Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Panggilan Sayang



Di Milan, Italia. Tepat jam 7 pagi, Dom bersiap berangkat ke kantor, meskipun tangannya masih sakit dan lukanya masih basah.


"Uncle yakin ingin berangkat ke kantor?" tanya Emily cemas, ia mengantarkan suaminya sampai di halaman Mansion sembari membawakan tas suaminya.


"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, lagi pula aku hanya akan memeriksa berkas saja, dan perkerjaan yang lainnya ada asistenku yang handle," jelas Dom kepada istrinya.


Emily hanya bisa menghela nafas kasar, kemudian ia menyerahkan tas yang ia pegang kepada Sopir. Lalu ia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Ternyata sebuah ikat rambut berwarna pink yang ia ambil dari kantong celananya.


"No!" Dom menggeleng pelan, tahu jika ikat rambut itu akan di gunakan untuk mengikat rambutnya yang gondrong.


"Ayolah! Atau kamu akan kehilangan jatahmu!" Emily sudah berani mengancam suaminya.


"Ck! Kau berani mengancamku Nona William!" kesal Dom seraya berdecak kesal, namun ia tetap membalikkan badannya, membelakangi Emily lalu sedikit menurunkan badannya, agar tingginya sejajar dengan istrinya.


Emily tertawa geli, kemudian ia mencakup semua rambut gondrong suaminya menjadi satu dan segera mengikatnya dengan ikat rambut berwarna pink itu.


"Sudah," ucap Emily tersenyum puas, kini tidak akan yang berani melirik suaminya jika memakai ikat rambut berwarna pink itu.


"Ya, thank you," ucap Dom dengan malas seraya berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"Uncle belum menciumku!" protes Emily kepada suaminya.


Dom keluar dari mobil dan menghampiri istrinya, kemudian ia menarik pinggang Emily dan melabuhkan kecupan manis di bibir ranum yang sudah menjadi candunya.


"Sudah puas?!" kesal Dom seraya menatap datar istrinya, lalu kembali memasuki mobilnya.


Emily tersenyum puas sembari melambaikan tangannya ke arah mobil yang di naiki Dom sudah melaju perlahan. Setelah mobil suaminya sudah tidak terlihat, Emily memasuki Mansion dengan langkah gontai, ia kembali sedih karena Arra belum ada kabar sampai saat ini.


"Lily!" Hana berseru sambil berlari kecil dari anak tangga.


"Ada apa, Mom?!" Emily segera berlari menghampiri ibunya yang terlihat panik sambil memegangi ponsel, takut jika ibunya mendapatkan kabar buruk tentang Arra.


Emily menggigit ujung jarinya, ikut panik.


***


Jika di Milan pagi hari, berbeda dengan New York yang masih malam hari.


Arra menatap Carlos yang juga tengah menatapnya dengan sangat tajam. Beberapa detik yang lalu ia mengecup bibir Carlos.


"Berani sekali kau! Jallang!" Carlos mencengkram leher Arra dengan sangat kuat, hingga membuat kedua mata Arra mendelik karena lehernya merasa tercekik.


"Le-lepas!" Arra memukuli tangan Carlos, berusaha untuk melepaskan tangan kekar itu yang semakin mencengkram lehernya dengan kuat.


Dada Arra terasa semakin sesak, pasokan udara di paru-parunya semakin menipis, dan wajahnya yang putih mulus kini terlihat memerah. Kedua manik biru Arra menatap manik tajam itu dengan berkaca-kaca, memohon belas kasihan kepada iblis tampan itu.


Perlahan tangan Carlos mulai mengendur, dan melepaskan leher Arra saat dirinya melihat kedua mata polos tanpa dosa itu berkaca-kaca.


BRUK


Arra terjatuh ke lantai saat Carlos melepaskan cengkraman tangannya di lehernya. Arra terbatuk-batuk seraya menghirup udara dengan sangat rakus.


"Kamu harus tahu batasanmu! SAYANG!" bentak Carlos menggema memenuhi kamar tersebut.


Arra ingin menangis dan juga ingin tertawa karena Carlos membentaknya dengan menekan nama samarannya yaitu 'Sayang'.


***


Mau ketawa tapi takut di slepet Carlos🤣🤣


Jangan lupa dukungannya ya ā¤