Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Amarah Carlos



Dante mondar mandir sembari menghubungi anak buahnya untuk menyelamatkan Arra—cucunya. Ia benar-benar sangat cemas dengan keadaan Arra yang di culik oleh Carlos.


Sementara itu Dom saat ini sedang berada di kamar dan di tangani oleh dokter keluarga William. Pria berbadan kekar dan berwajah datar itu meringis di pelukan istrinya, saat dokter menjahit lengannya yang terluka karena di tembak oleh Carlos.


"Sakit ya?" tanya Emily saat suaminya membenamkan wajahnya ke perutnya.


"Lily apakah kamu tidak tahu jika manusia kayu ini takut dengan darah?" tanya dokter yang sudah selesai menjahit lengan Dom.


"Benarkah? Aku baru mengetahuinya," jawab Emily terkekeh, tapi suaminya itu tidak takut saat melihat darah perawannya.


"Jangan menggodaku Lily!" Dom kesal lalu menjauhkan wajahnya dari perut Emily.


"Ayolah Uncle sayang, kenapa kamu harus marah? Apakah kamu malu mengakuinya?" goda Emily sambil menangkup kedua sisi wajah suaminya yang tampan lalu mengecup bibir Dom tanpa malu sedikit pun, padahal di sana masih ada dokter.


"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini, jika tidak aku pasti akan melihat adegan dewasa secara live." Dokter tersebut tertawa pelan lalu segera keluar dari kamar tersebut sembàri menenteng tasnya.


Dante mengusap wajahnya dengan kasar ketika mendapat kabar dari anak buahnya yang berhasil melacak keberadaan Carlos.


Hana meremas kedua tangannya bergantian, ia mencemaskan Arra.


"Mereka di berangkat menuju New York!" ucap Dante kepada istrinya.


"Lalu bagaimana ini? Apakah kita akan ke sana?" tanya Hana panik.


"Aku dan Black yang akan ke sana," jawab Dante dengan tegas.


Sementara itu. Arra saat ini sudah berada di dalam Jet mewah milik Carlos. Kedua tangannya masih di ikat dan kepalanya di tutup oleh kain hitam.


"Hei! Apakah kalian yang ada di sini tuli?! Iya!! Dasar manusia laknat!!" Arra terus berteriak tiada henti.


"Buka penutup kepalanya, dan lakban bibirnya!" titah Carlos kepada asistennya.


"Baik, Tuan," ucap Asistennya itu, lalu segera membuka penutup kepala Arra dengan kasar.


Ketika penutup kepala Arra terbuka, semua orang yang ada di sana terkejut bukan main saat melihat gadis tersebut ternyata buka Emily. Terutama Carlos yang sudah menggertakkan giginya dengan kesal, lalu menodongkan senjata apinya ke arah Arra.


"Siapa kau!" ucap Carlos penuh penekanan.


"Hei! Apa kamu buta? Sudah jelas aku ini adalah wanita cantik, masih bertanya?!" jawab Arra dengan nada sewot tanpa rasa takut sedikit pun.


Sial! Carlos mengumpat lalu menatap asistennya dengan tajam.


"Maaf, Tuan, sepertinya kami salah sasara," ucap asistennya itu seraya menundukkan kepalanya dengan dalam.


"Bodoh!" umpat Carlos kini ia beralih menodongkan senjatanya ke arah asistennya itu. "Yang kalian culik seharusnya Nona William!"


Dor


Carlos menembakkan senjata apinya ke arah kaki asistennya itu, hingga membuat pria tersebut langsung jatuh dan meringis kesakitan. Beberapa bodyguard langsung mengangkat asisten tersebut dan membawa menjauh dari Bos mereka.


Glek


Arra membulatkan kedua matanya, seraya menelan ludahnya dengan kasar, melihat kejadian penembakan itu di depan matanya. Tubuhnya bergetar, akan tetapi ia tidak boleh takut kepada pria yang ingin menculik Emily itu.


"Ha ha ha ha." Arra tertawa terbahak sambil menatap Carlos. "Tembakanmu sangat keren sekali, tapi sayangnya kamu terlalu kasar dan penuh nafsuu," ucap Arra mencibir Carlos.


"Sepertinya aku sudah gila karena sudah berani mencibir pria gila ini." batin Arra menangis, dan menyesali perkataan yang sudah keluar dari mulutnya.