Vampire Aedes

Vampire Aedes
16. Kucingnya Minta Dicukur



Begitu membuka matanya, Aster menyapu sekeliling dan hampir semua sudut tertutup tanaman ilalang. "Wah, gue nggak bisa liat apa-apa."


"Bodoh dan pendek miaw."


"Hachiu! Ih kok lo di sini sih? Btw gue bukannya pendek ya, cuma dalam masa pertumbuhan aja." Aster menggosok-gosok hidung yang terasa gatal. Tangan satunya berusaha membuka jalan. Ilalang tumbuh dengan tinggi, menandakan daerah yang Aster pijak sangat subur. Belum lama menyusuri jalan, gadis no life sudah kelelahan. Pasti di sini sangat luas.


Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil-manggil. Aster menoleh kanan kiri, namun menemukan kekosongan. Atau suara itu lenyap sebab diterbangkan oleh angin. Kucing di atasnya enak-enakan meringkuk dengan pulas. Mana bisa mengharapkan dia berperikemanusiaan. Memang pada dasarnya seekor kucing. Tapi setidaknya ia memiliki sedikit hati nurani.


Dikira rambut gue kasur apa. "Hei, bantu napa. Ini gue harus ke mana?"


"Lurus terus miaw."


"Hachiu! Makasih."


Kucing itu menyisir pandangan ke arah pemukiman. Hanya tampak atap-atap jika dilihat dari kejauhan. Setelah itu dia memilih tidur.


Matahari semakin melengser, cahaya semakin menguning. Seharian ini berjalan lurus seperti yang kucing ajaib katakan. Aster mulai berpikir tidakkah lubuk hati mungilnya merasa dibohongi atau bagaimana? Kalau memutar arah, lebih tidak memungkinkan lagi untuk keluar dari jeratan tanaman ini.


Kakinya terhenti beberapa detik untuk memutuskan tetap percaya. Aster ingin tahu seberapa luas daerah ini. Namun letih memaksanya tertatih-tatih. Perut berbunyi, memberikan alarm kelaparan. Tenggorokan juga kering.


Bruk!


"Miaw? Bukan hanya bodoh dan pendek, juga lemah. Payah. Tidak berguna. Aku yakin Papa kecewa melihat ini."


Aster memang pingsan, tapi telinga masih bekerja dengan baik. Lontaran kalimat yang memaki dirinya secara terbuka telah meninju dadanya bertubi-tubi.


***


"Kita di mana?"


Orang-orang berpakaian sederhana berbaris rapi di tepi jalan yang diberi batas berupa garis. Berasal dari ujung ranting yang sengaja digesek ke tanah. Meski garis kurang tegas, tetap tak ada satu orang pun berani menerobos batas itu.


"Karena kau jatuh tiba-tiba miaw. Tubuhmu perlu energi, jadi sekaligus aku membawa rohmu menjelajah. Ini disebut perjalanan waktu miaw."


"Mereka sedang apa?"


"Lihat saja miaw."


Aster menurut. Tembok raksasa di depannya tidak asing. Mengelilingi bangunan yang Aster yakini terdapat sebuah Istana di dalamnya. Sulur-sulur tanaman berbunga merambati tembok tersebut. Di tengahnya terpasang papan kayu raksasa pula yang apabila pengawal di atas benteng melepas tali, maka ujung papan kayu tersebut akan jatuh ke sisi tanah dan menjadi jembatan. Di bawahnya memang mengalir air parit.


Suara gemuruh menggetarkan tanah saat itu. Gerbang tarik pun terbuka sempurna, Aster menahan napas akan kemunculan begitu banyak prajurit. Lantas suasana menjadi riuh dan tidak terkendali. Kucing Ajaib membuat Aster melayang.


"Parah, mereka kenapa sih?" tanya Aster sembari menunduk, di bawah kakinya orang-orang brutal mengerikan. Prajurit garis depan mengeluarkan tameng.


"Perwakilan jiwa berasal dari kerajaan. Setiap tahun akan ada jiwa tanaman atau hewan menghadap Papa untuk meminta raga manusia. Kemudian Papa mengijinkan mereka memilih sesuka hati miaw. Hari ini giliran Istana Bunga mengajak jiwa itu memilih. Kalau ada manusia yang menarik perhatiannya, ia akan direkrut menjadi bagian Istana.


Miaw, jika kau bertanya mengapa mereka berteriak histeris. Itu karena sanak saudara yang dulunya ia kenal, kini telah berubah menjadi orang asing. Manusia terpilih diwajibkan melewati upacara peresmian, selanjutnya dia akan kehilangan ingatan."


Aster mengangguk-angguk setengah mengerti. Di belakang barisan prajurit adalah prajurit khusus yang bertugas mengangkat kursi Raja dan Ratu. Ini pertama kalinya Aster bertemu dengan mereka. Kemudian atensi itu teralihkan oleh barisan para putri dan pangeran. Kalangan bangsawan yang berasal dari rakyat biasa, berubah menjadi anggota Istana. Roda terlalu cepat berputar.


"Ibuku! Itu ibuku!" teriak anak kecil dalam gendongan sang kakak sambil telunjuknya mengarah ke wanita cantik berkepang tunggal.


"Laven," gumam Aster.


Anak kecil itu kira-kira berumur enam tahun, ia berteriak lagi. "Ibuku!" Sang kakak berusaha mendesak maju.


Putri Lavender hanya melirik sekilas, pandangannya kembali lurus. Terkesan dingin dan angkuh. Aster tidak tahu apa yang dibisikkan kakak kepada adiknya, tapi anak itu langsung menangis.


"Anak durhaka!"


"Kakak, kau mengatakan akan terus mengingatku! Kenapa kau melanggar janji! Lihat aku, Kak!"


"Apa Yang Mulia Raja ingin mengangkat anak lagi? Ah, aku harap jangan putraku."


"Astaga jangan anak-anak lagi."


Ratu menebar senyum ramah. Seolah mengabaikan tatapan penuh benci yang mereka layangkan. Kedua tangan melindungi benda suci. Ia diam-diam menggunakan benda tersebut untuk mencari keberadaan manusia yang jiwa aster inginkan.


Prajurit terdepan menggerakkan tangan membentuk huruf O mengisyaratkan kepada seluruh rakyat untuk diam. Suasana hening dalam sekejap. Ratu mulai mengabsen satu per satu manusia yang hadir.


Setiap ia menilik anak yang tampak menarik, benda suci tadi dibuka penutup kainnya. Jika bercahaya, menandakan jiwa aster setuju. Sebaliknya, jika tetap padam berarti tidak setuju. Hal itu dilakukan beberapa kali. Sampai perhatian Ratu jatuh pada gadis manis dengan rambut terurai. Benda suci menyala. Debu yang mencoreng wajahnya belum bisa menutupi pesona gadis itu.


Aster mengikuti arah pandang Ratu. Lantas membulatkan mata. "Ehh? Kenapa dia mirip sekali denganku?"


"Kupikir kau bodoh miaw, ternyata sedikit bodoh."


"Bisakah, berhenti, mengataiku bodoh?"


"Barusan bukannya aku mengatai, justru aku memujimu," sangkalnya. "Kita hanya melakukan perjalanan waktu di sini, ruang kita dan mereka tidak ada kaitannya miaw. Gadis jelek itu memang kamu di masa lalu."


Kemudian, Raja memerintahkan prajurit khusus agar mengumumkan sesuatu. Gadis berpakaian lusuh belum menyadari bahwa sejak tadi ia diperhatikan. Karena sejak awal ia terdiam sambil mengamati salah satu pangeran yang dulu pernah mengajaknya bermain saat kecil. Kris.


Ia dikejutkan sebab tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal. "Titah Raja, anak ini harus segera pindah ke Istana paling lambat tiga hari!"


Setelah rombongan Istana pergi, orang-orang mengerumuni gadis tersebut. Dirinya belum seratus persen mencerna kata-kata prajurit barusan. Mereka menanyakan banyak hal, membuat telinganya berdenging. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia berlari entah kemana.


"Wah, bukankah itu budak yang dijual dari keluarga terkaya selain keluarga Istana? Dia bisa ke sini, apa ada yang membelinya?"


Budak? WTF!


"Benarkah? Siapa?"


"Tidak tahu. Larinya cepat sekali."


"Jangan-jangan dia sudah menjadi pelayan."


"Jangan-jangan dia kabur."


"Dari budak menjadi bangsawan? Hidupnya terlalu mujur. Aku khawatir siapa lagi yang akan dibuat menangis olehnya."


Latar tempat pun berubah mengikuti pergerakan gadis itu. Sebuah rumah kumuh, bahkan tidak bisa disebut rumah. Bau dan kotor. Hidup bersebelahan dengan kandang bebek adalah hal biasa baru-baru ini.


Seorang Nona Muda menyilangkan tangan di depan dada setelah melempar buntalan kain berisi barang-barang si pelayan. Padahal baru beberapa dia menerima budak itu sebagai pelayan di rumah. "Habis dari mana saja kau? Aku baru saja menerima dekrit dari Istana."


Sepertinya ini berhubungan dengan titah Raja.


"Cepat angkat kaki dari sini! Jangan minta diantar ke Istana ya. Sudah bagus kukemas semua barangmu. Meski kau adalah pelayan di rumahku, aku belum memberimu sebuah nama. Jadi kau masih budak dan walimu adalah penjualmu yang dulu," cerocosnya.


Gadis kecil menarik napas. Memungut barangnya yang ternodai oleh kotoran. Aster meringis membayangkan bau tak sedap mengelilingi tubuhnya kala itu. Dia membungkuk sebentar. "Nona telah berkenan menampung saya selama beberapa hari terakhir. Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih, beban saja." Nona tersebut mendelik tak suka tatkala gadis itu berjalan melewatinya. Suara ternak seakan turut mengejek. "Hmph, hanya seekor bebek yang bermimpi menjadi putri angsa."


Aster mendengar dan melihat semuanya, apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada. Hanya bisa diam menyaksikan.