laki itu harus tidur di alas kayu semalaman. Padahal kalau disuruh pindah posisi, Aster juga tidak keberatan.


Omong-omong, di luar sepi sekali. Seperti Istana mati. Hanya terdengar dengar gesekan daun kering dan hembusan angin. Huft, adegan semacam ini rasanya pernah Aster lalui.


Suara gemerincing membuyarkan lamunan Aster. Ia menahan napas sambil bersembunyi di sisi tembok berlawanan dengan sumber suara. Asalnya pasti dari langkah kaki prajurit Istana. Ia mengingat dengan jelas suara itu sejak diseret ke sini. Berasal dari gelang kaki yang mereka pakai.


Setelah agak jauh, barulah dia boleh bernapas. Pelan-pelan mengendap menuju tempat kucing ajaib terkurung. Kris sempat membocorkan keberadaan kucing itu tanpa sadae. Entahlah. Kembali dari "urusan sebentar" dia sudah mabuk. Katanya melihat seekor kucing putih menawan di dalam sangkar di atas tembok raksasa. Raja mengelus lehernya, tapi kemudian melengang, menuruni tangga tanpa sepatah kata pun. Dan tidak ada penjagaan di sampingnya. Kris merasa hal itu mencurigakan


Tempat yang dimaksud harusnya tembok jam besar kan? Hanya tempat itu satu-satunya yang mempunyai tangga. Detak jam semakin terasa, daya getarnya juga mengalir ke tanah. Sejenak Aster menggigil antara risih dan merinding. Risih karena getaran itu membuat telinganya berdenging, merinding karena anak tangga paling atas terlihat suram. Meski matahari sudah menampakkan diri, tetapi sinarnya mengarah jauh ke bagian dalam Istana. Mungkin tempat ini hanya mendapat penerangan saat matahari terbenam.


Aster menelan ludah. Ia bukan tipe orang yang penakut, terkecuali hal-hal berbau mistis. Glek! Tangga ini kenapa lama-lama mirip seratus anak tangga dalam film horor? Di mana anak tangga terakhir yang ke-98 terdapat kepala mayat yang bergerak. Ugh, Aster benci pemikirannya sendiri.