Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Garis dua



Hana memanggil dokter kandungan ke mansion untuk memerika Emily.


"Siapa yang sakit?" tanya Arra kepada Dante yang berdiri di depan kamar Dom yang tertutup.


"Yang sakit Emily tapi yang merasakan Dom." Jawaban Dante membingungkan otak kecil Arra yang sulit untuk berpikir.


Arra menatap Dante seraya menggenggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa maksudnya?" gumam Arra sambil geleng-geleng kepala.


Sedangkan di dalam kamar sana. Dokter sedang memeriksa Emily. Dom dan Hana sangat bahagia ketika melihat tes kehamilan Emily yang menunjukkan garis dua.


"Hei! Apa yang kau lakukan!?" sentak Dom yang melihat dokter wanita menekan-nekan perut istrinya.


"Aku sedang memeriksa istrimu, Tuan Dom!" jawab dokter mulai sebal karena sejak tadi Dom merecoki pekerjaannya.


"Tapi kau sudah membuat My Lily kesakitan dan kau juga bisa melukai My baby!" Dom rasanya tidak terima melihat istrinya meringis seperti itu seolah menahan sakit.


"I'm oke, Uncle." Emily meyakinkan suaminya.


"Dokter hanya melakukan tugasnya Dom!" Hana rasanya ingin memukul kepala menantunya itu.


"Semuanya baik-baik saja. Janinnya berada di posisi yang tepat. Jadi, sekarang apakah Anda merasa mual atau pusing, Nona?" tanya dokter yang sudah selesai memeriksa Emily seraya membantu gadis itu duduk.


"Tidak, aku tidak merasa mual atau pusing," jawab Emily seraya menatap suaminya. "Tapi, suamiku yang merasakannya," lanjut Emily.


Dokter beralih menatap Dom yang terlihat sangat datar tanpa eskpresi.


"Wah, benarkah? Aku rasa bayi kalian sangat cerdas, karena baru sebesar biji kacang hijau sudah bisa membuat ayahnya menderita," ucap dokter terkekeh pelan, lalu menghampiri Dom yang menatapnya dengan tajam.


"Apa yang Anda rasakan Tuan?" tanya dokter tersebut.


"Pusing, lemas, mual, dan lebih parahnya aku tidak ingin berjauhan dengan istriku!" jawab Dom datar.


"Selamat menikmati kehamilan simpatik Tuan," ucap dokter lalu memeriksa Dom.


"Kehamilan simpatik?" Dom menjadi mengingat Gerry yang mengalami hal yang sama seperti dirinya saat Allegra hamil.


Dokter sudah selesai dengan tugasnya, dan sudah berpamitan pulang. Tidak lupa memberikan vitamin hamil untuk Emily.


Hana juga keluar dari kamar tersebut dengan perasaan penuh bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai cucu.


"Terima kasih, My Lily." Dom menciumi seluruh wajah istrinya dengan penuh cinta.


Emily tertawa pelan karena merasa geli terkena jambang suaminya. "Uncle hentikan!"


"Aku sangat bahagia!" Dom mengangkat tubuh istrinya ke atas pangkuannya.


"Benarkah Uncle bahagia?" tanya Emily memandang wajah tampan suaminya dengan binar kebahagiaan.


Dom menjawab dengan anggukan kepala. "Sangat," jawab Dom lalu menarik tengkuk Emily dan melabuhkan ciuman lembut di bibir istrinya.


Emily tersenyum di sela ciuman itu. Baru kali ini Dom bersikap lembut dan manis kepadanya.


Bibir keduanya saling memagut, dan saling menyesap atas bawah bergantian. Tangan Dom yang tadinya di pinggang ramping Emily perlahan merambat naik ke dada istrinya. Meremass dengan gemas, membuat Emily melenguh tertahan.


Ceklek


"Lily!!! Selam ... Ops, maaf!"


Aktifitas mereka harus terhenti dengan paksa ketika Arra masuk ke dalam kamar mereka.


"Arra!!" teriak Dom lalu menurunkan Emily dari pangkuannya.


"Maaf, aku tidak melihat apa pun!" Arra memundurkan langkahnya keluar dari kamar tersebut sambil menutup kedua matanya.


BRAK!


Arra menutup pintu kamar itu dengan keras.


"Anak itu benar-benar!!" geram Dom.


***


"Arggh! Mata suciku ternodai!" Arra menangkup wajahnya yang merona dengan kedua telapak tanganya.


"Ya, ampun. Aku kan jadi ingin berciuman juga," keluh Arra sembari berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan tiba-tiba ia mengingat saat mengecup bibir Carlos dua bulan yang lalu.


"Aku pasti sudah gila!"