
Suara tangisan bayi memenuhi setiap sudut ruang operasi. Bayi perempuan lahir sangat cantik dan sehat, tidak ada kekurangan suatu apa pun.
Dom terharu dan juga sangat bahagia saat melihat putrinya kini berada di pelukan istrinya.
"My Lily, dia sangat cantik sepertimu." Dom mengusap pipi bayinya dengan penuh lembutan.
Emily tersenyum menganggapinya. Gadis yang sudah resmi menjadi ibu muda itu meneteskan air mata sembari mengusap pinggung kecil bayinya. Kebahagiaan dan rasa haru bercampur menjadi satu dan membuncah di dalam dada.
"Terima kasih, My Lily." Dom mengecup kening Emily dan tidak hentinya mengucapkan banyak terima kasih pada istrinya.
"Sama-sama, Uncle," jawab Emily tersenyum tipis, dia sudah tidak marah lagi pada suaminy.
"Kenapa masih memanggilku Uncle?!" protes Dom.
"Baiklah, My Dom," jawab Emily tersenyum sambil menatap putri kecilnya yang merasa tenang di dalam dekapannya.
Tidak berselang lama, perawat mengambil bayi kecil itu dari pelukan Emily karena akan segera di mandikan.
Sekaligus memerintahkan Dom untuk keluar dari ruang operasi.
*
*
"Dom, bagaimana? Apakah bayi kalian lahir dengan selamat? Lalu Lily apakah baik-baik saja?" Hana memberondong Dom dengan banyak pertanyaan ketika menantunya itu baru keluar dari ruang operasi.
"Sweetie, tanya satu per satu, Dom jadi bingung mau jawab yang mana dulu." Dante menegur istrinya.
"Tidak apa, Dante. My Lily dan bayi kami selamat. Bayi kami sangat cantik sekali seperti Mommy-nya," jawab Dom tersenyum bahagia.
Dante dan Hana langsung berpelukan sembari mengucap syukur.
Black ikut bahagia lalu menepuk pundak Dom beberapa kali, "selamat Bro! Kau sudah resmi menyandang Hot Daddy," ucap Black.
"Yeah, thank you, Black." Dom memeluk bodyguard-nya itu sesaat.
Hana tertawa bahagia, "cucu kami sudah empat, tidak terasa sekali kalau kami sudah semakin tua. Lalu giliranmu kapan, Black?" ucap Hana pada pria berkepala plontos itu.
"Aku santai, tidak ingin buru-buru," jawab Black tersenyum tipis.
Dante dan Dom berpelukan dan saling menepuk punggung, kedua pria tampan tapi berbeda generasi itu saling mengucapkan selamat dan saling mendoakan.
"Black, carikan perawat terbaik untuk merawat putriku," pinta Dom pada Black.
"Baik, aku akan segera mencarikan babysitter terbaik untuk keponakanku yang cantik," jawab Black, lalu segera berpamitan untuk menjalankan tugasnya.
*
*
Emily dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP.
"Mom, aku tidak menyusuinya," tolak Emily, karena dia merasa kesakitan saat bayinya menghisap pucuk dadanya.
"Lily, Sayang. Memang seperti ini rasanya jika pertama kali menyusui. Di coba sekali lagi ya," bujuk Hana pada putrinya, sambil menggendong cucunya yang terus menangis.
"Tapi, Mom, ini sangat sakit," jawab Emily meneteskan air mata.
Tidak berselang lama, Dom dan Dante masuk ke dalam ruangan tersebut. Dom menenteng goodie bag berwarna biru dan meletakkanya di atas meja ruangan tersebut.
"Jangan di paksa lagi, Sweety. Kami sudah membeli pompa ASI berdasarkan saran doktet jika Lily masih tidak mau menyusui," ucap Dante pada istrinya.
Dom mengeluarkan pompa Asi dari dalam goodie bag tersebut, lalu berjalan mendekati istrinya.
"My Lily, kita pakai cara ini saja ya, aku harap kamu mau karena kasihan anak kita sejak tadi lapar dan kehausan.
"Tapi, sakit tidak?" tanya Emily dengan kedua mata berkaca-kaca. Dia merasa menjadi ibu yang buruk untuk putrinya, tapi bagaimana lagi dirinya tidak tahan dengan rasa sakit itu.
"Aku rasa tidak," jawab Dom.