Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
S2. Calon Istri?



Desa kecil tidak selalu berarti jelek maupun buruk. Jika kalian datang ke desa–desa kecil yang berada di Italia, desa kecil justru terlihat menakjubkan disana. 


Dozza adalah sebuah desa kecil yang terkenal dengan penampilannya yang bak kanvas seorang seniman. Desa abad pertengahan ini seperti museum seni terbuka, dengan lukisan berwarna menghiasi rumah, dinding, jalanan dan lapangan. Desa ini juga dikenal dengan festival anggur musim panas.


"Wow!" Sonya berdecak kagum saat melihat desa yang indah dan eksotis itu.



"Setiap bulan september di desa ini akan ada Pameran Bienniale yang mengumpulkan lukisan terbaik dari seluruh dunia," ucap Black sambil menatap Sonya yang sedang sibuk mengabadikan keindahan desa itu mengunakan ponsel.


"Aku sangat takjub sekali. Di Indonesia tidak pernah aku temui desa seindah ini." Sonya berkata tanpa menatap Black.


"Sepertinya aku akan betah berada di sini." Lanjut Sonya sambil terkekeh. Tadinya dia yang enggan mengambil libur, kini dia malah sangat menikmati waktunya di desa itu.


"Ayo!' ajak Black, seraya mengulurkan tangannya kepada Sonya.


"Ayo ke mana?" Sonya bertanya, lalu menatap tangan Black.


"Ke rumahku!" Black langsung menggandeng tangan Sonya.


"Eh! Tapi mobilnya?!" Sonya terpaksa mengikuti langkah kaki pria itu, sambil menoleh ke belakang, menatap mobil yang terparkir di tepi jalan.


"Di sini aman," jawab Black terus berjalan, sambil melirik Sonya yang sudah berjalan di sampingnya.


"Kau yakin?" Sonya memastikan, sembari menatap Black dari samping. "Oh, iya ... ya, rumahmu 'kan ada di sini." Sonya menjawab pertanyaannya sendiri, dan hal itu membuat Black terkekeh.


"Hai, Rald!" sapa pria berkulit putih yang hanya mengenakan singlet dan celana pendek.


"Hai!" Black menyapa balik pria tersebut dengan ramah.


"Rald? Bukankah namamu Black?" tanya Sonya dengan raut wajah yang bingung.


"Bukan, namaku Harald," jawab Black.


"Hah? Lalu kenapa kau di panggil dengan sebutan Black?" tanya Sonya lagi. Gadis itu sangat penasaran.


"Kau masih bertanya kenapa?" Black terkekeh menjawabnya.


"Karena aku tidak paham!" ketus Sonya lalu melepaskan genggaman tangan pria itu.


Black menghela nafas panjang, kemudian menjelaskan semuanya kepada Sonya. "Kulitku berwarna gelap seperti mendiang ayahku. Dan kau tahu sendiri jika dari kecil aku hidup di lingkungan orang kulit putih," jawab Black.


Sonya menghentikan langkahnya, saat mendengar penjelasan dari Black. Sekarang dia mulai paham dengan kisah Black.


"Bukankah hal itu adalah rasis dan mendiskriminasi dirimu, jika mereka memanggilmu dengan sebutan Black!" Sonya menjadi merasa kesal.


Sonya tersenyum tipis sambil melihat tangannya yang di gandeng oleh Black.


"Apakah rumahmu masih jauh?" tanya Sonya, karena sejak tadi mereka terus berjalan.


"Ada di ujung sana. Tapi, sebelum itu kita mampir beli buah untuk ibuku." Black menuntun Sonya ke penjual buah yang tidak jauh dari sana.


Mereka membeli buah anggur, jeruk dan apel. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi menuju rumah sederhana yang ada di ujung jalan sempit itu.


Seorang wanita paruh baya sedang menyapu halaman rumah sambil bersenandung. Lalu dia menghentikan kegiatannya saat melihat dua pasang kaki berhenti di hadapannya. Wanita paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar.


"Rald, akhirnya kau pulang!" seru wanita paruh baya itu mendadak kesal dan mengangkat sapunya, bersiap untuk memukulkannya ke arah Black.


"Bu, jangan memarahiku!" Black melindungi kepalanya agar tidak terkena pukulan dari ibunya.


"Ish!" wanita paruh baya itu berdecak lalu menurunkan sapunya, pandangannya beralih menatap gadis cantik yang berdiri di samping putranya.


"Ah, ya ampun! Maaf, aku bersikap kurang ajar kepada tamu. Rald, kenapa kau baru bilang jika akan pulang bersama calon istrimu." Wanita paruh baya itu sangat senang lalu memberikan sapunya kepada putranya, kemudian beralih merengkuh pudak Sonya.


"Maaf, Nyonya ... Tapi, aku ..."


"Aku tahu ... Aku tahu ... ayo masuk ke rumah sederhana kami." Wanita paruh baya itu langsung membawa Sonya masuk ke dalam rumahnya, tapi sebelum itu dia menoleh ke belakang, menatap putranya.


"Bersihkan halaman rumah itu sampai bersih!"


"Huh! Sebenarnya, aku ini anaknya atau bukan!" gerutu Black, seraya melepaskan jasnya dan kemudian menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, dan mulai menyapu halaman rumah seperti perintah ibunya.


"Nyonya, aku bukan cal ..."


"Panggil aku ibu, seperti Harald memanggilku. Atau kau bisa memanggilku Rose," ucap wanita paruh baya itu.


"Iya, Bu, tapi aku ..."


"Kau sudah memanggilku dengan sebutan Ibu, berarti kau memang calon istrinya anak nakal itu!" seru Rose sangat bahagia.


Sepertinya Sonya sudah terjebak dalam ucapan ibunya Black.


"Ya ampun, bagaimana ini?" keluh Sonya di dalam hati. Di tambah lagi Rose tidak memberikan dirinya sempatan untuk berbicara.


***


Jangan lupa dukungannya ❤