Vampire Aedes

Vampire Aedes
45. Akhirnya ....



"Apa ini?" tanya Pangeran Ketujuh sembari melayangkan tatapan datar pada Pangeran Ketiga. Tangan kanannya mengangkat kedua kaki ayam yang sudah diikat menggunakan jerami.


"Oleh-oleh, tentu saja." Pangeran Ketiga tersenyum. Saat ini mereka di depan kereta kuda dan Pangeran Ketiga bertugas mengantarkan hingga ke gerbang Istana. Ketika hendak naik kereta, mereka berdua yaitu Aster dan Pangeran Ketujuh ditahan oleh beberapa pengawal.


Lalu, mereka menyerahkan seekor ayam dalam keadaan terikat kakinya. Aster yang hanya melihat hal tersebut langsung bersin.


"Hatsyi! Aku, hatsyi! Alergi bulu!" Gadis itu terus bersin. Seraya melangkah mundur agar tidak berdekatan bulu ayam yang beterbangan. Kalau dibawa ke dalam kereta pasti akan sangat menganggu kenyamanan.


Salah satu penjaga kuda yang mengikuti perintah Pangeran Ketujuh berkata, "Pangeran, sebaiknya ayam itu diletakkan di bawah kereta."


Atas saran tersebut Aster sedikit menunduk guna melihat bawah kereta. Seperti ada ruang kosong. Itu cukup untuk mengikat ayam di bawah sana.


Pangeran Ketujuh menatap tajam ayam tersebut. Yang semula memberontak kini terdiam kaku. Sebenarnya ia ingin sekali mematahkan kaki ayam lalu melemparkannya ke muka Pangeran Ketiga.


Namun, memperlakukan hadiah dari kerajaan lain dengan buruk adalah bentuk penghinaan. Pangeran Ketiga menerima hewan tersebut karena masih mau menjaga persahabatan antarkerajaan.


Ia menyodorkannya ke dada penjaga tadi. Setelah diterima dengan hati-hati dan diikat sekencang mungkin, barulah Aster serta Pangeran Aedes masuk kereta.


"Putri Aster, saya harap Anda kembali ke Istana Bunga hidup-hidup," ucap Pangeran Ketiga agak keras, seolah menyiratkan perpisahan.


Sontak Aster mengeluarkan kepalanya dari sisi kereta. "Pangeran Ketiga, saya harap saat saya kembali nanti Anda menjadi sedikit lebih tampan!" teriaknya kesal.


Pangeran Ketiga tak mengubah mimik wajahnya. Selalu tersenyum. Dalam hati, Aster menyumpahinya. Ugh, tersenyumlah sampai matahari terbit! Pada saat itu seharusnya Pangeran Ketiga berubah menjadi kakek-kakek.


Dari atas tembok raksasa yang mengelilingi Istana, seseorang melepaskan tali sehingga gerbang yang berupa papan kayu berukuran besar terjatuh dan menjadi jembatan bagi kereta kuda untuk melewati parit di bawahnya. Aster dapat mengintip pemandangan di luar kereta yang sebagian besar hijau tua. Langit masih gelap. Suara langkah kuda. Perlahan angin dingin mencekik lehernya.


"Haa, dingin banget anj—" Hampir saja ia mengumpat di depan Pangeran Ketujuh. Laki-laki itu hanya menaikkan sebelah alis saat Aster memeluk tubuh sambil menggigil. "Apa?" tanya Aster yang tidak tahan menjadi sasaran mata.


"Harusnya aku yang bertanya. Apa maksudmu tiba-tiba berhenti bicara begitu menatapku?"


Aster mengalihkan mata. "Yah, bukan apa-apa."


Bohong. Pangeran Ketujuh tahu bahwa gadis lemah itu kedinginan, tapi sepertinya dia tidak berani mengeluhkan hal kecil di hadapan sang Pangeran. Kenapa? Mungkin saja karena sekarang tidak ada orang dari Istana Bunga yang akan mendukungnya.


Gadis sendirian yang malang.


Padahal, bisa saja Pangeran Ketujuh menggunakan kekuatannya untuk mempercepat tujuan. Akan tetapi, justru angin yang lebih kencang akan mudah masuk. Ia tidak mau gadis yang dibawa mati membeku. Pandangan Pangeran Ketujuh tak pernah lepas dari wajah Aster. Meskipun si empu risih, tapi dia tak mau peduli.


"Nggak usah natap gue mulu bisa nggak sih?"


Ingin sekali Aster melontarkan kata-kata itu, tapi untung saja sekedar angan-angan. Ia khawatir kalau Pangeran Ketujuh emosi dan malah melemparkannya langsung dari kereta. Kan lucu.


"Selain kebal terhadap rasa sakit," ujar Pangeran. "Apa lagi kemampuan yang kau miliki?"


"Hmm." Aster tampak berpikir. Keluar begitu saja dari Istana Bunga, ternyata ia tidak menguasai kemampuan apa pun. Hanya kemampuan membaca yang didapat secara percuma dari Pangeran Kelima. Tetapi, apakah itu sungguh kemampuan? Sepertinya tidak terlalu khusus.


"Sepertinya tidak ada," ucap Pangeran Ketujuh, datar.


Aster meresponnya dengan tertawa canggung. Lalu, ia teringat sesuatu. "Oh? Saya bisa menumbuhkan bunga aster!"


"Hanya itu?"


Pangeran Ketujuh mendengus kesal. "Kamu benar-benar membutuhkan perlindungan ekstra."


Secara mendadak, kereta berhenti diikuti ringkikan kuda. Keretanya sedikit bergoyang, tapi itu terasa menegangkan berhubung Aster baru pertama kali naik kereta kuda. Kedua orang di dalamnya mengernyit kebingungan. Aster menatap Pangeran Ketujuh yang juga menatapnya.


"Kudaku terkejut. Seseorang menghadangnya tiba-tiba."


"Y-ya? Bagaimana kalau kuda itu menginjaknya? Bukankah orang itu sama saja mau bunuh diri?"


"Mungkin," jawab Pangeran Ketujuh acuh.


Di luar agak ribut. Terjadi perdebatan antara pengendali kuda dengan orang tersebut. Sampai penjaga yang di belakang turun untuk melihat apa yang terjadi. "Yang Mulia, seorang gadis bersikeras bertemu Putri Ketigabelas. Katanya dia teman lama Sang Putri. Kalau Tuan Putri tidak mau menemui, dia akan terus menganggu jalan. Apa yang harus kami lakukan, Pangeran?"


"Tepat sekali. Karena dia sangat ingin diinjak sampai mati, kau boleh tidak menghiraukannya dan terus memacu kuda."


Apa?


"Woy! Jangan bunuh orang sembarangan," teriak Aster tepat di wajah Pangeran Ketujuh. Gadis itu beralih menahan pria di luar. "Tunggu sebentar! Kau bilang dia teman lamaku, kan? Biarkan aku melihatnya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan."


Awalnya, pria itu terdiam. Tatapannya tertuju pada laki-laki yang di hadapan Aster seolah meminta pendapat. Aster juga menoleh pada sosok paling tinggi kedudukannya.


Ah, pengikut setia hanya mau mendengar perintah dari atasan. Melihat sorot mata Aster yang menurun, Pangeran Ketujuh tersenyum. "Turuti permintaan orangku."


Baiklah. Dirinya sudah diklaim sebagai 'orangku'. Aster masih malu karena memberikan perintah sembarangan selagi belum menduduki posisi yang berpengaruh. Namun, dia lebih penasaran dengan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai teman lama.


Aster tidak punya ingatan tentang hal ini. Bahkan, setelah orang itu dibawa ke sisi samping kereta, Aster menatap wajah berpeluh di bawahnya tanpa terkesan sedikit pun. Seorang gadis. Mungkin seumuran dengannya. Beberapa lipatan dahi muncul.


"Kamu siapa?" Pertanyaan yang dilontarkan Aster bagaikan petir di siang bolong.


Dan gadis tersebut tampak syok, lalu tersenyum getir. Di pipi mengalir air mata begitu banyak. "Pembohong," ucapnya pelan.


Aster tersentak melihat gadis itu menangis terisak. "Ka-kamu baik-baik saja? Aku sedang bertanya, apa tidak ada yang ingin kamu katakan? Mungkin aku bisa membantu."


Air matanya semakin deras. Kenapa dia malah menangis daripada menjawab? Apa nada bicaraku ada yang salah? Aster bertanya-tanya dalam hati.


"Apa kau mengenalnya?"


Aster menoleh cepat. "Tidak tuh? Itu sebabnya aku tanya dia siapa, tapi dia malah menangis."


"Oh." Pangeran Ketujuh ikut menatap gadis di luar kereta. "Mungkin kamu tidak mendengarnya, tapi dia baru saja mengataimu pembohong."


"Apa?"


"Tuan Putri," kata penjaga. "Sepertinya dia adalah budak yang kabur dari pasar. Di kakinya terdapat bekas."


Lalu Aster menurunkan atensi ke pergelangan kaki yang dimaksud. Meski samar, dapat terlihat bekas merah melingkar.


"Apa Anda kenal Vanessa?"