
“Dom, aku mempercayakan perusahaan kepadamu. Aku, Black, dan bodyguard yang lainnya akan ke New York untuk mencari keberadaan Arra,” ucap Dante kepada Dom setelah selesai membaca pesan dari Arra.
Meskipun Arra berpesan jika tidak perlu mencarinya, Dante tetap merasa cemas kepada cucunya itu. Apalagi Gery dan Allegra tidak mengetahui masalah ini.
“Aku akan menjalankan tugas dengan baik, Dad,” jawab Dom kepada Dante. Lidahnya terasa geli saat memanggil Dante dengan sebutan ‘Daddy’.
Dante menaikkan sebelah alisnya seraya mencebikkan bibir. Merasa geli juga dengan panggilan Dom.
“Di sini aku juga sudah menyiapkan pengawalan yang ketat. Kamu juga harus menjaga Hana dan juga Emily,” ucap Dante serius dan di angguki oleh Dom dengan mantap.
"Kalau begitu kita harus bersiap, Black!" Dante beranjak dan di ikuti angguki oleh Black.
Dante berjalan menuju kamarnya di ikuti oleh Hana. Sampai di dalam kamar. Hana langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Daddy harus kembali dengan selamat bersama Arra," ucap Hana di sela pelukan tersebut, ia sangat cemas dan takut.
"Do'akan kami agar bisa secepatnya menemukan kebaradaan Arra." Dante membalas pelukan istrinya.
"Do'aku selalu menyertai Daddy," ucap Hana, mengurai pelukan lalu mendongak menatap suaminya yang juga menatapnya.
Dante masih terlihat sangat tampan di matanya meskipun sudah banyak kerutan di wajah dan rambut sudah memutih. Rasa cintanya tidak pernah pudar, justru semakin bertambah besar.
Dante mengusap pipi istrinya dengan lembut, lalu menundukkan kepalanya, melabuhkan ciuman lembut di permukaan bibir Hana yang selalu membuatnya candu.
Hana menyambut ciuman Dante tidak kalah lembut, semuanya masih sama, ciuman itu masih terasa manis dan menggoda, tidak ada yang berubah.
***
Dom berada di dalam kamar bersama Emily. Pria itu sedang menatap istrinya yang sedang menggantikan perban luka di lengannya.
"Aku cemas dengan Arra." Emily bersuara memecah keheningan di kamar itu.
"Aku akan lebih cemas lagi jika kamu yang di culik oleh Carlos." Dom menimpali, seperti biasa pria itu selalu datar dan menyebalkan.
"Aku yakin Arra bisa melindungi dirinya sendiri, karena Arra adalah tipe gadis yang kuat, tidak seperti kamu yang cengeng dan suka membuat masalah," ucap Dom melirik istrinya yang semakin memanyunkan bibir.
"Uncle memuji Arra, tapi kenapa malah mengolokku?! Ini tidak adil, aku juga punya kelebihan!" Emily sangat sewot saat mengatakannya.
"Kelebihan? Apa kelebihanmu?!" ucapan Dom terdengar seperti olokan di telinga Emily.
Sesi mengganti perban luka sudah selesai, Emily membuang perban yang kotor ke tempat sampah, lalu menyemprotkan sanitizer ke telapak tangannya. Kemudian ia berkacak pinggang dan menatap suaminya dengan tajam.
"Uncle tidak tahu kelebihanku?" Emily bertanya dengan nada kesal.
Dom menjawab dengan gelengan kepala, wajahnya sama saja selalu datar tanpa ekspresi.
Emily tersenyum penuh arti, kemudian ia meletakkan kedua tangannya di pundak Dom yang lebar itu. Menundukkan sedikit kepalanya, seraya berbisik dengan sensual di dekat telinga suaminya.
"Jadi kelebihanku adalah, membuatmu puas di atas ranjang," bisik Emily lalu meniup telinga suaminya dengan lembut.
"Sial!" umpat Dom ketika merasakan tubuhnya meremang ketika bisikan Emily terdengar sangat menggoda di telinganya.
"My Lily! Kamu harus bertanggung jawab!" desis Dom, lalu menarik pinggang istrinya dengan tangan kanannya yang tidak terluka.
Uh, My Lily? Apakah itu panggilan kesayangan Dom untuk istrinya?
Manis sekali! Emily menjadi merona di buatnya.
"Uncle lepaskan aku!" rengek Emily, sepertinya ia menyesali karena sudah berani menggoda suaminya yang super strong jika di atas ranjang.
***
Lik, vote, komentar dan kasih Gift seikhlasnya.
Follo IG emak ya @thalindalena