
Emily seperti narapidana yang baru bebas dari penjara. Ibu hamil itu sangat bahagia saat bisa keluar dari rumah dan menghirup udara kebebasan setelah hampir 2 bulan di kurung di dalam mansion. Meskipun dia nanti malam harus membayar mahal semua ini kepada suaminya.
Mobil mewah Dom melaju membelah jalanan Kota Milan menuju pusat kota. Emily membuka kaca jendela mobil sambil menyembulkan sedikit kepalanya. Menghirup udara segar yang kini memenuhi paru-parunya. Sungguh hal kecil yang sangat ia rindukan.
"Uncle aku ingin ke Sempione Park," pinta Emily kepada suaminya.
"Baiklah." Dom menambah kecepatan mobilnya. "Apa kau tahu My Lily, kalau Sempione Park adalah tempat bertemunya Carlos dan kedua orang tuamu puluhan tahun yang lalu?" tanya Dom tanpa menoleh karena fokus menyetir mobil.
"Benarkah?" Emily seolah tidak percaya akan hal itu, ia menoleh menatap suaminya yang terlihat sangat tampan jika sedang fokus seperti itu.
"Dante pernah bercerita dulu," jawab Dom.
"Kalau begitu aku tidak mau ke sana! Aku takut jika bertemu dengan Carlos!" Emily merubah keinginannya, membuat Dom yang sedang menyetir mobil langsung mengerem mendadak, untung saja di belakang mobil mereka tidak ada pengendara lain.
"Lalu maumu apa?!" Dom jengkel dengan keinginan istrinya, di tambah lagi kepalanya sejak tadi sudah merasa pusing karena mencium udara di luar.
"Sekarang aku ingin ke Kanal," ucap Emily seraya mengedipkan kedua matanya berulang kali dan terlihat menggemaskan di mata Dom.
"Baiklah!" Akhirnya Dom mengalah, memutar balikkan mobilnya menuju Grand Kanal yang letaknya di sudut barat daya Kota Milan.
Emily bertepuk tangan senang, lalu memeluk lengan kekar suaminya.
Sementara itu di Mansion, Arra sedang menangis di ujung anak tangga. Ia sedih karena Emily pergi tidak mengajaknya.
"Hua ... huaa ... ini tidak adil!" Arra menangis sambil menggerakkan kedua kakinya tidak beraturan.
"Sudah jangan menangis!" Black yang bertugas menjaga Arra berusaha menghibur gadis itu.
"Diam kau, Black!" Arra memandang pria yang berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan jengkel.
"Kau rasis sekali!" Black berdecak karena Arra menatap kulitnya yang gelap. "Awas saja kalau one day kau suka dan jatuh cinta denganku!" Black berkata penuh percaya diri sekali.
"Idih!! Nggak akan pernah terjadi! Ingat itu!" Arra mengangkat sedikit dress-nya kemudian membuang ingusnya di sana.
SROTTT
"Iyuh!" Black meringis sambil bergidik jijik.
"Sekarang kamu yang rasis! Karena ini kebiasaan warga +62, tidak ada tisu pakaian pun jadi! Wlekkk!" Arra beranjak sambil menjulurkan lidahnya kepada Black, kemudian ia menaiki anak tangga dengan perasaan kesal luar biasa.
"Ya Tuhan!" Black geleng-geleng kepala melihat tingkah Arra yang super bar-bar. "Jauhkan wanita seperti itu agar tidak jadi jodohku." Doa Black di dalam hati.
***
"Uncle kenapa maskernya tidak di lepas?" tanya Emily yang duduk berseberangan dengan suaminya.
"Kau masih bertanya?!" Dom memutar kedua matanya jengah. Apakah istrinya itu tidak peka jika dia sekarang sedang menahan rasa mual yang sungguh menyiksa.
"Memangnya salah kalau bertanya?!" Emily tidak kalah kesal.
Obrolan mereka terhenti ketika waitres mengantarkan pesanan mereka. Emily dengan semangat menyedot jus jeruknya yang begitu menyegarkan di tenggorokannya, sembari memandang air jernih di kanal yang memantulkan sinar matahari di musim semi itu.
Dom menelan ludahnya kasar saat melihat istrinya begitu menikmati jus jeruk yang terlihat menyegarkan, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Kopi kesukaannya saja seolah tidak menarik di matanya.
"My Lily, berikan jus jeruk itu untukku!" pinta Dom.
"Pesan lagi!" tolak Emily.
"Tapi, aku sangat ingin yang sedang kamu minum itu!" tegas Dom namun terkesan memaksa.
"Baiklah!" Emily pada akhirnya memberikan jus jeruknya sambil tersenyum licik.
Dom berbinar menerimanya, dengan cepat ia meminum jus jeruk yang sudah ada di tangannya.
"Kita impas 'kan? Jadi nanti malam kamu tidak mendapatkan jatahmu!" balas Emily tersenyum jahat, membuat Dom yang sedang meminum jus jeruk sampai tersedak.
"Lily!!!" geram Dom, seraya mengusap bibirnya setelah batuknya mereda.
Emily bukannya takut malah semakin tertawa terbahak.
"Ha ha ha ha."
"Untung saja kamu sedang mengandung, jika tidak, mungkin aku sudah menyeretmu ke hotel terdekat!" Dom meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja dengan kasar, tatapan tajamnya tidak berpaling dari istrinya yang tertawa puas.
"Tertawalah sampai puas! Karena aku tidak akan menyerah atau takut dengan ancamanmu!" ucap Dom lagi, seketika Emily langsung menghentikan tawanya.
"Habislah aku!" batin Emily menangis.
***
Besok Tamat ya 😁😁
Jangan lupa berikan dukungannya ❤❤