
“Bergerak cepat, jangan sampai menimbulkan suara!!” Dante memberikan kepada para bodyguard-nya. Mana mungkin dirinya diam saja, melihat anak dan menantunya berhadapan dengan Mafia kejam. Bodyguard Carlos sudah di lumpuhkan, dan saat ini mereka menyusup dengan perlahan ke dalam restoran tersebut.
Di dalam restoran tersebut. Dom mengambil senjata api yang ia selipkan di belakang pinggangnya. Manik berwarna abu itu menatap tajam para bodyguard Carlos yang mengelilinginya.
“Nona William, kemarilah,” ucap Carlos kepada Emily yang ketakutan sambil memeluk tangan Dom.
Carlos mengulurkan tangannya kepada Emily.
“Lebih baik aku mati dari pada harus bersama bajingan sepertimu!” ucap Emily dengan tegas, ketakutannya kini berangsur hilang, tergantikan dengan rasa amarah.
“Wow! Pilihan yang tidak tepat, tapi aku tentu saja tidak akan membiarkan wanita secantik dirimu mati dengan sia-sia,” ucap Carlos tersenyum setan.
KRAK!
Dom menodongkan senjata apinya ke arah Carlos saat pria itu semakin mendekati istrinya.
“Kamu membuatku takut, tapi senjata mainan itu tidak akan bisa menembus tubuhku.” Carlos berkata dengan sombong.
“Oh, Ya?” Dom mulai menekan pelatuknya, tatapan semakin menajam, dan giginya bergemelutuk dengan kuat.
Rasa takut mulai menyelimuti hati Emily. Ia kini beralih bersembunyi di belakang suaminya.
“Ya Tuhan lindungi kami.” Emily terus berdoa di dalam hati.
KRAK ... KRAK ...
Para bodyguard Carlos sudah bersiap pada posisi mereka mulai menarik pelatuk senjata api mereka dengan perlahan, saat Dom mengarahkan senjata apinya ke arah Boss mereka.
“Turunkan senjata Anda, Tuan Toretto! Jika tidak, kalian berdua akan tewas di sini!” ucap salah satu pria berpakaian serba hitam memberikan ultimatum kepada Dom.
Emily semakin bergetar ketakutan saat mendengarnya, tapi tidak untuk Dom, ia akan berjuang keras untuk melindungi istrinya, meski nyawanya yang harus menjadi taruhannya.
Carlos memberikan kode kepada para bodyguard-nya agar menurunkan senjata mereka.
“Aku rasa pertemuan ini harus kita akhiri. Semoga kita bisa berjumpa lagi lain waktu,” ucap Carlos keluar dari restoran tersebut, begitu pula dengan para bodyguardnya.
“Uncle!” Emily menangis ketakutan di pelukan suaminya.
“Mereka sudah pergi.” ucap Dom memeluk istrinya dengan sangat erat, seraya mengecupi kening istrinya.
Carlos yang sudah berada di luar restoran berdecak sebal saat kakinya menginjak tangan salah satu bodyguard-nya yang sudah tewas di tangan bodyguard Dante.
“Semut-semut itu ingin bermain denganku rupanya!” geram Carlos, menatap para bodyguard-nya yang berjaga di luar restoran sudah tergeletak semuanya.
“Segera singkirkan jasad mereka!” ucap Carlos dengan nada yang sangat mengerikan.
*
*
“Kalian tidak apa-apa?” Dante menghampiri Dom dan Emily yang sedang berpelukan sambil menurunkan senjatanya.
“Daddy!” Emily kini beralih menangis di pelukan suaminya.
“Maaf, jika kami terlambat,” ucap Dante dengan perasaan sedikit lega.
“Kami tidak apa-apa, tapi Carlos tidak akan melepaskan kami begitu saja,” jawab Dom menghela nafas kasar.
“Tidak ada cara lain, Dom,” ucap Dante menatap Dom dengan serius.
"Apa? Cara apa yang akan kalian lakukan? Dan mereka tadi siapa?" Emily melayangkan pertanyaan secara beruntun.
"Kami akan menjelaskannya nanti saat tiba di rumah," jawab Dante kepada putrinya.
***
Syukurlah tiada ada pertumpahan darah, tapi mereka harus tetap waspada. 🥺