
Black dan Sonya sudah berada di restoran Indonesia. Restoran itu tampak ramai pada pagi hari itu. Restoran tersebut menyajikan berbagai macam kuliner darii Indonesia.
Sonya dan Black duduk berhadapan di salah satu sudut di restoran tersebut. Dua porsi soto betawi menjadi menu sarapan mereka, dan minumnya teh hangat.
“Ah ... ini apa? Aku belum pernah memakannya. Ini terlihat seperti Sup.” Black memperhatikan semangkuk soto betawi yang tersaji di hadapannya.
“Ini soto betawi makanan khas Jakarta. Silahkan di coba, rasanya sangat enak,” ucap Sonya dengan penuh ceria sembari mengangkat sendok yang ada di tangan kanannya.
“Oke.” Black mengambil sendoknya lalu mencicipi soto betawi itu. “Wow! Rasanya sangat enak!” Wajah Black terlihat sangat terkejut saat kuah soto betawi itu lumer di dalam mulutnya.
“Sudah aku duga, kau pasti akan sangat menyukainya.” Sonya tersenyum lebar menanggapinya.
“Sepertinya aku akan sering ke sini untuk mencicipi makanan enak ini.” Black memasukkan kuah soto ke dalam mulutnya lagi.
“Jangan lupa ajak aku!” Sonya menyahut dengan penuh semangat.
“Tapi, kau harus mentraktirku!” Black tersenyum lebar lalu memasukkan sepiring nasi ke dalam mangkok soto tersebut. Dengan penuh semangat pria berkulit gelap itu menyantap soto betawi, tanpa memedulikan Sonya lagi.
“Ya, tidak masalah,” sahut Sonya, lalu fokus pada makanannya.
*
*
Sarapan sudah selesai. Sonya dan Black sekarang berada di kasir untuk membayar makanan mereka.
“Berapa?” tanya Sonya menggunakan bahasa Indonesia kepada kasir yang berjaga.
“20 Euro atau sekitar 300 ribu,” jawab kasir sambil tersenyum menatap Sonya.
Sonya membalas senyuman kasir tampan itu seraya membayar makanan mereka.
Black mendengus kesal saat Sonya tersenyum kepada pemuda yang duduk di balik kasir itu.
“Ayo!” ajak Sonya setelah selesai melakukan pembayaran. Gadis itu sudah keluar dari restoran tersebut akan tetapi Black masih berdiri di depan meja kasir.
“Kenapa kau tersenyum kepadanya?!” tanya Black dengan nada tidak suka.
“Maaf, Tuan,” jawab kasir tersebut seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. “Sekali lagi maafkan saya, karena telah tersenyum kepada kekasih Anda.”
“Lain kali jaga pandanganmu!” Black berkata datar dan dingin, lalu segera keluar dari restoran tersebut.
“Tadi aku bertemu dengan teman lama, dan kami berbincang sebentar,” bohong Black seraya masuk ke dalam mobil, dan diikuti oleh Sonya.
“Apakah temanmu dari Indonesia?” tanya Sonya seraya memakai sabuk pengaman.
Black menggaruk kepala botaknya yang tidak gatal. Kenapa dia menjadi kesal sendiri dan berakhir bohong seperti ini?!
Ini sungguh aneh, pikir Black.
“Black, kenapa diam saja?” tanya Sonya, memiringkan kepalanya, menatap Black yang malah melamun.
“Aku sedang memikirkan sesuatu!” Kan, dia berbohong lagi kepada Sonya. Black merutuki dirinya di dalam hati.
“Memikirkan apa?” tanya Sonya penasaran.
“Emh ... setelah ini kau mau ke mana?” Black malah balik bertanya kepada Sonya, dan hal itu membuat Sonya mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Black yang aneh setelah keluar dari restoran tadi.
Meskipun bingung dengan sikap Black, Sonya tetap menjawab pertanyaan Black dengan senyuman, “aku tidak tahu,” jawab Sonya seraya menaikkan kedua bahunya bersamaan.
“Kalau begitu apakah kau mau ikut denganku?” tanya Black.
“Ke mana?”
“Pergi ke Desa,” jawab Black.
“Desa? Apakah di sini ada Desa?” tanya Sonya dengan tatapan tidak percaya.
“Tentu ada, kita akan menempuh perjalanan semalam 2 jam 30 menit untuk menuju Desa itu. Kamu mau atau tidak?” jawab Black, sekaligus bertanya kepada Sonya.
Sonya tersenyum lalu mengangguk penuh semangat.
“Desa itu bernama Dozza, letaknya tidak jauh dari Kota Bologna. Desa itu adalah desa paling indah di Italia. Kau pasti akan sangat menyukainya.” Black menjelaskan tentang Desa yang akan mereka kunjungi.
Sonya mendengarkan penjelasan Black sembari menikmati perjalanan mereka. “Kau suka pergi ke sana?” tanya Sonya.
“Hampir setiap minggu,” jawab Black.
“Oh, benarkah?”
“Ya, karena aku di besarkan di sana.” Black menjawab sambil tertawa pelan.