
Black dan gadis yang bernama Sonya sudah keluar dari gedung putih itu.
“Siapa namamu?” tanya Black, seraya memasukkan kedua tangannya di kantong celananya, menatap gadis yang ada di dekatnya itu dengan iba.
Dia tidak mempertanyakan masalah gadis itu kenapa bisa ada di tempat terkutuk itu. Dia tidak peduli, niatnya hanya membantu.
“Sonya, Mr,” jawab gadis itu sambil merapatkan pakaianya yang sudah sobek bagian depan.
“Sonya? Sepertinya kau bukan warga Italia. Jika di lihat dari jenis kulitmu, kau dari Asia,” tebak Black.
“I-iya, Mr. Aku dari Indonesia,” jawab Sonya, menundukkan kepalanya.
Black terkejut mendengarnya. Bukankah Hana juga warga negara Indonesia? Batin Black.
“Sekarang pulang lah. Dan jangan pernah pergi ke tempat seperti ini lagi.
Aku sudah menghabiskan semua tabunganku untuk menyelamatkanmu.” Black berkata sambil berlalu dari sana, meninggalkan Sonya yang masih terdiam di tempat.
Black berjalan kaki menyusuri jalan pada malam hari itu, akan tetapi dia menghentikan langkahnya saat merasa jika ada yang mengikutinya dari belakang. Kemudian, dia membalikkan badannya sembari menatap Sonya dengan tajam.
“Kenapa mengikutiku?!”
“Aku belum mengucapkan terima kasih, Mr. Aku hanya mempunyai ini--” Sonya tidak melanjutkan ucapannya, namun gadis itu memberikan gelang emasnya kepada Black.
“Baiklah, aku menerimanya,” ucap Black menatap gelang yang sudah di telapak tangannya.
“Sekali lagi terima kasih banyak, Mr. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda.”
“Amin,” jawab Black.
“Dan semoga kita bisa bertemu lagi, suatu hari nanti.” Sonya memundurkan langkahnya seraya memberikan senyuman manis kepada pria berkulit gelap dan berkepala botak itu.
Black hanya menatap datar saja, kemudian dia membalikkan badannya, melanjutkan langkahnya pulang ke mansion.
***
Di Mansion.
Emily mengalami Kram perut setelah mereka bercinta, membuat Dom merasa bersalah luar biasa.
“Tidak apa-apa,” jawab Emily tersenyum lalu mengecup rahang tegas suaminya.
“Apakah perlu ke rumah sakit?” Dom benar-benar cemas saat ini.
“Rasa sakitnya sudah berangsur hilang. Aku rasa tidak perlu.” Emily menjawab sambil mengeratkan pelukannya pada perut suaminya.
Dom melepaskan pelukan istrinya, kemudian ia mendudukkan diri. “Aku akan membuatkanmu teh hangat,” ucap Dom lalu segera turun dari tempat tidur, dan memakai pakaiannya kembali.
“Terima kasih, My Dom. Jangan lupa bawakan aku makanan,” ucap Emily kepada suaminya yang sudah membuka pintu kamar.
“Hemmm.” Dom hanya menjawab dengan deheman saja.
Sampai di dapur. Dom agak terkejut saat melihat Black berada di sana juga.
“Sedang apa?” tanya Dom.
“Makan!” jawab Black sambil memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya.
Dom mengambil cangkir untuk membuatkan teh hangat untuk istrinya.
“Kau tahu Black, sejak menikah dan istriku mengandung anakku, kehidupanku berubah menjadi berwarna,” ucap Dom tanpa menoleh karena dia saat ini sedang fokus membuat teh hangat untuk istrinya.
“Kau sedang curhat?” Black bertanya sambil terkekeh, karena tidak biasanya seorang Dom banyak bicara seperti ini.
“Aku sedang pamer kepadamu!” sahut Dom terdengar menyebalkan di indra pendengaran Black.
“Cih!” Black berdecih kesal menanggapinya. Sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan rakus.
“Usiamu sudah 30 tahun lebih, kau tidak ingin menikah?” tanya Dom sambil mengambil semua roti yang ada di atas piring Black.
“Hei! Rotiku!”
“Thanks!” Dom tersenyum mengejek lalu keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh dan lima potong roti bakar di tangannya.