
Dante dan anak buahnya sudah sampai di New York setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam menggunakan Jet Pribadi. Mereka yang berjumlah 15 orang mencari hotel terlebih dahulu untuk mereka beristirahat sembari menyusun rencana untuk menyelamatkan Arra.
"Dante, bukankah Arra membawa ponsel? Kita bisa melacak keberadaannya," ucap Black kepada Dante yang sedang memijat kepala sambil bersandar di sofa yang ada di dalam kamar hotel tersebut.
"Ya, kamu benar Black. Kenapa aku tidak memikirkannya," ucap Dante lalu memerintahkan salah satu anak buahnya yang seorang hacker untuk segera melacak keberadaan Arra.
***
Di sisi lain, Arra saat ini sudah berada di rumah mewah Carlos. Ia di sekap di dalam sebuah kamar yang terlihat luas dan mewah, namun tertutup rapat, tidak ada jendela, yang ada hanya ventilasi udara itu pun berukuran sangat kecil.
Tapi sedikit beruntung kedua tangannya sudah tidak di borgol dan lakban di bibirnya sudah di lepas. Jadi ia bisa bergerak dengan bebas.
"Hei!!! Keluarkan aku dari sini!! Sialan!" teriak Arra menggedor pintu kamar tersebut dengan kuat.
"Keluarkan aku!!!" Arra berteriak sekuat tenaga, hingga terdengar sampai luar kamar.
"Huh! Berisik sekali!" umpat Carlos kesal, yang sedang duduk di ruang tengah dengan gaya yang sangat elegant. Ada beberapa pengawal yang berdiri di dekat sofa yang sedang ia duduki.
"Tuan, apakah perlu saya menyumpal mulut gadis itu?" tanya salah satu bodyguard-nya.
"Tidak perlu, biarkan saja dia berteriak hingga suaranya habis!" jawab Carlos dengan datar.
"Baiklah. Saya menggantikan Asisten Anda untuk sementara waktu selama dia menjalani pemulihan dari luka tembak di kakinya. Dan ini adalah jadwal Anda selama di New York," ucap bodyguard tersebut memberikan ponselnya kepada Carlos.
Cosa Nostra yang di pimpin Carlos termasuk sindikat penyelundupan obat-obatan terlarang, dan senjata api ilegal ke berbagai Negara. Tapi, mereka semua berdarah dingin dan tidak segan-segan menyakiti dan membun*h orang yang akan menghalangi jalan mereka. Selain itu, Carlos juga mempunyai perusahaan di New York.
"Oke." Carlos menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya setelah melihat jadwalnya.
"Aku ingin beristirahat!" Carlos beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya yang letaknya ada di lantai atas. Namun langkahnya terhenti di depan kamar Arra, ia tidak mendengar Arra berteriak lagi.
Rasa pensaran tiba-tiba muncul, kemudian ia memanggil salah satu bodyguard-nya untuk membuka pintu kamar tersebut.
CEKLEK
Pintu terbuka dari luar. Carlos memasuki kamar tersebut seraya mengibaskan salah satu tangannya kepada salah satu bodyguard-nya. Bodyguard tersebut mengerti lalu segera keluar kamar tersebut tidak menutup pintunya, lalu berjaga di luar kamar.
Arra duduk di tepian tempat tidur sambil tersenyum tipis, menatap Carlos yang berjalan ke arahnya.
"Baru berpisah beberapa menit tapi kamu sudah sangat merindukan aku?" ucap Arra penuh percaya diri dan terlihat tidak takut sama sekali, padahal di dalam hatinya sudah berdebar tidak karuan dan kedua tangannya berkeringat dingin.
Carlos menatap datar Arra yang duduk seolah menggoda dirinya. "Dasar jallang!" desis Carlos penuh penekanan.
"Iya, tapi jallang ini sangat spesial," jawab Arra seraya beranjak dari duduknya kemudian mendekati Carlos, entah mendapatkan keberanian dari mana dirinya berani mengecup bibir iblis tampan itu.
Cup
***
Cap cip cup kembang kuncup 🤣🤣
Visual Iblis Tampan
Visual Arracelia
Jangan lupa kasih like, vote, komentar dan gift seikhlasnya ya❤