
Dom menyugar rambutnya yang baru selesai di pangkas. Hatinya merasa sedih dan hampa saat rambut gondrongnya sudah tidak ada. Mereka berdua baru saja keluar di tempat pangkas rambut terbaik di Kota itu.
“Wow! Kau jauh lebih muda, Dom!” Black memuji penampilan baru pria tersebut.
“Black! Sejujurnya aku sangat membenci penampilan baruku ini! Tapi, ini semua demi My Lily dan calon bayiku.” Dom mendesah kasar setelah selesai berbicara dengan Black.
“Hei! Kau adalah ayah dan suami yang baik untuk anak dan istrimu karena sudah mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidupmu.” Black menepuk pundak Dom dengan pelan.
Dom tersenyum tipis mendengarnya, kemudian ia mengangguk pelan seraya berkata, “lagi pula rambutku nanti bisa tumbuh lagi.”
Kemudian ia melemparkan kunci mobilnya kepada Black. “Kau yang menyetir!” ketika Black menangkap kunci mobil tersebut.
“Oke!” Black segera membuka pintu mobil untuk Dom, setelah itu baru dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Black mengendarai mobilnya menuju mansion dengan kecepatan pelan. Sedangkan Dom duduk bersandar sambil menatap jalanan Kota Milan pada sore hari itu. Pandangannya tertuju pada gadis yang menjajakan rangkaian bunga ke setiap orang yang melintas.
“Black bisa menepi sebentar? Belikan aku rangkaian bunga lily pada gadis itu.” Dom menunjuk seorang gadis yang terlihat lesu karena tidak ada satu pun yang membeli rangkaian bunganya.
“Rangkaian bunga?” Black menatap pria di sampingnya penuh selidik, pasalnya Dom sangat membenci segala jenis bunga. “Jangan bermain api, Dom!” Black berpikir jika pria datar tanpa ekspresi itu tertarik pada gadis yang berdiri di kanan jalanan.
“Hei!! Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk istriku yang sedang merajuk!! Pantas saja kepalamu botak, karena kau selalu berpikiran buruk!” umpat Dom sekaligus mencibir bodyguard-nya itu.
“Oke ... oke!” Black segera menepikan mobilnya ke sisi kanan, lalu dia segera turun dari mobil dan menghampiri gadis penjual bunga itu.
“Rangkaian bunga lily , Nona,” ucap Black kepada gadis yang sedang tertunduk itu.
Gadis itu mendongak lalu menatap pembeli pertamanya. “Tuan!” seru gadis tersebut yang tidak lain adalah Sonya.
“Akhirnya kita di pertemukan lagi.” Sonya tampak berbinar saat melihat Black yang menolongnya satu bulan yang lalu.
Black mengernyit saat menatap gadis bunga itu yang sok kenal.
Black seketika langsung mengingat, kemudian dia menganggukkan kepala.
“Kau mempunyai kehidupan yang lebih baik sekarang,” ucap Black, sembari menatap sepeda yang ada di dekat Sonya, sepeda itu di jadikan lapak untuk berjualan rangkaian bungnya.
“Semua berkat Anda, Tuan,” ucap Sonya tersenyum manis. “Ah, aku hampir saja lupa, Anda menginginkan bunga lily.” Sonya segera merangkaikan bunga untuk Black.
Tidak membutuhkan waktu lama rangkaian bunga lily sudah selesai.
“Tolong berikan kata-kata indah untuk istri yang sedang merajuk,” pinta Black.
Sonya tersenyum lalu mengangguk, “Istri Anda pasti sangat bahagia mempunyai suami yang tampan dan baik seperti Anda,” puji Sonya seraya menyerahkan rangkaian bunga lily itu kepada Black.
Black hanya tersenyum tipis saja saat mendengar ucapan Sonya, kemudian ia menerima rangkaian bunga tersebut, lalu ia mengambil selembar uang dari dompetnya.
“Terima kasih,” ucap Black seraya menyerahkan uang tersebut akan tetapi di tolak oleh Sonya.
“Ini gratis untuk Anda,” tolak Sonya.
“Ambil saja, ini adalah rezekimu.” Black meletakkan uang tersebut di keranjang sepeda Sonya kemudian dia segera masuk ke dalam mobil.
Sonya mengambil uang tersebut ingin mengembalikannya kepada Black akan tetapi mobil yang di kendarai pria tersebut sudah melaju kencang.
“Kau sepertinya akrab dengan gadis tadi, Black?” tanya Dom sambil menatap rangkaian bunga lily yang ia letakkan di dasboard mobil.
“Ada sebuah insiden yang mempertemukan kami satu bulan yang lalu. Dan yang tadi adalah pertemuan kedua,” jawab Black tanpa menoleh karena dia sedang fokus menyetir mobil.
“Jika kalian bertemu untuk yang ketiga kalinya maka kalian berjodoh.”
“Omong kosong!” Black menyahuti ucapan Dom diiringi dengan decakan sebal.