Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Bagai Kuda



Emily memanyunkan bibirnya kesal, sembari mengapit selimut di bawah kedua ketiaknya, menatap suaminya yang duduk di tepian tempat tidur sambil merokok.


Mereka baru saja selesai bercinta. Dan Emily yang memimpin permainan hingga suaminya yang strong dia atas ranjang mencapai kepuasan.


Bayangkan saja, ia harus menjadi kuda betina selama hampir satu jam, kedua lututnya kini terasa lemas dan tubuhnya terasa lelah.


"Sekarang aku percaya jika kamu mempunyai kelebihan." Dom berkata setelah menghembuskan asap rokok di dari hidung dan mulutnya. Melirik istrinya yang tampak cemberut sambil menyandarkan punggung di headboard tempat tidur.


Emily mencebik, mengambil bantal lalu melemparkannya ke arah suaminya, tepat mengenai punggung Dom.


Dom menoleh lalu tertawa pelan saat melihat istrinya merajuk.


Emily sejenak terdiam, dan terpaku ketika melihat Dom tertawa untuk pertama kalinya. "Uncle sangat tampan sekali jika tertawa seperti itu." Emily memuji suaminya dengan jujur.


Wajahnya tampak datar dan menyebalkan saja terlihat sangat tampan, apalagi sedang tersenyum itu, ketampanan Dom menjadi meningkat 50 persen. Membuat Emily semakin terpesona dan tidak mampu untuk berpaling dari pesona suaminya yang dingin dan datar itu.


Dom mamasang wajah datar lagi, menghentikan tawanya seraya berdehem pelan saat mendapatkan pujian dari istrinya, kemudian ia menyesap rokoknya yang terselip di antara dua jarinya.


"Ish! Dasar pelit!" Emily mencebik saat Dom kembali datar. "Tidak bisakah Uncle tersenyum untuk istrimu yang paling cantik ini?!" Rasanya ia ingin mencakar wajah suaminya itu.


Dom mematikan bara api yang ada di ujung rokok itu ke permukaan asbak yang terletak di atas nakas. Kemudian ia mendekati istrinya dan duduk di samping Emily.


"Kamu ingin melihatku tersenyum?" tanya Dom menatap istrinya dari samping.


"Bukan mahal, tapi tidak ada yang lucu kenapa aku harus tersenyum." Jawaban Dom terdengar sangat menyebalkan, Emily jadi semakin kesal kepadanya.


Dom menyugar rambut gondrongnya dengan tangan yang tidak terluka, kemudian ia merangkum pundak istrinya, "kecuali jika kamu memberikan aku bayi yang lucu-lucu," jelas Dom.


"Tuan Toretto, apakah Anda mulai kecanduan dengan tubuh istrimu yang sexy ini?" tanya Emily dengan nada sebal, lalu menyibakkan selimutnya dengan cepat seraya naik ke atas pangkuan suaminya.


"Ck! Jangan mulai lagi! Aku bisa membuatmu tidak berdaya meski tanganku sedang sakit!" desis Dom saat Emily menggodanya dengan cara mengelus dada bidangnya.


"Ah, kamu tidak mau mengakuinya?!" Emily menurunkan elusan tangannya ke bawah. Mengelus perut suaminya yang kotak-kotak seperti roti sobek.


"Baiklah, Nona William, aku memang sudah kecanduan dengam tubuhmu ini terlebih lagi aku ingin kamu segera hamil agar Carlos tidak menginginkanmu lagi!" jawab Dom dengan tegas dan lugas, seraya memilin pucuk dada istrinya dengan gemas, lalu memajukan wajahnya dan memasukkan pucuk dada itu ke dalam mulutnya. Menyesap lembut dan menggigit gemas, menimbulkan sensasi yang nikmat tiada terkira bagi Emily.


"Ahhh ... Uncle ...," desah Emily seraya memeluk leher suaminya dan mendongak saat Dom kembali bergairah, mencaplok dua bukit kembarnya bergantian seperti bayi yang kehausan.


Pertempuran ronde kedua pun di mulai. Tapi kali ini Dom yang memimpin permainan.


Tubuh mungil Emily langsung hilang dalam dekapan suaminya yang besar dan gagah perkasa itu. Suara lenguhan dan desaahan mulai terdengar memenuhi kamar tersebut saat Dom bergerak di atas tubuh istrinya dengan perlahan.


***


Bestie jangan lupa dukungannya yak,❤❤