Vampire Aedes

Vampire Aedes
28. Bunga Pertama



"Baik, baik ... jadi Kakak Kelima mau mengajariku apa?" Aster terlihat menanti jawaban Pangeran Kelima. Laki-laki itu masih sibuk mengamati pelataran paviliun, padahal tidak ada hal menarik di sini. "Saya tahu paviliun ini tidak sebagus milik paviliun Kakak Kelima. Apa praktiknya bisa langsung dimulai saja?"


Pangeran Kelima menunjuk pagar pembatas tua. Kesan lusuh akibat warnanya senada dengan tanah kapur, seperti kayu lapuk. Aslinya pagar itu terbuat dari kayu yang memiliki bentuk serat unik jika kulit luarnya dibersihkan dengan baik.


Aster menutup mulutnya, kemampuan Pangeran Kelima yang entah ke berapa muncul lagi. Pagar lusuh tadi diubahnya menjadi sangat cantik. Bunga-bunga krisan tumbuh menjalar yang Aster baru kali ini melihat tanaman tersebut tumbuh menjalar. "Tidak mungkin," gumamnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Pangeran Kelima sambil tersenyum remeh.


"Kakak sangat keren! Ajari aku juga, Kak!" Aster tersenyum lebar dan menodongkan tangannya ke wajah Pangeran Kelima.


Pangeran Kelima meraih tangan Aster, menggenggamnya lembut, dan mulai merenggangkan kelima jari itu. Ia menekan dua titik telapak tangan, yaitu ujung telunjuk dan ujung jempol. Aster merasa agak geli, tapi ditahan. "Alirkan kekuatanmu ke sini. Kamu bisa menumbuhkan tanaman sesuai jiwamu dengan mengarahkannya ke tempat yang diinginkan."


"Caranya?"


"Alirkan secara alami, kalau kamu fokus pasti bisa peka terhadap aliran kuat yang berkeliaran di tubuhmu. Saat kamu merasakan kekuatan itu, kemudian kuncilah di sini. Terakhir arahkan ke suatu tempat."


"Apa kita bisa mengubah warna dan bentuknya sesuai keinginan juga?"


"Iya." Pangeran Kelima menatap Aster yang melihat antusias pada tangannya. Tingkah gadis kecil ini selalu menggemaskan di matanya. Pangeran Kelima tertawa kecil.


Aster mengarahkan telunjuk ke sudut pekarangan. Ia berniat membuat sekumpulan bunga aster bermekaran di setiap sudut rumah. Warna merah seperti mawar, pasti akan bagus.


"Uhh, ini tidak semudah kelihatannya. Kakak Kelima, aku benar-benar tidak punya bakat." Aster sudah mencoba berulang-ulang, tapi tak ada kemajuan.


"Pelan-pelan. Aku merasakan energimu cukup memenuhi paviliun, itu seharusnya berhasil. Cobalah sekali lagi!"


Perut Aster keroncongan. Sari belum kembali, entah kapan anak itu bisa menyiapkan makan malam agar dia bisa menyantap makanan segera setelah energinya habis.


Ada yang janggal juga, jelas-jelas Aster mengeluarkan banyak keringat, namun satu bunga pun belum ia buat mekar. Kali ini, Aster berusaha lebih keras.


Pangeran Kelima merasakan energi milik Aster semakin kuat. Selagi belum ada tanda-tanda keberhasilan, getaran halus di balik tanah membuat Pangeran Kelima sedikit waspada. Tiba-tiba, Aster berteriak.


"Kyaaa—"


"Aster!" Pangeran Kelima sontak berlari ke arah lubang besar yang tadinya dipijaki Aster, di sana kebak bunga merah dengan aroma pekat, setiap kelopaknya menyangka tubuh Aster sehingga tidak terluka. "Lubangnya cukup dalam, untung kamu baik-baik saja."


Sedangkan Aster tampak ketakutan. "Kakak, tanamannya mencengkeram kakiku. Aku tidak bisa bergerak!"


Pangeran Kelima terkekeh. "Haha. Jangan takut, As. Mereka temanmu."


"Teman?" Aster mengernyitkan alis.


Pangeran Kelima mengangguk serius. Aster menatap bunga di sampingnya terlihat tidak asing. Kelopak merah dengan batang berduri. Seharusnya itu mawar biasa jika melilit kulit kaki Aster dan tertusuk, namun dirinya selamat tanpa lecet barang sedikit pun.


"Sepertinya kamu salah menentukan titik," ucap Pangeran Kelima. "Semua energi yang tadinya kamu kumpulkan di telapak tangan, malah menyebar dari ujung kaki."


Pangeran Kelima mengarahkan tangannya ke lubang. Tiba-tiba akar kokoh menembus dari sisi samping dan tumbuh bergerak seperti tangan. Akar-akar itu melewati celah duri dengan baik, lalu memotong salah satu batang.


"Awh!" Aster menekan dadanya sebab merasakan sakit area jantung, seperti ditarik. Itu semakin sakit setiap batang-batang yang ia ciptakan dipangkas olehnya. Pangeran Kelima meminta maaf usai berhasil membawa Aster ke permukaan. Lagi, gadis tersebut dibuat bingung.


Ia memandang langit berwarna ungu kemerah-merahan. Senada dengan gaun yang Aster kenakan, namun beberapa bagian ditinggali debu. Pasti karena jatuh. Aster mengusap bagian kotor tersebut.


"Apa kamu lelah?" tanya Pangeran Kelima. Aster mengangguk lemas. Perutnya kosong. Sari juga belum kembali, padahal hari mulai petang. "Kelasnya kita lanjut besok pagi. Jangan telat!"


Sebuah jitakan mendarat di kening Aster, gadis itu mengaduh meski tidak merasakan sakit. Hanya semacam ucapan reflek ketika dipukul. Mengingatkannya kembali pada misi, alasan mengapa dia terjebak di sini.


Aster memanggil Pangeran Kelima, tadinya laki-laki tersebut sibuk mengembalikan tanah seperti semula. Dengan sedikit usaha, setumpuk aster merah telah dipindahkan ke sudut halaman. "Kak."


Pangeran Kelima menghentikan aktivitasnya. "Kenapa, As?" Cara dia menyebut nama Aster, bahkan tingkah lakunya benar-benar mirip Kris.


Aster memang tidak menyukai anak itu secara pribadi, lebih ke pengagum secara umum. Melihat duplikat ketua kelas, ternyata membangkitkan semangatnya untuk kembali.


"Bukan apa-apa, Kak. Aku hanya teringat sebuah cerita. Apa Kakak mau dengar?" Aster ingin menceritakan hal yang dilarang oleh Guru. Sepertinya tidak masalah kalau mengibaratkan situasi sekarang, Aster akan gila kalau terus memendamnya sendirian.


"Tentu saja ma—" Pangeran Kelima menggantung kalimat dua detik. "Maaf, Aster. Jangan sekarang. Aku harus pergi ke paviliun utama. Baru saja Raja memanggilku lewat telepati."


Ternyata ada kemampuan telepati juga. Apa Aster bisa mempelajari sampai tahap itu? Sepertinya tidak penting apakah dia bisa menuntaskan kelas atau tidak, toh, sebentar lagi ia akan dibawa pergi ke Istana Apung.


"Ah, begitu ya." Aster menunduk lesu. Sedetik kemudian, terbangun. "Artinya Kakak harus cepat-cepat ke sana! Jangan membuat Raja menunggu."


"Adikku sangat pengertian, jadi sampai jumpa besok." Dihadiahinya pelukan meski sekejap. Pangeran Kelima sebenarnya kesal karena Raja memanggil tiba-tiba. Ia penasaran akan cerita yang akan Aster sampaikan. Terlebih dapat ditebak, bahwa ada banyak hal tersembunyi di kepala mungilnya.


Aster menghela napas melihat punggung Pangeran Kelima kian mengecil. Sekarang benar-benar sendiri. Jika besok dia menagih cerita itu lagi, mungkin Aster sudah tidak dalam kondisi mood. Ia berniat kembali ke kamar untuk tidur. Latihan telah menguras 99% tenaganya.


Namun baru berbalik dua langkah, Aster sudah mengurungkan niat. Sudut halaman menghentikan langkahnya, sebuah tempat yang seharusnya merah dan segar. Kini cokelat dan kering.


"Tuan Putri?" Sari kebingungan mendapati Aster berjongkok sambil menangkap bunga berwarna hitam mengerikan, menurutnya.


"Akhirnya kamu pulang?" Aster tersenyum dengan pakaian kotor, terutama bagian bawah, dan telapak tangan Aster yang semestinya seperti bayi.


"Astaga! Akan saya siapkan air mandi." Pelayan itu panik. Berjalan cepat sambil menenteng keranjang belanja yang penuh.


Tidak mirip "sari". Pelayan kali ini jauh kurang dari ekspektasi. Sari yang selama ini dia kenal adalah cuek dan bawaan selalu tenang. Jadi sedikit mengecewakan sebab tidak ada kesamaan di mimpi asli, kecuali alurnya.


Aster pun mengalihkan tatapan pada genggaman. Tadi merah, cokelat, kemudian hitam. Semakin gelap dan rapuh. Aster menutup bunga di tangannya dengan tangan satunya lagi. Saat tangan itu terangkat, bunganya menghilang seperti sulap.


Aster mengedarkan pandangan ke setiap sudut halaman secara bergantian. Mereka berubah dari merah ke hitam sebelum akhirnya menghilang. Aster tidak mengerti.