
Dante murka saat mengetahui jika Arra kabur dari mansion. Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan cucunya yang sangat bandel itu.
Hana dan Emily juga ikut panik, karena Arra begitu nekat. Akan tetapi rasa panik mereka mereda tergantikan dengan rasa lega saat Emily mendapatkan telepon dari Arra.
"Hei! Kalian jangan panik. Aku sedang berada di kafetaria. Aku aman dan tidak terjadi sesuatu apa pun," ucap Arra di seberang sana.
"Apakah kamu sudah gila, Ra! Kamu hampir saja membuat kami semua jantungan!" umpat Emily, kemudian ia mengubah panggilan telepon tersebut menjadi video call, guna memasktikan jika Arra memang baik-baik saja.
"Lihat, aku baik-baik saja," ucap Arra, sembari mengarahkan kamera depannya ke setiap sudut kafetaria.
Emily dan Dante menatap semua yang ada terpampang di layar tersebut. Dan mereka tidak melihat hal yang mencurigakan.
"Black akan ke sana dan jangan membantah!!" tegas Dante lalu segera mematikan sambungan telepon tersebut.
Arra meringis saat penggilan telepon tersebut sudah berakhir. Kemudian ia menatap Carlos yang duduk di sampingnya.
"Pergi karena Black akan ke sini!" Arra berkata ketus kepada Carlos.
"Kalau aku tidak mau?!" Carlos menjawab dengan santai namun raut wajahnya terlihat menyeramkan dan menyebalkan di mata Arra.
"Ehem!" Mike berdehem pelan, mengingatkan Boss-nya agat tetap menjaga wibawa dan arogannya.
"Aku yang akan pergi!" Arra beranjak dari duduknya, melangkah pergi dari kafetaria itu.
"Mike gadis-gadis di keluarga William memang sangat berkualitas!" Carlos berkata sambil beranjak mengikuti Arra.
"Apakah Anda baru saia memuji Nona Sayang?" tanya Mike menatap bingung pada Carlos yang sudah berjalan mendahuluinya.
Arra menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang, benar saja ada dua pria idiot yang mengikutinya.
"Jangan mengikutiku sialan!" umpat Arra dengan kesal, bibirnya mencebik seraya melanjutkan langkahnya lagi dengan cepat.
"Buruk apanya?" Carlos menoleh dan menatap Mike sangat tajam.
"Oh, tidak. Maksudku ini adalah ide yang baik. Ayo ikuti Nona ... Sayang." Lidah Mike terasa gatal saat mengatakan kalimat terakhir.
Black sudah sampai di kafetaria namun tidak menemukan Arra di sana. Kemudian ia bertanya kepada salah satu waitress yang ada di sana.
"Gadis itu tingginya sebahuku. Cantik dan memiliki kulit putih. Jika tersenyum akan ada lesung pipinya sedikit," ucap Black.
"Maaf, aku tidak melihat gadis yang sesuai dengan ciri-ciri yang kau sebutkan." Waitress tersebut langsung pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Sial!" umpat Black, kemudian keluar dari kafetaria dan melanjutkan pencarian.
Arra berjalan terus berjalan menghindari Carlos yang terus mengikutinya. Entah sudah berada ratus meter dirinya berjalan, yang pasti saat ini kakinya sudah merasa sangat pegal.
"Apakah kalian tidak lelah!" Arra menoleh ke belakang dan ternyata Carlos sudah tidak mengikutinya.
"Arra!" teriak Black dari kejauhan. Arra membulatkan kedua matanya, baru saja akan melarikan diri namun Black berhasil mencekal salah satu tangannya.
"Kau benar-benar iblis kecil!" umpat Black lalu membawa Arra dengan paksa.
"Lepaskan aku, Black!!" teriak Arra sambil memukuli lengan Black yang menariknya dengan paksa.
"Aku masih ingin bersenang-senang!" Arra berusaha untuk melepaskan tangan pria tersebut.
****
Vote-nya Bestie jangan lupa ❤❤