Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Ekstra Part 7



Dante dan Hana pulang ke mansion dengan perasaan tidak karuan karena tidak menemukan Arra. Namun, perasaan mereka kini sedikit lega saat Emily mendapatkan pesan dari Arra.


"Dasar anak kurang ajar!!" Hana untuk pertama kalinya mengumpat, kesal dan marah bercampur saat membaca pesan Arra.


"Anak itu benar-benar keterlaluan!" kini Dante yang gantian mengumpat.


Dom penasaran, lalu menyambar ponsel istrinya yang ada di tangan Dante, lalu membaca pesan tersebut.


"Aku sedang berlibur ke suatu tempat. Jangan mencariku!"


Seperti itu kiranya pesan yang di kirim oleh Arra.


"Dom, lacak keberadaan Arra sekarang juga! Anak itu harus segera di berikan pelajaran!!" perintah Dante kepada menantunya.


Dom mengambil macbook-nya di ruang kerjanya, tidak berselang lama dia kembali lagi di ruang tengah, dan segera melacak Arra menggunakan macbook-nya.


"Pesan ini di kirim satu jam yang lalu dari Bandara," ucap Dom sembari menatap layar macbook-nya dengan tatapan tajam.


"Andai saja aku tidak meninggalkan ponselku di dalam kamar, kita semua pasti bisa menemukan Arra," ucap Emily dengan penuh sesal, seraya mengusap perutnya yang membuncit. Bayinya sejak tadi terus bergerak karena pikirannya berkecamuk. Bayinya seolah merasakan apa yang saat ini di rasakannya.


"Intinya Arra saat ini kabur!" ucap Dante geram, lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah itu. Ia menghennyakkan punggungnya di sandaran sofa dengan kasar, rasa lelah, marah, kecewa, dan kesal menjadi satu dan berkumpul di dalam dadanya.


Bukan hanya Dante yang marah, Hana dan Dom juga tidak kalah marahnya dengan tingkah Arra yang anggap kabur dari rumah.


"Carlos! Aku sudah mengingatkanmu berulang kali jika gadis itu akan menjadi kelemahanmu!!!" Mike berkata tegas kepada Carlos yang duduk di kursinya sembari menikmati wine.


"Kau terlalu takut Mike!" Carlos menjawab dengan santai seraya menyerahkan gelas yang ada di tangannya kepada Mike.


Iblis tampan dengan sejuta pesona itu tersenyum tipis, kemudian beranjak dari duduknya. "Mike saat ini aku merasa lelah dengan dunia hitam. Jadi, bolehkah aku bermain sejenak dengan mainan baruku?!" tanya Carlos dengan nada datar, lalu berjalan menuju kamar yang ada di jet pribadinya itu di mana Arra masih tidak sadarkan diri di sana.


"Kau sedang bermain api, Carl!" Mike bergumam sembari menatap punggung Carlos yang sudah hilang di balik pintu kamar yang ada di sana.


Carlos menatap wajah Arra yang tampak tenang dan damai jika sedang tidur seperti itu.


"Dia sangat manis jika sedang tidur seperti ini." Bibir Carlos tersungging ketika dia baru saja memuji Arra. Satu hal langka yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Iblis tampan itu juga punya hati. Punya rasa cinta, akan tetapi dia harus menyembunyikan perasaannya itu.


Puas memandang wajah Arra yang cantik dan mulus seperti pantat bayi. Salah satu tangan Carlos terulur untuk mengelus pipi gadis itu dengan penuh kelembutan, seolah takut jika dia menggores pipi tirus dan mulus itu.


Kini jari tangannya berhenti di bibir ranum yang terlihat begitu menggoda. Bibir yang selalu mengumpatinya bahkan berani menciumnya.


Carlos tersenyum tipis ketika mengingat semuanya. Namun senyumnya tiba-tiba menghilang dan wajahnya kembali datar saat ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut dari luar.