
"Aku bertanya karena takut kamu membenciku ...."
Ucapan roh krisan milik Pangeran Kelima terus terngiang di kepala. Hidung Aster merah, matanya sembab. Tadi sempat berdebat dengan Kris. Ia tidak mengerti mengapa Pangeran bersikeras memaksa Aster agar menjawab mau atau tidak dirinya kembali hidup. Gadis itu ragu menjawabnya, jadi ia diam saja sampai Kris mengambil kesimpulan sendiri bahwa Aster tidak mau dirinya hidup seperti itu. Katanya, menjadi roh tanaman saja lebih baik daripada harus dibatasi oleh pergerakan fisik.
"Aku bersyukur kamu bisa keluar tanpa luka," ujar Pangeran Pertama begitu Aster muncul di depan pintu.
"Dia mengusirku," balas Aster sendu.
"Tidak sepertiku, setidaknya dia mengusirmu dengan cara yang halus. Omong-omong baru sekarang aku melihatmu menangis. Mukamu lucu juga, ya," selorohnya.
Aster mendelik tajam. Ia berharap Pangeran Pertama dikubur hidup-hidup. Laki-laki di depannya langsung berhenti menatap Aster dan memasang wajah serius. Ia mencari sumber energi jiwa yang terasa kuat, namun lagi-lagi pandangannya tertuju pada gadis itu.
"Kamu ...." Belum sempat Pangeran Pertama bertanya, tanah di bawah sudah runtuh membentuk lubang cukup besar yang membawa tubuh Pangeran masuk. "Argh!" teriaknya.
Dejavu. Kejadian seperti ini pernah Aster alami ketika berlatih menumbuhkan bunga bersama Pangeran Kelima. Batang berduri melilit tubuh agar tidak terjatuh. Dia adalah teman Aster, tetapi bagi Pangeran Pertama ... semua duri-duri ini adalah musuh. Semakin banyak Pangeran Pertama menggerakkan tubuhnya agar terlepas, semakin banyak duri tanaman menggores kulit dan melilit lebih kuat. Pangeran Pertama mengkerutkan dahi sebab gadis di atas sana hanya menatap dengan mata kosong.
"Anda jatuh, padahal saya tidak melakukan apa pun. Apa Anda baik-baik saja?"
"Tidak! Aster, kamu hanya berpikir dan tanaman-tanaman menyebalkan ini tumbuh menuruti pikiranmu. Permainanmu sangat seru sekaligus menantang. Namun jika kamu berniat membunuhku, ceritanya akan berubah menjadi balas dendam. Cepat lepaskan!" perintah Pangeran Pertama.
Ia mengatakan perintah seperti itu bukan berarti tubuhnya tidak bisa lepas tanpa bantuan Aster. Hanya saja, jika dilepas paksa perlu upaya membunuh tanaman-tanaman aster. Dalam hal ini, bisa dilakukan dengan memangkas batang berduri tersebut dari samping. Pangeran Pertama dapat memanggil roh tanamannya, tetapi menyerang tanaman milik Aster akan menyebabkan gadis itu kesakitan.
Aster tidak tahu bahwa hanya dengan berpikir, ia mampu menumbuhkan tanaman aster sesuai keinginan. Namun menyaksikan Pangeran Pertama kesulitan bergerak rasanya menyenangkan.
"Saya tidak tahu caranya, Pangeran."
"Ayolah, jangan bercanda! Kalau kamu melepasku sekarang, aku akan memberitahu isi bait syair keempat."
Aster melebarkan mata. Ini kesempatan yang bagus, tetapi respon yang ditunjukkan malah menggigit ujung jari. Bagaimana caranya lepas?
Tiba-tiba, tanaman yang melilit tubuh Pangeran Pertama merenggang layu. Laki-laki itu memanfaatkan momentum, meloncat gesit dari lubang tanah. Kini ia berdiri di samping Aster sambil menyisir rambutnya frustrasi dengan sebelah tangan. Betapa terkejutnya mendapati darah segar mengalir dari pergelangan tangan Pangeran Pertama. Sepertinya ulah batang berduri yang menahannya barusan.
Di balik tangannya, ada bayangan Aster berjongkok pilu. Pangeran Pertama mendesah sembari menatap sekitar. Bunga aster yang semula bermekaran di setiap sudut paviliun secara signifikan layu, kemudian menjadi abu hitam yang tertiup angin. Tamanan dan pemilik roh tanaman saling berbagi perasaan. Jika tanaman buatan itu layu atau bahkan sampai menjadi abu, maka pertanda bahwa pemilik roh tengah didera perasaan negatif.
Aster termenung memikirkan pelajaran selama kelas pengantar. Kris menyuruhnya membaca buku-buku yang dia berikan, tetapi tidak ada satu buku pun yang selesai Aster baca. Bahkan buku sejarah hanya ia baca setengahnya. Di sini Aster adalah murid yang buruk, sementara orang-orang malah menilai gurunya dengan lebih buruk.
"As," panggil Pangeran Pertama, membuat gadis itu terhenyak.
Ia menoleh ke belakang dan langsung memekik saat cairan merah mengalir dari kedua pergelangan tangan Pangeran. "Anda terluka?!" tanya Aster sambil menarik lengan pemuda tersebut.
"Memangnya ulah siapa sampai kamu lebih kaget daripada korban?" Pangeran Pertama berusaha melepas pegangan Aster, tetapi gadis itu bersikeras melihat lukanya. "Aku senang melihat antusiasmu, tapi aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil yang akan sembuh dalam semalam."
Sejak penobatan resmi sebagai Pangeran Pertama, kemampuan regenerasi tubuh menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Pangeran Pertama tidak perlu mengemis ramuan lagi kepada utusan Negeri Tabib. Ia pikir kemampuannya sudah mengungguli pengobatan di Negeri Tabib atau bahkan seluruh negeri. Namun, tanggapan Aster membuat Pangeran terperangah.
"Satu malam itu sangat lama. Mana bisa membiarkan tubuh seorang pangeran terluka begini? Kalau pelayan melihat Anda terluka, mungkin mereka akan melapor pada Yang Mulia Raja dan Ratu. Tidak boleh! Aku bisa kena masalah besar karena melukai Anda."
Tangan Aster bergetar menyentuh area luka, sambil berharap semua luka di tubuh Pangeran Pertama menghilang. Laki-laki di depannya terpukau melihat iris Aster berubah lebih terang. Lalu dari telapak tangan Aster mengeluarkan cairan keemasan yang berhasil menyadarkan Pangeran. Cairan tersebut meresap ke tubuh dan bereaksi cepat.
"Apa yang kau lakukan!" bentaknya seraya melepas cengkeraman Aster. Laki-laki itu mengecek keadaan tangan sebab sesaat terasa begitu perih. Namun justru yang ia lihat adalah kulit putih tanpa goresan sedikit pun. "Bagaimana bisa ... kamu mengobatiku?"
Aster mengangguk kikuk. "Mm, mungkin dalam prosesnya agak menyakitkan, saya minta maaf tidak memberitahu soal itu sebelum melakukannya," ucap Aster sambil menggaruk pelipis.
"Bagaimana bisa?" ulang Pangeran Pertama, merasa heran. Ia melihat pergelangan kaki yang tadi juga dililit juga sembuh total.
Entah kenapa pandangan Pangeran Pertama jadi sedikit menyeramkan menurut Aster. Pandangannya mengingatkan ia dengan cara Pangeran Aedes menatapnya waktu itu. "Pangeran, A-anda tidak lupa tentang bait syair keempat, kan?" tanya Aster mengubah topik.