
Tiba bulan kemudian.
Kehamilan Emily sudah memasuki bulan ke sembilan. Semua orang yang ada di dalam mansion itu siap siaga untuk menantikan ke lahiran anak pertama Emily dan Dom.
"My Lily, jangan banyak bergerak! Nanti perutmu jatuh!" Dom sangat cemas saat melihat perut besar istrinya.
"Kau kira perutku ini bola bisa jatuh!" Emily mendengus kesal. "Antarkan aku ke kamar mandi!" titah Emily kepada suaminya sambil menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur.
"Kenapa setelah akan melahirkan kau sangat galak sekali?!" dumel Dom lalu memapah tubuh istrinya menuju kamar mandi dengan pelan dan hati-hati.
"Kau mencibirku, My Dom?!" Emily melirik tajam suaminya.
"Tidak, My Lily. Mungkin kau salah dengar," elak Dom sambil menghela nafas panjang. Entah kenapa istrinya saat ini menjadi sangat menyebalkan.
"Kau bisa sendiri?" tanya Dom saat melihat istrinya kesusahan untuk menurunkam celana yang di kenakan.
"Menurutmu apakah aku bisa melakukannya dengan perut sebesar ini? My Dom!" jawab Emily sinis.
"Oh, ya ampun! Tinggal katakan jika kau tidak bisa melakukannya, kenapa kau sangat menyebalkan sekali!" Dom menjadi emosi saat mendengar jawaban istrinya, meski begitu, ia tetap membantu istrinya selesai dan kembali lagi ke tempat tidur.
"Ayo, aku bantu menaikkan kakinnya," ucap Dom kepada istrinya.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" ketus Emily dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Dia merasa jika Dom sudah tidak mencintainya semenjak perutnya semakin membesar. Dan hal itu membuatnya sangat sensitif.
"My Lily, kenapa kau sangat menyebalkan sekali!!" Dom menatap tajam istrinya. Dia sudah cukup sabar beberapa hari ini dengan segala tingkah Emily yang menyebalkan.
"Kau jauh lebih menyebalkan, Uncle Dom!!" balas Emily dengan kesal dan air mata yang sudah mengalir deras di pipi.
"Lily, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau sangat sensitif seperti ini?!" tanya Dom dengan nada pelan akan tetapi penuh penekanan.
"Kau tanya kenapa?! Seharusnya kau bertanya kepada dirimu sendiri, kenapa istrimu bisa bersikap seperti ini!" balas Emily dengan sengit.
Dom mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan istrinya.
Perasaan selama ini dia sudah menjadi suami yang baik dan tidak pernah melakukan kesalahan. Pikir Dom.
"Minggir aku mau tidur!!" Emily menepis tangan suaminya yang ada di atas pangkuannya.
Dom menghela nafas panjang, lalu menatap istrinya yang sudah merebahkan dirinya dengan susah payah. Kemudian ia merebahkan dirinya di samping istrinya.
Emily langsung memunggungi suaminya, Ia malas menatap wajah suaminya ya terlihat sangat menjengkelkan itu.
Dom geleng-geleng kepala, melihat tingkah istrinya yang seperti itu. Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan kepada Emily, dan apa kesalahannya hingga membuat istrinya semarah itu. Larut dalam pikirannya sendiri, lama-kelamaan Dom akhirnya memejamkan kedua matanya, terlelap dalam tidurnya.
Berbeda dengan Emily yang sama sekali tidak bisa tidur. Semenjak kehamilannya semakin besar, dia kesulitan tidur, bahkan untuk bernafas saja pun dia merasa sesak. Tapi lihatlah, suaminya seolah tidak peduli kepadanya. Dom selalu nyenyak tidur tidak mempedulikannya sama sekali. Hal inilah yang membuat Emily sangat marah kepada suaminya.
Emily mendudukkan dirinya, lalu menyusun bantal setinggi mungkin, kemudian dia bersandar pada tumpukan bantal itu. Dia mencoba untuk tidur akan tetapi bayi di dalam perutnya terus bergerak dan terus menendang hingga membuatnya sulit tidur.
***
Uncle minta di slepet kayaknya ini, kok kesel ya😫