
"Tidak! Aku tidak mau!" Emily menarik tangan suaminya yang sedang memasukan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Tidak ada jalan lain, kamu harus ke Indonesia untuk sementara waktu!" tegas Dom menatap istrinya dengan tajam.
Ya, Dante menjelaskan rencananya saat mereka sudah sampai mansion. Dan rencananya itu adalah mengirim Emily ke Indonesia untuk sementara waktu, paling tidak sampai keadaan aman.
"Tapi, aku tidak ingin berpisah dengan Uncle. Aku mohon." Emily menggenggam tangan suaminya dengan erat, seraya menatap Dom dengan tatapan memohon.
Dom melepaskan genggaman tangan istrinya kemudian beralih memegangi kedua bahu istrinya sambil menundukkan sedikit badannya, karena dirinya lebih tinggi dari Emily.
"My Lily, dengarkan aku. Aku memintamu ke Indonesia bukan berarti aku tidak bisa melindungimu. Aku sangat mencintaimu, dan aku tidak ingin kamu terluka." Penjelasannya berakhir dengan mengungkapkan perasaannya kepada istrinya.
Sebuah kata cinta yang selama ini sulit untuk terucap. Tatapan mata Dom yang biasanya tajam kini berubah lembut dan dalam.
"Uncle," lirih Emily saat mendengar ungkapan cinta dari suaminya, meskipun jauh dari kata romantis, akan tetapi mampu membuat jantung Emily berdebar tidak karuan.
"Carlos adalah pria yang sangat berbahaya dan dia bisa melakukan apa saja termasuk menghancurkan mansion ini dalam hitungan detik," jelas Dom kepada istrinya.
"Bukankah Daddy adalah pengusaha berpengaruh di Negara ini? Kenapa tidak memanfaatkan kekuasaannya?" tanya Emily yang kini memajukan langkahnya hingga tubuhnya kini menempel tanpa jarak dengan tubuh suaminya.
"Melawan Mafia bukanlah hal yang mudah, Lily, sekali pun Dante mempunyai kekuasaan," jelas Dom kepada istrinya, yang kini berjinjit dan melabuhkan ciuman di permukaan bibirnya yang tebal.
Emily memejamkan kedua matanya, seraya meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pundak suaminya yang lebar. Ia menyesap bibir suaminya dengan penuh kelembutan.
Ciuman tersebut di sambut Dom dengan penuh gairah. Akan tetapi Emily langsung menarik diri hingga ciuman itu terlepas saat Dom akan menyetuh area sensitifnya.
"Uncle akan merindukan moment seperti ini jika aku berada di Indonesia," ucap Emily seraya mengusap bibir suaminya yang terlihat basah karena ulahnya.
Emily tersenyum tipis saat Dom mengusap pipinya dengan lembut.
Dom menarik tengkuk istrinya, ingin mencium bibir istrinya lagi akan tetapi gerakkannya terhenti saat pintu kamarnya terbuka dari luar.
"Lily apakah kamu sudah sia—" ucapan Arra terhenti saat ia melihat posisi Dom dan Emily sangat intim.
Ah, bodohnya dia, kenapa masuk kamar orang lain tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Arra mengutuki dirinya di dalam hati.
"Ma‐maaf, aku pikir ... Lily aku tunggu di luar!" Arra menjadi canggung sendiri, apa lagi saat melihat tatapan Dom yang sangat tajam tertujun ke arahnya.
"Hah! Bisakah keponakanmu itu di tenggelamkan saja ke dasar samudra!" Dom melepaskan tangannya yang masih bertengger di tengkuk Emily.
Ia merasa sangat kesal dan marah karena suansana romantis yang tercipta antara dirinya dan Emily menjadi buyar karena kedatangan Arra.
"Jangan berkata seperti itu. Meskipun Arra terkadang cerewet dan menyebalkan tapi dia adalah gadis yang baik," jawab Emily, segera menyiapkan pakaiannya, serta barang lainya yang akan ia bawa.
Dom memeluk istrinya dari belakang, merasa berat hati. Mereka akan menjalani hubungan jarak jauh sampai batas waktu yang belum di tentukan.
***
Emily sudah siap dengan kopernya. Begitu pula dengan Arra yang akan menemani Emily ke Indonesia.
Hana memeluk putrinya sambil meneteskan air matanya. Berat rasanya melepaskan Emily pergi. Tapi, sepertinya hanya itu jalan satu-satunya agar putrinya tetap aman.
Di sisi lain, Carlos tersenyum miring saat mendapat kabar dari salah satu mata-matanya, jika Emily akan pergi ke Indonesia untuk menghindarinya.
"Sampai ke lubang semut pun akan aku kejar!!" desis Carlos tersenyum iblis, lalu segera memerintahkan anak buahnya untuk segera menuju Bandara.