
Arra terus merengek kepada Dante agar diizinkan keluar mansion. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang pribadi Dante.
"Opa yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, izinkan Arracelia yang cantik ini keluar untuk berjalan-jalan." Arra mengedipkan kedua matanya berulang kali, membujuk Dante yang sedang menekuri layar ponsel memantau pasar saham dunia.
Dante mengalihkan pandangannya, menatap Arra yang terlihat mengedipkan mata berulang kali. "Kedua matamu kenapa? Kelilipan?" tanya Dante menatap Arra datar.
"Ish! Sejak tadi aku bicara panjang lebar tidak di dengarkan?!" sewot Arra mengerucutkan bibirnya.
"Opa mendengarkan permintaanmu itu. Tapi, maaf, Opa tidak bisa mengabulkannya," jawab Dante lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
"Opa!!!" rengek Arra seperti anak kecil yang minta es krim.
"Sekali tidak ya tidak!" tegas Dante tidak bisa di bantah.
Ck!
Arra berdecak kesal lalu segera keluar dari ruangan tersebut, menyerah membujuk Dante.
Apa kabur saja ya? Pikir Arra, namun ia tidak ingin menggung resiko selanjutnya, karena jika ketahuan maka Dante akan memberikan hukuman yang lebih berat lagi.
Arra berjalan menuju kamarnya. Tidur siang lebih baik sepertinya.
***
Jika Arra sedang gegana karena tidak diizinkan keluar oleh Dante. Berbeda dengan Dom yang saat ini malah enggan keluar dari kamar. Bahkan semua pekerjaanya pun di kerjakan di dalam kamar.
"Aku mual jika mencium udara di luar kamar." Dom memberikan alasan pada istrinya yang mengajaknya keluar kamar.
Pria datar tanpa ekspresi itu menyugarkan rambut gondrongnya dengan perlahan, lalu menatap Emily yang cemberut di tepian tempat tidur.
"Baiklah. Tapi, aku harus memakai masker, aku tidak tahan mencium bau di luar sana." Dom akhirnya mengalah.
Emily menoleh ke arah suaminya. Wajahnya yang cemberut kini berubah cerah secerah matahari yang terbit di pagi hari.
"Aku ingin keliling Kota Milan, apakah boleh?" tanya Emily seraya mengatupkan kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan penuh harap.
"My Lily! Tadi kau bilang hanya keluar kamar?!" Dom protes menatap tajam istrinya.
"Ya sudah kalau begitu!!!" Emily kembali merajuk, mendudukkan dirinya di sofa sembari mengelus perutnya yang masih rata. "Sepertinya, Daddy tidak menyayangimu," ucap Emily seolah sedang berbicara dengan janin yang ada di dalam kandungannya.
Mendengar ucapan Istrinya. Dom menghela nafas kasar. Dan mau tidak mau akhirnya ia menuruti permintaan istrinya.
"Ayo!" ajak Dom yang sudah mengenakan masker. Dia mengulurkan tangannya kepada Emily, tentu saja wanita hamil itu menyambutnya dengan senang hati.
"Aku tidak ingin berjalan, tapi gendong," rengek Emily, seraya memasang wajahnya yang manis dan menggemaskan.
Dom mendengus lalu berjongkok membelakangi istrinya, seraya menepuk punggungnya. "Naiklah," ucap Dom.
"Yeaaiii!" seru Emily lalu dengan cepat nemplok punggung suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Dom.
"Kamu manja sekali!" gerutu Dom, lalu berdiri. Kedua tangannya menopang kedua paha istrinya.
"Karena anakmu yang menginginkannya," jawab Emily lalu mengecup pipi suaminya dari samping. "Aku jadi makin cinta sama Uncle Dom!" Emily saat ini seperti anak kecil yang di gendong ayahnya.
"Jadi nanti malam sudah siap membayarku kan?" tanya Dom tersenyum licik.
"Ah, sial! Turunkan aku!" pekik Emily, akan tetapi Dom terus melanjutkan langkahnya hingga keluar dari kamar.
***
Kapok Lily🤣🤣🤣
Vote-nya mana ya?