Vampire Aedes

Vampire Aedes
25. Menerima Misi dari Pak Steven



Putri Ketiga menyembunyikan fakta bahwa keduanya menempati Istana Bunga untuk sekedar singgah. Karena jika kembali ke Istana Tabib tanpa resep baru, sama saja menyerah dengan tugas yang diberikan oleh pemimpin. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Posisi pertama hampir tercapai. Bertahan sedikit lagi,jangan sampai gagal.


"Kami terus mencari cara agar penetilian ini disetujui. Andai saja mereka mau negosiasi," sambung Cycy. Tangannya mengepal erat.


Negeri yang tertutup. Rumor mengenai wabah menular juga tertutup rapat. Tidak mengizinkan akses orang luar untuk lewat. Petinggi kerajaan takkan tahu menahu soal masalah ini kalau tidak menggunakan sihir pengumpul informasi tahap tertinggi.


Bagian dalam Istana Apung pun patut dicurigai. Sudah jelas penduduk tergeletak tak bernyawa karena penyakit. Ratusan nyawa telah lenyap, namun belum ada yang melapor masalah itu ke pusat kerajaan.


Jam besar berbunyi, tepat pukul satu siang. Gemanya menggetarkan tanah sebagian Istana. Menandakan sesi pengangkatan akan dimulai. Aster serta dua kakak beradik menepi tatkala dorongan para perwakilan mendesak masuk. Bahkan wilayah Istana seluas ini terasa sempit seketika. Parahnya lagi ada orang terbang, melayang, dan berjalan di bawah tanah.


Aster menghelas napas. "Sudah waktunya. Cycy, Putri Ketiga, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Tapi tidak sekarang, kuharap setelah ini kalian berdua masih tinggal."


Putri Ketiga mengangguk. "Aku memberitahu seorang pelayan mengenai identitasku, jadi dia mempersiapkan paviliun khusus dekat taman Istana untuk tempat tinggal sementara. Jangan lupa berkunjung."


Lihat betapa sombongnya mereka. Kedudukan bangsawan dari Negeri Tabib memang paling tinggi dan dihormati. Cukup mengatakan latar belakang, bala bantuan lekas datang. Sampai sekarang, Aster saja belum tahu bagaimana kediaman ia ke depannya.


"Baiklah. Sampai jumpa."


Kemudian, Putri Ketiga membawa adiknya pergi. Cara ia menghilang mirip kemampuan dua pangeran yang juga berasal dari Negeri Tabib. Sepertinya semua bangsawan sana mempunyai kemampuan itu.


Gadis berkulit sawo matang pun berbalik, menggerakkan kaki mengikuti karpet hijau. Kris tersenyum sebab Aster selalu mengingat apa yang sudah ia ajarkan. Pertumbuhan rumput di dalam pola seolah tengah dikontrol seseorang. Seolah sengaja dibuat tumbuh dengan lebar agar Aster kebingungan, namun gadis itu cukup cerdik dengan tetap melangkah dari samping.


Pada proses inti, Aster hanya diarahkan untuk duduk bersila setenang mungkin. Tetua berjumlah lima orang berdiri di tiap sisi, mengucapkan bahasa yang kurang Aster pahami. Mereka secara bergantian mengucapkan mantra masing-masing.


Karena terbawa suasana, Aster sedikit mengantuk hingga memejamkan kedua belah mata. Namun hanya sebentar, tak lama kemudian Aster membuka kelopak yang terasa berat. Dan segala hal yang tampak di sekitarnya adalah cahaya putih.


"Di mana ini?" Aster bangkit dari duduk, menatap gelisah pada ruang tanpa batas itu. Tiba-tiba muncul seorang pria tanpa rambut ketika Aster menghadap belakang. Ia terperanjat. Ia rindu betul pada sosok botak guru bionya. "Pak Steven?!"


Ini bukan mimpi. Rasanya Aster ingin menangis, ada manusia dari dunia nyata yang ia kenal berdiri hidup-hidup dan mengenalnya. Pria setengah baya itu memakai pakaian kerja hari Kamis. Baju batik dengan motif beragam flora.


Pak Steven tersenyum misterius. "Bagaimana? Jadi Tuan Putri senang tidak?"


Penglihatan Aster kembali buram, namun kali ini jelas karena terlalu menampung kesedihan. Gadis kecil itu menggeleng kuat hingga bulir kristalnya terjatuh. "Saya rindu ibu saya, sahabat dan teman saya, dan sekolah. Saya rindu pada rumah. Pak, saya ingin pulang!"


"Ingin pulang?"


"Ya!"


Pak Steven mengeluarkan jam gelang dari saku celana, lalu memasangkannya pada pergelangan tangan kiri Aster. "Ini bukan jam gelang biasa. Kamu bisa memanfaatkannya di waktu yang tepat."


Aster memandangi benda serupa perhiasan itu. dengan takjub. Gelangnya ringan, elastis dan terasa nyaman saat dikenakan. Manik-maniknya terbuat dari kayu, tetapi Aster tidak tahu kayu jenis apa. Ia juga tidak tahu jam gelang tenun sebut dibuat langsung oleh Pak Steven. "Kenapa Anda memberi saya gelang ini?"


"Karena aku akan memberimu PR besar. Jika PR itu dikumpulkan sebelum jarum panjang menunjuk angka dua belas, kamu bisa pulang."


"PR apa maksudnya?" tanya Aster tak sabar, padahal Pak Steven belum selesai mengakhiri kalimat. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari dunia ini, dunia yang penuh ilusi abnormal.


"PR pertama, kamu harus mencari pelaku yang mengambil kalung Kucing Ajaib."


"Kucing Ajaib? Jangan bilang kalau Pak Steven adalah 'Papa'?"


Aster hampir melupakan kucing itu kalau terlambat diingatkan. Dahinya berkerut dalam. Sejak pertama kali menginjak kaki di Istana, ia sudah tidak pernah berjumpa dengan Kucing Ajaib. Tidak tahu di balik bulu lehernya yang tebal juga menyembunyikan kalung yang sepertinya sangat berharga. Buktinya Pak Steven sampai meminta Aster menemukan pencuri itu. Tanpa berpikir dua kali, Aster mengangguk.


"PR kedua, kamu harus menjadi penyelamat. Yang perlu kamu selamatkan satu orang saja, ciri-cirinya ada di dalam syair bait keempat yang kamu dengarkan saat upacara."


"Jam itu untuk mengingatkanmu." Pak Steven melirik gelang yang terlihat indah mengkilap. Menurutnya memberitahu batas waktu pada gadis pilihan adalah kebaikan terbesar yang pernah Papa lakukan.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama. Ada lagi yang perlu kamu tanyakan? Kalau tidak ada aku akan mengembalikan rohmu ke tubuhmu."


Aster menunduk merasakan daya gravitasi yang begitu kuat. Lantai kaca di bawahnya seolah menarik Aster agar ikut terperangkap dalam bayangan semu.


"Tidak, tunggu dulu! Bagaimana bentuk kalung itu? Dan di mana aku bisa menemukan Kucing Ajaib? Dia terpisah denganku begitu aku masuk Istana!"


Bukan menjawab, Pak Steven melambaikan tangan sambil tersenyum ramah. Sepertinya tidak ada satu pun petunjuk lain.


***


"Dengan ini menyatakan bahwa Tuan Putri adalah perwakilan jiwa Aster. Jiwa yang masih lemah dan kurang kemampuan. Harus banyak berlatih meningkatkan kekuatan. Yang Mulia Raja memberinya kedudukan sebagai Putri Ke-13 agar lebih mudah termotivasi."


"Selesai."


Huft, huft, huft! Cairan asin membasahi pelipis gadis terpilih yang kini sudah resmi menjadi anggota Istana. Entah mengapa usai Raja menyentuh puncak kepalanya, Aster merasakan segala beban pikiran terpusat, kemudian ditarik dengan paksa. Meski setelahnya Aster merasa lega, ia lalu merasa sedikit kosong.


"Apa yang Raja lakukan padaku?" gumam gadis itu sambil memukul-mukul kepala.


"Putri Ke-13, kediaman Anda sudah dibangun. Ratu ingin memperlihatkan pada Anda juga beberapa pelayan yang bagus. Mari ikuti saya," ucap pelayan Ratu.


"Ah, baik!"


Woahh! Sepatah kata yang Aster kira akan keluar dari mulutnya. Begitu melihat paviliun ini lebih buruk daripada paviliun terbengkalai, Aster berusaha menahan beban di dada. Ratu menoleh sembari memamerkan lengkungan bibir dengan lipstick peach.


"...."


"Putri Ke-13! Bagaimana menurutmu?"


Kecil, tidak cantik, itu kalau Aster boleh jujur. Ia memilih tersenyum paksa demi menyenangkan hati Ratu. "Yang Mulia, terima kasih banyak! Saya sangat menyukainya."


"Bagus sekali! Kupikir kau menolak tinggal di paviliun seperti ini."


"Maaf, Yang Mulia. Sebaiknya Anda kembali ke kamar. Tempat terpencil begini tidak pantas Anda kunjungi," ucap pelayan yang tadi memanggil Aster kemari.


Ratu memasang wajah galak. "Sari, kenapa kau masih di sini? Bukankah aku menyuruhmu memanggil semua pelayan yang kupilih?"


"B-baik. Hamba laksanakan." Pelayan itu mengundurkan diri.


"Pelayan?" beo Aster.


Ratu menangkup sebentar pipi Aster. "Benar. Kau butuh pelayan di Istana. Lebih baik sama-sama perempuan agar lebih cepat terbiasa."


Aster kini sibuk mengabsen satu per satu pelayan yang berbaris di depannya. Ratu membawa kandidat sebanyak ini, tentu takkan muat kalau semuanya tinggal di paviliun. Bahkan halaman depan sudah mau meledak karena kelebihan muatan.


Tanpa sadar lirikan Aster jengah, namun kejengahan itu mempertemukan ia dengan wajah pelayan yang dulu. Barisan paling belakang. Aster menggigit bibir bawah. Jika mengikuti mimpi simulasi apakah plotnya tetap sama? Aster berjalan memutar, mendekati Sari hingga berdiri tepat di depan gadis yang lebih tinggi, lebih tua dua tahun darinya.


"Yang Mulia, paviliun yang begitu sederhana hanya membutuhkan seorang pelayan. Saya kurang nyaman dengan kehadiran banyak orang. Jadi, saya pilih dia saja." Aster pun menarik lengan pelayan yang dimaksud keluar barisan.